Multimedia : Kim Seol Hyun as Kim Hyerin
***
"Kau yakin akan membawanya?"
Ren mengangguk mantap. Gadis berambut pirang di hadapannya mengernyitkan dahi, memandang pemuda itu tak percaya.
"Ren, kau harus tahu, dia bukanlah gadis normal. Dia sakit jiwa! Kita tak mungkin bekerja sama dengan gadis seperti itu. Lihat saja, ia bahkan tak pernah mengucap satu kata pun! Bagaimana bisa kita mengambil informasi tentang Dongjin darinya?" Gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap Ren sangsi.
"Minhae, sudahlah. Dia pernah kenal dengan pria tua itu," gumam Ren lalu membawa tas punggungnya. Kali ini ia mengenakan pakaian santai, bukan jas seperti kemarin.
"Pernah. Per-nah," ulang gadis yang disebut Minhae seraya mengikuti langkah Ren dari belakang. "Pernah, Ren. Tandanya, ia tak mau mengenalnya lagi. Aku yakin gadis itu punya masa lalu kelam terhadap Dongjin. Yah, siapa pun benci dia, bukan?"
"Cukup. Ini adalah misiku, Minhae," tukas Ren duduk di kursi makan. Ia mengambil sehelai roti tawar lalu mengolesinya dengan selai nanas. Ia menyantap sarapan kecilnya tanpa mengindahkan tatapan aneh dari Minhaeーgadis yang kini duduk di hadapannya.
"Terserah. Aku sudah memperingatimu. Aku hanya tidak mau kau mati tertusuk pisaunya seperti sebulan lalu."
Ren kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Hyerin. Ya, saat gadis itu tiba-tiba saja menusuk lengannya dengan sebilah pisau tajam. Namun sesaat setelahnya, Hyerin justru terduduk di lantai dan menangis kencang. Ia terlihat begitu frustrasi saat itu.
Untunglah luka yang didapatnya tidak begitu parah, meski cukup dalam. Setidaknya pisau itu tidak melukai organ dalamnya. Hanya saja, Ren masih penasaran akan apa yang Hyerin pikirkan hingga gadis itu menusuknya secara tiba-tiba. Pertahanan diri? Entahlah, rasanya itu terlalu berlebihan.
Dan selain itu, Ren juga berpikir bahwa Hyerin bukanlah gadis pengidap penyakit kejiwaan. Gadis itu hanya depresi.
"Ren!"
Seruan Minhae menyentaknya dari lamunan. Ia kembali sadar, pagi ini ia masih berada di meja makan apartemennya, dengan Minhae duduk di depannya.
Minhae sendiri ialah teman Ren sejak kecil. Mereka selalu bersama di mana pun, kapan pun. Minhae juga merupakan bagian dari organisasi tempat Ren bekerja. Gadis itu memegang kendali dalam bidang penyadapan elektronik dan komunikasi.
"Ya?" Ren telah menghabiskan sarapannya, bangkit dari duduk dan menyambangi tas punggungnya itu.
"Semoga berhasil," ucap Minhae ketika mereka berada di depan pintu. Ren memandang sahabatnya itu seraya tersenyum, lalu memeluknya erat.
"Ya. Pasti. Ryeon tidak akan mengenal yang namanya kegagalan," bisiknya pelan lalu mengurai pelukannya. Minhae meninju lengannya pelan, sesuatu yang sering dilakukannya ketika Ren menjadi pemuda yang sok keren.
"Cepat pulang," titah Minhae lagi, lalu tersenyum kecil. Rasanya cukup sulit untuk berpisah dengan sahabat yang selalu bersama dengannya sejak kecil.
Yah, Ren akan pergi jauh. Itulah yang dikatakannya beberapa hari lalu. Bisa jauh saja, bisa juga sangat jauh.
Ren mengangguk. Ia keluar dari apatermennya, menatap Minhae sesaat. Masih dengan senyuman kecil, ia berjalan menjauh meninggalkan apartemen. Dan Minhae.
Misinya dimulai hari ini.
***
Cklek!
"Kau ikut denganku hari ini."
Ren meletakkan kunci mobilnya di atas meja belajar yang berdebu itu. Ia mengangkat tubuh kecil Hyerin, menggendongnya a la bridal style tanpa ragu. Setelahnya, ia mengambil kembali kunci mobil itu dan menutup pintu kamar dengan kakinya.
Hening. Hyerin tak sedikit pun membalas, atau bergerak. Gadis itu bagaikan patung manekin yang rela dibawa ke mana saja. Ia bagaikan orang bisu yang juga memiliki kelumpuhan dalam bergerak. Seperti boneka.
Setelah membuka pintu mobil dan mendudukkannya di kursi depan, Ren menutup pintu samping dan beralih ke kursi pengemudi. Ia melepas jaket kulit hitamnya dan meletakkannya di jok belakang.
Ren menghela napas. Ia menatap Hyerin yang memandang kosong kaca depan. Gadis itu terduduk kaku, dengan mulut masih membisu.
"Hyerin, aku butuh bantuanmu," Ren berbalik, memegang kedua bahu gadis itu. Membuatnya menatap balik.
"Aku yakin kau kenal dengan ... Lee Dongjin?" Ren menelisik ekspresi lawan bicaranya. Sayang, tak ada hal berarti yang ditampilkan. Rupanya Hyerin masih memandang datar.
"Yah kau tahu, dia seorang mafia dunia buronan internasional. Dan ... aku butuh informasinya. Apapun yang kau tahu tentang dia, tolong beritahu aku."
Masih diam. Hyerin justru menyandarkan punggungnya, memandang kosong kaca jendela sampingnya. Ren kembali menghela napas, mau tak mau dia harus melakukannya.
"Aku butuh bantuanmu, Azusa."
Tangan Hyerin terkepal erat. Pandangan gadis itu tak lagi kosong, kini terpancar amarah dari sana. Ia menatap Ren, menatapnya tajam seperti pisau.
"Jangan panggil aku begitu," desis Hyerin dengan nada yang sangat pelan.
"Boleh aku bertanya? Apa yang membuatmu tak mau bicara?" Ren mengembangkan senyumnya, seraya menyalakan mesin mobil dan menyalakan pendingin udara.
"Aku hanya berpikir ...," Hyerin menggantungkan ucapannya, membuat Ren menghentikan kegiatannya dan menatap gadis itu intens. Hyerin masih memandang kaca jendela di sampingnya, namun tidak sedatar tadi. Seakan ruhnya telah kembali.
"Apa salahnya menjadi orang bisu? Mengapa dengan menjadi seorang silent reader, mereka mengganggapku gila?" lanjut Hyerin tiba-tiba menatap Ren. Mata birunya tampak berkaca, ada genangan air di pelupuk matanya. "Bahkan temanmu itu. Ia tak pernah bertemu denganku, tapi mengapa ia langsung mengambil kesimpulan bahwa aku gila?"
Ren tertegun. Ini pertama kalinya Hyerin bicara sepanjang ini padanya. Apalagi ... gadis itu kini terisak pelan. Apakah sosok Hyerin yang lama telah kembali?
Tunggu. Bagaimana bisa Hyerin tahu Minhae tadi menyebutnya gila? Mereka bahkan tinggal di tempat yang berjauhan. Dan apa tadi ... silent reader?
"Silent reader? Apa maksudmu?" tanya Ren menyuarakan pikirannya, lalu menatap jam digital yang tertera di layar radionya. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Pantas saja banyak orang lalu-lalang melintasi mobilnya. Mereka tengah mencari makan siang.
Hyerin diam. Gadis itu menyeka air matanya, lalu kembali memandangi jendela dengan wajah datar. Ah, kembalilah Hyerin pendiam seperti dulu.
"Baiklah, mungkin sekarang bukan saat yang tepat. Tapi sekarang, kita punya misi yang lebih serius," ucap Ren memasukkan gigi untuk menjalankan mobil Porsche-nya.
"Aku tahu kau takkan menjawabku, tapi kau tidak tuli. Kita akan mencari Dongjin. Aku yakin kau punya informasi serius tentang pria tua itu," lanjut Ren lalu mengendarai mobilnya dalam keheningan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Ten Chapters in Mystery
Mistério / SuspenseDalam sepuluh bab, penulis akan menceritakan kisah Park Ryeon, seorang agen mata-mata Korea Selatan yang ditugaskan untuk mencari mafia buronan seluruh dunia; Lee Dong Jin. Lewat perantara Kim Hye Rin, ia berusaha keras mengorek informasi soal mafia...
