36. Pilihan Berat

18 2 0
                                        

Benar-benar satu minggu penuh sejak kematian ayahnya, Zia tidak hadir ke sekolah. Butuh waktu baginya untuk bangkit dari keterpurukan yang menyiksa batin. Merelakan jelas tak semudah membalikkan telapak tangan.

Hari ini, Zia memutuskan untuk bersekolah kembali. Dia menyematkan peniti pada hijab segitiganya, kemudian seperti biasa menyilangkan kedua ujung yang menjuntai itu ke bahunya.

"Kok hijabnya dibegituin?"

Suara Arum muncul tiba-tiba, Zia menoleh pada pintu kamarnya yang terbuka, Arum rupanya datang dengan membawakan sebuah bekal.

"Aku biasa gini juga, Kak. Ada yang salah?" tanya Zia santai. "Itu bekal, ya?" Matanya berfokus pada box merah muda di tangan Arum.

Arum mengangguk, lalu memberikannya pada Zia. "Sempetin sarapan dulu sebelum upacara," pesannya.

"Oke terima kasih buanyaaak!" ucap Zia agak lebay. Pagi ini dia tidak sempat menyiapkan sarapan karena terburu-buru untuk berangkat lebih awal.

"Sama-sama. Tapi itu hijabnya dibetulin dulu coba," tegur Arum lagi.

"Apa yang salah sih?" bingung Zia menatap cermin.

"Berhijab yang benar itu menutup dada, Zia. Jangan dibuka kayak gitu."

"Kayak gini?" Zia menjuntaikan lagi kedua ujung hijabnya.

Arum tersenyum. "Nah cakep. Lain kali pakai ciput juga biar rambutnya gak keluar-keluar."

"Kak Arum mulai cerwet lagi deh," dumel Zia sambil memasukkan bekal ke dalam tasnya.

"Cerewet demi kebaikan, itu tanda sayang tau."

"Iya deh yang paling sayang sama aku," jawab Zia kemudian menggendong tasnya di pundak.

Mata awas Arum menatap lebih intens lagi pada penampilan Zia, pada lengan seragamnya yang sebenarnya panjang, namun digulung.

"Lengan bajunya dibenerin juga dong, biar lebih rapi," ucapnya.

Zia menatap penampilannya pada cermin. "Maksudnya jangan digulung? Ih mana bisa, kelihatan cupu yang ada."

"Tapi pergelangan tangan itu masih termasuk aurat loh."

Gadis berseragam SMA itu manyun mendengar ucapan Arum, hatinya masih terasa sangat berat untuk menuruti semua peraturan Arum sekaligus. "Tapi jelek kalo gak diginiin, aku biasa kayak gini." Zia menghela napas sejenak. "Kapan-kapan deh aku benerin, sekarang mau ngebiasain dari hijab menutup dada dulu aja," lanjutnya.

Arum memaklumi Zia butuh proses dalam hijrahnya, tak bisa dipaksakan juga, takutnya nanti Zia malah tertekan dan langsung menyerah. Arum terus mendoakan semoga Zia bisa segera menutup aurat dengan benar.

"Yaudah kalo gitu. Tapi sesuatu yang baik itu lebih baik disegerakan sih," kata Arum.

"Iyaa, yang jelas sekarang aku harus segera nyampe sekolah, nanti telat lagi upacara. Aku pamit Kak, Assalamualaikum," ucap Zia sembari bergegas pergi.

****

Di bawah terik mata hari yang menyala-nyala di pagi senin ini, mata Radit berbinar saat mendapati kehadiran Zia. Gadis itu sudah kembali tampil berhijab ke sekolah, dia tampak lebih baik daripada saat mereka terakhir bertemu dua hari yang lalu. Radit beberapa kali mampir ke rumah Zia dengan dalih kebetulan lewat, padahal kenyataannya memang dia merasakan rindu yang amat berat.

Radit berjalan melewati banyak orang, lalu menghampiri Zia yang bersiap untuk baris, gadis itu paling senang berada di barisan belakang yang ternaungi pohon. Seolah posisi barisan itu sudah paten menjadi milik Zia, semua tak ada yang menentangnya meski ingin juga menempati lokasi strategis itu. Zia memang tipikal orang yang mendominasi.

Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang