33. Lepas Kangen

14 1 0
                                        

Siap-siap mental membaca part ini

Dan ada baiknya vote dulu sebelum baca ☺

Terima kasih

****

Zia tersenyum sumeringah begitu sup ayam buatannya telah matang. Gadis berambut panjang itu segera membawanya ke ruang tengah, tempat di mana Sang Ayah sudah menata piring dan gelas yang diisi air putih.

"Wanginya," puji Pak Ghandi yang duduk lesehan di atas lantai beralas karpet hitam putih tepat menghadap televisi.

"Cobain, Yah," ujar Zia saat menaruh semangkuk sup itu di depan Pak Ghandi.

Pria paruh baya dengan kaos putih itu mengambil sendok, lalu mencicipi masakan Sang Anak. Seketika matanya membulat. "Mirip buatan Ibu."

Kedua mata Zia berbinar. "Beneran?"

Pak Ghandi menyuap lagi sambil mengangguk. "Iya, persis banget. Jadi kangen sama Ibu kamu."

Zia terseyum simpul. "Aku juga, aku kangen Ibu tiap hari," ucapnya. "Seandainya Ibu masih ada...."

Suasana jadi muram karena mereka mengenang kembali sosok Ibunya Zia.

"Sudah, jangan sedih-sedihan lagi, Ibu sekarang pasti senang banget kalau tahu kita udah akur lagi," ujar Pak Ghandi menghibur Zia.

Gadis bermata indah itu mengangguki ucapan Sang Ayah. "Iya, Yah. Mending kita makan sekarang, biar cepat jalan-jalan."

Zia senang sekali hari ini akan menikmati liburan berdua bersama ayahnya, persis seperti waktu Zia kecil dulu. Arum kemarin memilih pulang ikut ayahnya yang sempat mampir mengunjungi Pak Ghandi untuk melihat kondisinya. Arum ingin Zia menghabiskan lebih banyak momen yang terelwatkan dengan Pak Ghandi.

"Kita mau jalan-jalan ke mana?" tanya Pak Ghandi sebelum mengucap Bismillah dan mulai menyantap makanannya.

"Ke Monas! Kita udah lamaaaa banget ga ke monas, dulu sering pas sama Ibu," tutur Zia bersemangat.

"Oke, tapi kamu yang bawa motornya, ya, tangan Ayah masih sakit."

"Siap!"

Zia bahagia sekali, tak disangka segala situasi buruk yang kemarin begitu berat Zia lalui, kini menjadi momen indah yang seolah telah mengganjar semua rasa sakitnya.

****

Lucu rasanya, sepanjang jalan Zia tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa. Dirinya yang berbadan kecil membonceng ayahnya yang besar dengan motor matic itu. Ayahnya cerewet sekali, menegur Zia ini itu. 'Jangan ngebut, hati-hati, lampu send, awas ada orang,' semua ditegur.

"Ayah ih aku udah jago bawa motor. Udah punya SIM," ucap Zia mengeraskan suara sambil sedikit memiringkan kepalanya ke arah belakang.

"Hati-hati, jangan tolah-toleh, nanti gak seimbang. Ayah gak mau anak Ayah satu-satunya jatuh, terus sakit lagi. Fokus aja ke depan, kita hampir sampai."

"Iya, iya!" Zia berdecak kecil, tapi tersenyum pula setelahnya.

Sesampainya di taman monas, Zia menatap ke sekeliling dengan binar bahagia. Gadis dengan outfit modisnya bertema merah muda lengkap dengan hijab pashmina itu langsung berselfie ria dengan latar tugu monas di belakangnya. Ya, Zia kembali berhijab, seperti dirinya yang dulu, terlebih lagi Radit lebih suka dirinya berhijab, Zia juga merasa lebih nyaman seperti ini.

"Duh Ayah malu, kamu aja." keluh Pak Ghandi saat Zia mengajak berselfie.

"Kenapa malu sih, dulu Ayah narsis, foto kita berdua lebih banyak daripada foto aku sama Ibu. Ibu malah dulu yang jadi tukang fotoin," cerocos Zia memaksa agar Pak Ghandi tak menjauh.

Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang