24. Genderang Perang

16 1 0
                                        

Zia mematut dirinya di cermin. Polesan make-up simpel membuat wajahnya semakin cantik, hijab pashmina merah muda menggambarkan suasana hatinya yang tengah diselimuti kasmaran. Zia mengenakan baju terbaiknya dengan binar bahagia membayangkan akan menghabiskan waktu berharganya bersama Radit hari ini.

"Cantik banget, mau ke mana?" tanya Arum, kakak sepupu Zia yang sudah tinggal serumah menemani Zia.

Sambil merapikan hijab Zia menjawab, "Mau jalan sama temen." Dia tersenyum simpul.

"Kakak ada sesuatu loh buat kamu."

Zia menatap Arum. "Oya? Apa Kak?"

Arum tersenyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari tangannya yang bersembunyi di balik punggung.

"Tadaaa! Barakallah fii umrik, happy birthday!" ucap Arum sembari mengacungkan slice cake cokelat yang dia bawa.

Zia tak menduga sama sekali. Dia sangat riang menerima kue itu. "Kok Kak Arum tahu?"

"Gak sengaja lihat tanggal yang dilingkari di kalender itu," jelas Arum menunjuk pada kalender yang tergantung di kamar Zia.

"Oh..." kata Zia masih dengan senyum lebarnya. Rasanya senang sekali ada yang perhatian dengannya. Seketika kerinduan dengan Sang Ayah kembali menyusup, apakah ayahnya lupa hari ini Zia berulang tahun? Apakah hari ini ayahnya masih tak ada kabar juga?

"Kenapa tiba-tiba murung?" tanya Arum.

"Keingat Ayah."

Arum menepuk pundak Zia. "Terus berdoa ya, Kakak juga ikut doain, semoga Om Ghandi segera ada kabar."

Zia mengangguk. "Aamiin."

****

Zia duduk di sofa ruang tamu dengan gelisah. Filmnya tayang setengah jam lagi, namun Radit tak jua datang menjemputnya, padahal Zia sudah siap sejak satu jam yang lalu. Mereka memang janjian akan datang lebih awal, Zia ingin ditemani Radit menjelajah mall terlebih dahulu untuk bersenang-senang bersama.

Zia mengirimkan banyak chat menanyakan keberadaan Radit, namun cowok itu tidak bisa dihubungi, nomornya tidak aktif. Overthinking segera menyerang Zia.

"Kenapa belum berangkat?" tanya Arum heran.

Zia cemberut. "Temenku gak aktif, gak tahu kenapa dia jadi telat banget gini, aku khawatir dia kenapa-kenapa."

"Temen kamu cewek apa cowok?"

"Cowok," jawab Zia. Tiba-tiba notifikasi ponsel berbunyi. Zia lekas melihat handphone-nya. Akhirnya Radit aktif dan membalas chat-nya.

Radit :
Maaf Zia gue telat, ada urusan penting tiba-tiba
Gue gak bisa jemput lo sekarang
Lo berangkat duluan aja ke bioskop, nanti gue nyusul kalo urusannya udah selesai, kita ketemuan di sana langsung

Setelah membaca isi pesan Radit, Zia langsung berdiri, dia berpamitan pada Arum dan melesat keluar rumah menuju motornya.

****

Lima menit lagi film dimulai. Zia sudah berada di dalam ruangan bioskop, dia duduk sendiri sementara bangku di sampingnya masih kosong. Nomor Radit aktif, tetapi cowok itu sepertinya jauh dari ponsel sehingga tidak mengangkat panggilan Zia berkali-kali.

Perasaan Zia gundah gulana memikirkan Radit. Dia takut Radit mengingkari janjinya, namun Zia meyakinkan diri, dia sudah mengenal Radit cukup baik, cowok itu bukan tipe orang yang mudah melanggar kesepakatan, bahkan Radit sangat disiplin. Urusannya pastilah sangat penting. Namun tetap saja, Zia gelisah, matanya semakin memanas saat film mulai diputar.

Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang