8. Memorable Scenes

304 36 0
                                        

"Sebelum kita baku tembak," Taejinーatau Ryuuseiーmenyeringai. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari saku jas abu-abunya, lalu mengarahkannya ke hadapan Ren yang hanya mampu berdiri kaku.

"Aku ingin menjelaskan banyak hal padamu. Setidaknya, sebelum kau mati, kau tahu kebenaran dari kematian orangtuamu."

Ren mengepalkan tangan. "Lakukanlah, kau sialan! Memangnya kau tahu apa soal itu?" Sesaat setelahnya Ren menyeringai, "bukankah saat itu terjadi, kau masih tidak sadarkan diri?"

Taejin berdecih pelan. Namun ia tak berniat untuk membalas ucapan Ren.

"Kematian orangtuamu bukanlah murni perbuatan Pak Tua itu," ungkapnya pelan. Taejin memandang semen datar yang dipijaknya, "Minhae-lah satu-satunya orang yang harusnya kau salahkan."

Ren mengerutkan kening. "Minhae?" Ia terkekeh, "jangan sembarang bicara. Dia sahabatku, dia yang menolongku di saat sulit seperti itu!"

"Aku prihatin dengan kebodohanmu, Ryeon. Harusnya kau sadar, gadis yang kau sebut sahabat itu sudah menjebakmu ke sini," Taejin tertawa pelan, lalu kembali mendatarkan ekspresinya.

"... dan ayahnya adalah orang yang membuat mobil orangtuamu jatuh ke jurang. Itu bukan murni perbuatan Dongjin yang menjebak ayahmu dan menjebloskannya ke penjara," lanjut Taejin seraya menelisik ekspresi dari lawan bicaranya.

"Pembohong," desis Ren. Meski begitu, ia tak bisa menampik atau memberi bukti bahwa ucapan Taejin murni kebohongan. Ia sendiri pun minim informasi saat itu.

Yang ia tahu bagaimana kecelakaan berlangsung, ayahnya dan Dongjin menjalin kerjasama antar dua perusahaan. Namun Dongjin menjebak ayahnya dan membuat perusahaanya bangkrut. Setelahnya, ayahnya harus saling kejar dengan polisi karena jebakan Dongjin.

Naasnya, mobil yang digunakan ayah dan ibunya saat dikejar polisi itu masuk ke jurang. Keduanya meninggal di tempat karena mobil langsung terbakar.

Ren memejamkan mata. Rasa nyeri kembali hinggap di hatinya. Salah satu alasan mengapa ia menjadi agen mata-mata di Korea ialah untuk membalaskan dendamnya pada mafia licik itu.

"Terserah," suara Taejin seakan membuatnya kembali pada kenyataan. "Dongjin memberitahuku soal itu tiga hari setelah aku bangun. Ayahnya Minhae menabrak mobil ayahmu karena dendam."

"Tiga hari?" ulang Ren menyatukan alisnya, "bukankah saat itu ... kau tak ingat apapun? Ia melakukan eksperimen pada tubuhmu hingga kau tak ingat apapun, 'kan?"

"Berhenti berkomentar soal itu. Tugasku sudah selesai untuk memberitahumu tentang kebenarannya. Sekarang, jangan halangi aku untuk membunuh sahabatmu," balas Taejin lalu berbalik meninggalkan Ren sendirian di ruang bawah tanah.

Ayahnya Minhae? Benarkah? Lalu, mengapa ia melakukannya? tanya Ren membatin.

***

"Kenapa? Bukankah wanita plastik itu sudah membuatmu sengsara? Seharusnya kau senang, Azusa," Minhae meletakkan kapak yang digunakannya ke tanah.

Napas Hyerin tersengal-sengal. Lagi. Lagi, ia harus melihat adegan pembunuhan yang persis dengan apa yang dia pernah lihat.

Bayang masa lalunya kembali memghantuinya. Kepalanya seakan ingin pecah, adegan tatkala ayahnya dibunuh oleh Lee Dong Jin kembali membekas di sana.

"Kau tentu ingat, dia yang membuatmu kehilangan figur seorang kakak," suara Minhae membuat Hyerin kembali ke kenyataan.

Dia ingat itu. Kejadian tujuh tahun silam. Hanya dia yang mengetahui kebenarannya.

"Jadi, kau harusnya senang, Katazura Azusa. Dendammu terbalaskan," lanjut Minhae menyeringai.

"Aku tidak punya dendam dengannya," balas Hyerin dingin. Meski ia pertama kali melihat ibu tirinya sejak dua tahun berlalu ... namun ia tak berniat untuk membunuh wanita itu. Meski wanita itu sangat berubah dari sejak mereka berpisah, Hyerin langsung tahu bahwa wanita berparas cantik itu benar-benar ibu tirinya.

Hyerin telah kehilangan ibu kandungnya sejak ia berusia 12 tahun. Sekarang, ia kehilangan ibu tirinya.

Yang tersisa sebagai keluarganya hanyalah satu orang; kakaknya. Itu pun jika mereka masih dapat bertemu.

"Di mana Dongjin?" Hyerin memecah kesunyian di ruangan bercahaya remang itu. Minhae menoleh ke arahnya dengan menaikkan sebelah alis.

"Dia sudahー"

"Cukup, Jung Min Hae," potong suara seorang pria. Kedua gadis itu menaruh perhatian ke sumber suara.

Minhae melebarkan senyumnya. "Taejin! Aku menunggumu! Aku sudah menyelesaikan tugasku," Minhae mendekat ke arah pemuda yang baru muncul dari balik pintu besi itu.

Ia tersenyum lembut. "Tenanglah, aku akan memberikanmu itu. Sabar sebentar."

Hyerin terbelalak. Ia menatap sosok itu nanar. Ia tak lagi peduli jika kedua tangannya ini akan putus karena terlalu lama menahan beban tubuhnya. Fokusnya hanya bergantung pada seseorang; dia.

"Kak Ryuusei?"

***

Ten Chapters in MysteryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang