Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading.....
Di pagi yang cerah, ketika matahari mulai menyinari kota Bangkok, Freen membuka kedua matanya perlahan. Sudah beberapa hari perempuan itu terbaring di tempat tidur karena demam tinggi. Namun, pagi ini terasa berbeda. Tubuhnya terasa lebih ringan, dan kepalanya tidak lagi berdenyut. Freen bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela, membuka tirai dan membiarkan sinar matahari masuk, menghangatkan ruangan. Di luar, hiruk-pikuk kota Bangkok mulai terdengar, dengan suara klakson kendaraan dan kicauan burung yang bersahutan.
Freen menghirup udara segar pagi ini dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Perempuan itu merentangkan tangannya, menyambut hangatnya cahaya matahari. Freen menoleh, memperhatikan kamarnya yang kosong, melangkahkan kakinya keluar. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, hingga berhenti ketika menemukan sosok yang sedang perempuan itu cari.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Good morning, sudah merasa membaik?"
Suara Becky terdengar sedikit serak, dengan wajah yang terlihat kelelahan. Namun, paras cantik perempuan itu tidak berkurang sedikit pun. Kedua mata Freen tidak bisa lepas dari tatapan Becky, seakan perempuan itu sedang menghipnotisnya. Becky bangkit, melangkah menuju ke arah dapur. Perempuan itu menyeduh susu, seperti biasa. Menyodorkan segelas susu hangat itu kepada Freen yang masih terdiam di tempat, bahkan membeku begitu senyum tipis tercetak di wajah Becky.
"Jika kau sudah membaik, mari menjemput Lin."
Freen menggelengkan kepalanya pelan, perempuan itu belum sembuh total. Sedangkan Becky, menggangukkan kepalanya mengerti. Perempuan itu mengambil blazer berwarna hitam, membuat Freen keheranan.
"Ingin keluar? Mencari udara, atau makanan?"
Lagi, Freen menggeleng pelan. Kini Becky yang dibuat kebingungan oleh Freen, perempuan itu tidak mengerti. Satu alis Becky terangkat, menatap Freen yang juga sedang menatapnya. Tangan Becky terangkat, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Becky tidak bisa memaksa Freen, terlebih perempuan itu belum sembuh.