Multimedia : Park Sojin as Jung Min Hae
***
"Kau akan mati di tanganku. Kau tidak boleh hidup, Katazura."
Hyerin menekuk kedua lutut, memejamkan mata seerat mungkin, menutup kedua telinga dengan telapak tangannya.
Bayangan masa lalu kian hari kian menghantuinya dalam kesendirian. Dinginnya pendingin ruangan seakan menusuk tulangnya di sela-sela sepinya kamar.
Tragedi itu. Tragedi yang membuatnya berubah, berubah nama, sifat, bahkan mungkin juga dengan fisik dan jiwanya.
Ia sadar ia tidak sehat. Tapi bukan berarti dia gila. Hyerin hanya takut pada masa lalunya. Dan kali ini, ia kembali dihadapkan dengan kenyataan seram itu semenjak mengenal Park Ryeon, sosok yang menyeretnya dalam masalah ini.
Ia ingin pergi; tapi ia tak tahu ke mana arah tujuannya. Hidupnya saat ini bagaikan tanda baca semicolon, tidak pada posisi titik namun juga tidak pada posisi koma.
Tok tok tok!
"Hyerin, aku akan pergi sebentar. Aku akan kembali, umm ... nanti malam. Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Nomorku ada di atas nakasmu, mengerti?" suara Ren dari luar membuat Hyerin membuka mata, menatap kusen pintu yang memisahkannya dengan Ren saat ini.
Setelah mendengar derap langkah kaki Ren yang samar menjauh, Hyerin mengembuskan napasnya pelan. Ia menatap nakas kecil di sebelah kasurnya, ada secarik kertas di atas sana.
Tak lama setelah itu, Hyerin mendengar suara pintu utama suite room itu tertutup. Tanda bahwa Ren telah benar-benar pergi.
Lagi, Hyerin menenggelamkan wajahnya. Gadis itu terisak, karena ia takut. Dulu, dua tahun sendiri seakan membuatnya lupa akan rasa sakit dan ketakutan, namun sejak Ren menariknya keluar ... semua adegan itu kembali terputar di otaknya.
"Kau tahu apa yang membuat manusia begitu lemah?"
"Kematian?"
"Tidak. Ketakutan."
***
Ren menepikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah bergaya Mediteranian minimalis. Rumah yang terlihat bagaikan istana itu cukup terang dan ramai. Hal itu terlihat dari banyaknya orang yang berdiri di taman depannya, beberapa di antara mereka saling bercengkrama sembari memegang gelas.
Setelah mengunci mobilnya, pemuda itu merapikan jas dan berjalan ke dalam rumah. Tak perlu menunggu lama, pandangannya langsung bertubrukan dengan mata hitam oriental milik Minhae.
Setelahnya, Minhae tampak kegirangan dan berjalan cepat ke arah Ren. Sejujurnya, Minhae terlihat cantik dengan dress putih selutut yang membalut tubuhnya. Apalagi ornamen mahkota yang menghias kepalanya membuatnya terlihat bagaikan sang ratu.
"Ren!" seru Minhae, lalu memeluk pemuda itu tanpa ragu. Awalnya Ren terlihat cukup kaget, namun ia pun memasang ekspresi datar.
"Memanggilku ke dalam sebuah pesta? Jung Min Hae, ini tidak semudah yang kau bayangkan," gerutu Ren bersamaan dengan Minhae yang mengurai pelukannya.
Minhae hanya tertawa pelan, sambil mengamit lengan kiri Ren yang bebas. Mereka tampak bagaikan sepasang kekasih sekarang.
"Bagaimana dengan Hyerin? Apa gadis itu baik-baik saja?"
Ren menatap Minhae sebentar, lalu menghela napas berat.
"Yah ... begitulah. Setidaknya ia jauh lebih baik dari sebelum aku pertama kali melihatnya," balas Ren sambil mengangkat kedua bahu.
"Tapi kau tidak terluka lagi, 'kan?"
"Tentu saja," Ren meraih segelas minuman Minhae berikan, "terima kasih."
"Sama-sama. Jadi, apa sudah ada perkembangan dari Dong Jin? Aku sama sekali belum dapat perintah soal dia," ungkap Minhae seraya duduk di kursi para tamu.
"Tidak ada yang berarti. Tapi kurasa, saat ini dia sedang merencakan sebuah langkah," balas Ren lalu menyesap sampanyenya.
Minhae mengerutkan kening. Benarkah? Berarti ... gadis itu bisa saja diculik nantinya? pikirnya, namun ia memilih untuk diam dan menikmati minumannya.
***
Tok! Tok!
Hyerin terperanjat. Gadis itu membulatkan mata sebentar. Indra pendengarannya menangkap suatu sinyal bahwa ada seseorang yang mengetuk pintu suite room dengan kasar.
Ia memeluk dirinya sendiri. Siapa itu? Mengapa ketukannya terdengar kasar?
Hyerin bangkit dari duduknya, menatap kusen pintu kamarnya dengan pandangan campur aduk. Ia mulai merasa takut sekarang. Ren tidak mungkin mengetuk pintu seperti itu--terlebih dia seharusnya bisa masuk sendiri tanpa harus mengetuk.
Ia menatap sekilas secarik kertas yang Ren tinggalkan untuknya. Haruskah ia menelepon Ren hanya untuk meminta perlindungan?
Tok! Tok!
Sosok itu nampaknya tak ingin menunggu lama. Ketukannya makin kasar--seakan menuntut.
Mengepalkan tangan, Hyerin memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan melihat siapa makhluk yang mengetuk itu.
Cklek!
"Maaf, kau siapa?" tanyanya pelan. Tersirat nada takut dan antisipasi di sana. Di hadapannya, berdiri seorang pria aneh dengan setelan hitam--wajahnya bahkan terlihat samar berkat bayangan dari topinya.
"Jangan teriak," desisnya membuat kerutan di dahi Hyerin. Belum sempat Hyerin membalas, mulutnya dibekap sebuah sapu tangan.
"Nnnngggー!"
***
"Minhae! Sadarlah," Ren menepuk pipi mulus gadis itu pelan. Terlihat raut wajah khawatir di paras tampannya. Semua tamu undangan sudah pulang, sekarang tengah malam pun tiba.
Minhae meminum sampanye lebih banyak dari biasanya. Ren sangat tahu bahwa sahabatnya itu takkan kuat minum. Bahkan sebelumnya pun, ia telah memperingati Minhae. Namun gadis itu seakan tak peduli.
Minhae membuka kelopak matanya pelan, terlihat bola mata hitamnya memandang Ren kosong. Ren segera menghela napas lega.
"Minhae, maafkan aku. Tapi aku harus pulang sekarang," ucapnya berdiri dari sofa. Minhae nampak kebingungan, ia mengedarkan pandangnya ke sekeliling ruangan.
Baru saja hendak melangkah, Ren merasa lengan kirinya digenggam seseorang. Saat hendak menoleh, Minhae justru menarik Ren hingga Ren terjatuh dan menindihnya.
"Ren ... jangan pergi dulu. Tetaplah di sini ...," gumam Minhae pelan, dengan wajah memohon.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Ten Chapters in Mystery
Misteri / ThrillerDalam sepuluh bab, penulis akan menceritakan kisah Park Ryeon, seorang agen mata-mata Korea Selatan yang ditugaskan untuk mencari mafia buronan seluruh dunia; Lee Dong Jin. Lewat perantara Kim Hye Rin, ia berusaha keras mengorek informasi soal mafia...
