13

587 98 7
                                        

Eres mío

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading.....

Di sebuah rumah sakit mewah bernama NY Hospital, terdapat sebuah kamar VIP yang biasanya tenang dan nyaman. Namun, hari itu, suasana kamar tersebut berubah drastis. Kaca jendela pecah berserakan di lantai, bersama dengan beling-beling dari berbagai benda yang hancur. Lampu di langit-langit juga pecah, meninggalkan ruangan dalam kegelapan yang suram, hanya diterangi oleh cahaya redup dari luar.

Di tengah kekacauan itu, Freen duduk di sudut ruangan. Wajahnya pucat dan matanya penuh dengan ketakutan. Memeluk lututnya erat-erat, mencoba menenangkan diri di tengah situasi yang mengerikan. Suara langkah kaki terdengar dari luar, membuatnya semakin cemas. Perempuan itu baru saja kehilangan putrinya. Tidak dapat menemukan putrinya sendiri yang membuatnya kehilangan kendali. Dalam kemarahannya, perempuan itu melemparkan segala sesuatu yang ada di dekatnya, tanpa memikirkan akibatnya. Sekarang, perempuan itu hanya bisa menunggu, berharap segera keluar dari mimpi buruk ini.

Tiba-tiba, pintu terbuka dan cahaya terang menyelinap dari celah pintu itu. Namun, Freen kembali melempar-lempar barang, kemarahan dan kesedihannya memuncak. Sebuah benda tajam mengenai seseorang yang baru saja berniat masuk ke dalam, tetapi perempuan itu tidak menghiraukannya. Dengan tenang, perempuan itu mulai menyingkirkan benda-benda tajam, seperti pecahan kaca dan beling yang berserakan di lantai, memastikan tidak ada yang bisa melukai mereka.

Ruangan dengan penerangan yang minimalis, membuat Freen tidak dapat melihat wajah orang itu. Merasa belum puas, Freen melampiaskan kemarahannya pada perempuan itu. Dengan kekuatan yang cukup kuat, Freen mendorong perempuan itu hingga tubuhnya terbentur keras di dinding. Meskipun terluka akibat benda-benda yang dilempar oleh Freen, ditambah dengan benturan, perempuan itu tidak membalas. Satu tangan Freen terangkat diudara, berniat melayangkan pukulan itu. Namun, tangannya ditahan. Dan perlahan pencahayaan dari celah-celah jendela memperlihatkan wajah perempuan itu, membuat Freen terdiam.

"Becky...?"

Air mata mulai mengalir di wajahnya, deras dan tidak terbendung. Setiap tetes air mata yang jatuh mencerminkan rasa bersalah yang mendalam. Freen merasa hancur melihat Becky terluka karena kemarahannya sendiri, terlebih dengan kejadian yang menimpa putri mereka. Becky mendekat, menghapus air mata dari wajah Freen dengan lembut, perempuan itu terisak. Tidak mempedulikan lagi dengan pertanyaan bagaimana Becky yang bisa berada disini, namun pikiran Freen berkalut dengan jawaban apa yang harus perempuan itu berikan tentang putri mereka.

"Lin aman, dia sedang dirawat. Apa kau ingin menemuinya?"

Tanya Becky, membuat Freen terkejut sekaligus tidak percaya. Freen masih ragu, tetapi melihat tatapan Becky, perempuan itu tidak sedang berbohong untuk sekedar menenangkan dirinya. Freen menggangukkan kepalanya, perempuan itu ingin memastikan bahwa perkataan Becky sesuai dengan kenyataan.

"Tapi dengan syarat."

!𝕏𝕏𝕏!

Di sebuah cafe kecil yang nyaman, Becky, Freen, dan Irin duduk di sudut ruangan sambil menikmati secangkir kopi. Cafe itu dihiasi dengan lampu-lampu gantung yang lembut, memberikan cahaya hangat yang menenangkan. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, bercampur dengan wangi kue-kue yang baru keluar dari oven. Di luar, hujan rintik-rintik turun, menciptakan irama yang menenangkan di atas atap cafe. Jendela-jendela besar di kafe itu memperlihatkan pemandangan jalanan yang basah, dengan orang-orang yang berlalu-lalang sambil memegang payung warna-warni.

LIVING WITH A KILLER [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang