Ren memijat pelipisnya pelan. Sejenak ia menatap jam dinding yang berdetak, menunjukkan pukul 12 tengah malam. Suasana di sekitarnya sangatlah hening, hanya helaan napasnya sendiri yang terdengar.
Ren menghempaskan punggungnya menyandar di kursi itu. Ia menatap ponselnya yang tadinya berlayar hitam polos, kini berubah menyala.
Segera saja ia menyambar ponsel itu. Rupanya panggilan itu berasal dari Minhae, sahabatnya.
"Ya, ada apa?" tanya Ren langsung, tanpa basa-basi. Suara di sebrangnya terdengar menghela napas.
"Ren, masalah apa lagi yang kau buat? Kudengar kau terdaftar di kantor polisi Gyeongzhou," balas Minhae datar, dibalas Ren dengan dengusan malasnya.
"Begitulah. Aku terlibat masalah dengan Hyerin. Tapi tenang saja, kau sudah membersihkan namaku, kan?"
"Bukan aku. Tapi Eagle Eyes. Mereka mendapat laporan dari sana."
"Eagle Eyes?" ulang Ren, dan sesaat kemudian matanya terbelalak. "Apa kau bilang? Eagle Eyes?! Sial. Aku bisa dipecat, Minhae."
"Ya," jawab Minhae, "bersiaplah, Park Ryeon. Karirmu akanー"
Baru saja ia ingin mendengar ucapan Minhae, ponsel Ren yang berwarna putih itu berdering di atas meja. Ponsel yang biasa digunakannya untuk bertugas. Bukan ponsel biasa.
"Sial," gumam Ren pelan, "Minhae, aku putus dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa."
"Hey, tapー"
Tanpa memperdulikan ucapan Minhae, Ren segera menutup telepon di ponsel pribadinya dan meraih ponsel lainnya yang berwarna putih. Sejenak ia menghela napas, hingga akhirnya memenekan tombol hijau di sana.
"Ya, Park Ryeon di sini," ucap Ren terlebih dahulu.
"Harap sebutkan sandi," suara itu berasal dari sistem komunikasi otomatis Eagle Eyes.
"XC1802."
"Ah, halo, Ren. Akhirnya aku bisa menghubungimu," sapa suara seorang pria di sebrang sana.
"Ya. Jadi, ada apa? Apa soal aku yang terdaftar di kantor polisi? Aku bisa jelaskanー"
"Tidak, tidak. Aku mengerti soal itu. Hanya saja ... aku penasaran akan rencanamu," setelahnya, sosok itu tertawa pelan. Suaranya terdengar ringan dan bersahabat.
"Semua aku lakukan untuk menemukan Dongjin," balas Ren yang tiba-tiba suaranya terdengar dingin, menusuk. Matanya ikut menatap tajam ke arah jendela yang berada di hadapannya. Jendela lebar yang tertutup sebuah tirai transparan yang tipis.
Terdengar helaan napas. "Ren, jangan libatkan dendammu dalam misi ini," imbuhnya, "ini misi serius. Maksudku, kau yakin ingin membawa gadis itu dalam misi ini? Aku bahkan tak yakin kau akan mendapat informasi berarti darinya."
Hening mendominasi. Ren memilih diam, namun tangan kanannya tetap menahan ponsel kecil itu di samping telinganya. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, namun kali ini pikirannya terbagi dua. Pertama, karena ucapan bijak Arata barusan. Dan kedua, sosok berjaket hitam dengan topi hitam yang menatap tajam ke jendelanya.
"Dia ada di sini," balas Ren pelan, sangat tidak berkaitan dengan apa yang Ken Arata katakan barusan.
"Hah? Siapa?"
"Anak Lee Dongjin."
Dari balik dinding bercat putih itu, Hyerin menatap punggung Ren tajam. Meski setajam itu, Ren tidak menyadarinya. Dia sudah berada di sana sejak beberapa menit lalu. Setidaknya satu menit sebelum Ren memutus panggilannya dengan Minhae.
Kedua tangannya terkepal erat di sisi kanan-kiri tubuh. Mata biru tuanya mendadak berubah warna. Secercah warna merah pekat terhias di sana.
"Hyerin? Apa yang kau lakukan di situ?"
Hyerin terperanjat. Ia tak sadar bahwa kini Ren berdiri di hadapannya. Apakah bayangan masa lalu kelamnya itu membawa pergi kesadarannya?
"Dan ... matamu itu kenapa? Agak ... memerah," ucap Ren seraya mengerutkan kening. Bukan, yang dilihatnya kali ini bukan memerah akibat infeksi yang biasa orang lain alami. Kali ini, jauh berbeda dari itu.
Segera Hyerin menggeleng cepat. Mimik wajahnya yang tadinya mengeras berganti datar, dingin. Manik matanya kembali berwarna biru tua biasa.
Keheningan dan cahaya ruangan yang remang-remang menghias suasana keduanya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga akhirnya Ren menawarkan sesuatu.
"Kau pasti lapar. Aku akan menelpon pizza. Dan setelah ini, tidurlah. Besok kita akan mencari pakaian yang layak untukmu," ujar Ren datar seraya berlalu ke dapur. Hyerin menatap gaun putih tipis yang membalut tubuhnya. Baju yang biasa dia gunakan di rumah sakit. Baju itu kini lusuh dan kotor, persis seperti pakaian tunawisma.
***
Hyerin membalik berbagai baju yang tergantung di toko itu. Beberapa baju anak remaja zaman sekarang yang bagus dan keren. Hanya saja, tak satu pun yang menarik perhatiannya. Karena mereka sudah dua jam berkeliling di mal ini, dan Hyerin juga sudah membeli beberapa pasang baju.
"Kurasa ini berlebihan," gumam Hyerin pelan. Ren yang berdiri di belakangnya lantas menoleh. Meski terdengar bagai bisikan, Ren dapat mendengarnya.
"Kau yakin?" Ren menatap beberapa kantong belajaan yang dibawanya, "tapi ini masih kurang."
"Sudahlah," Hyerin terdengar jengah, "aku yakin ... mungkin."
Ren memutar bola mata malas. "Kau bilang yakin namun akhir kalimatmu adalah 'mungkin'. Yang benar saja, Kim Hyerin."
Pada akhirnya, mereka tak membeli baju lagi. Meski Ren kerap kali menwarkan, Hyerin akan langsung menggeleng pelan dan berjalan selangkah di depan Ren.
Karena Hyerin tahu, ini bukanlah bagian dari rencana pemuda itu.
Tiba-tiba saja, Hyerin berhenti melangkah. Membuat Ren yang berjalan di belakangnya menabrak punggungnya secara tak sengaja. Meski tubuh Ren lebih tinggi dari Hyerin, tetap saja itu mengesalkan.
"Ada apa?" tanya Ren yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Pemuda itu akhirnya memasukkan benda tipis itu ke dalam kantong celananya.
Hyerin berbalik. Ekspresinya seperti biasa, datar. Sepertinya gadis itu tak punya asupan ekspresi. Bahkan Ren sendiri tak pernah melihat Hyerin tertawa, atau sekadar tersenyum kecil.
"Aku yakin kau sangat ingin tahu soal dia," Hyerin mengucapkannya dengan menekankan kata 'dia'.
Tanpa diberitahu pun, Ren tahu bahwa yang dimaksud Hyerin adalah targetnya.
Apakah Hyerin akan benar-benar memberitahunya soal orang itu?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Ten Chapters in Mystery
Mystery / ThrillerDalam sepuluh bab, penulis akan menceritakan kisah Park Ryeon, seorang agen mata-mata Korea Selatan yang ditugaskan untuk mencari mafia buronan seluruh dunia; Lee Dong Jin. Lewat perantara Kim Hye Rin, ia berusaha keras mengorek informasi soal mafia...
