Radit menunggu Zia, dia menatap mata gadis di hadapannya itu dengan binar penuh harapan. "Lo mau 'kan?"
Pikiran Zia menggelayut. Dia sulit sekali untuk menjawab. Pasti akan sangat menyakitkan apabila dia menyia-nyiakan kesempatan ini, Radit pun akan sangat terluka karenanya.
"Gue...." Zia mengigit bibir bawahnya, keraguan itu sangat mengusiknya.
Ucapan Zia yang menggantung membuat Radit berdebar. Dia tahu, pasti Zia tak mungkin menolak, sebab sedari awal Zia lah yang lebih dulu menyatakan cinta padanya dan begitu ngotot mengajak Radit berpacaran. Momen ini adalah yang sangat dia tunggu.
Menatap mata Radit yang penuh harap, Zia merasa tidak sanggup. Zia rasa, dia harus menerimanya, mana mungkin bisa ditolak. Saat hati Zia akhirnya mulai mendapati keyakinan, sekelebat bayangan wajah Sang Ayah tiba-tiba muncul. Tatapan sayu pria itu membuat Zia mematung. Dia kembali teringat pada pesan itu, pesan Sang Ayah agar dirinya jangan mengikuti jejak langkah yang salah.
Kepala Zia tertunduk lemah, rasanya dia kehilangan keberanian untuk menatap mata Radit.
"Maaf Radit... gue... gue gak bisa," ucap Zia lirih, tanpa sadar, setitik air mata lolos jatuh di pipinya.
Radit membulatkan mata saat mendengarnya, dia terkejut bukan main, jawaban Zia sangat di luar ekspektasinya. Dia yakin sebelum ini dia tak berbuat salah apapun, dua hari yang lalu mereka semakin akrab merajut cerita indah, lalu kenapa Zia tiba-tiba begini?
Radit berpura-pura terkekeh. "Lo lagi bercanda?"
Zia masih tertunduk, dia menggeleng lemah. "Gue gak bisa jadi pacar lo, Dit, maaf...."
Reaksi semua orang yang melihat, sama seperti Radit, kaget sekaligus bertanya-tanya.
"Kenapa? Kenapa gak bisa? Gue ada salah, ya sama lo?" tanya Radit menatap Zia lebih dalam.
"Lo gak ada salah sama sekali, lo baik banget, tapi maaf Radit, gue gak bisa," jawab Zia membalas tatapan Radit.
"Huuuu!"
Sorakan mulai membahana membuat Zia merasa tak enak sekaligus terpojok.
"Alasannya apa? Gue harus tahu alasannya. Lo jangan permainin perasaan gue, Zia. Lo yang memulai semua ini, sekarang gue udah jatuh cinta sama lo, itu 'kan yang selalu lo inginkan? Terus, apa maksud lo tiba-tiba bersikap kayak gini?"
Kata-kata Radit terdengar tegas meluncur, membuat perasaan Zia tercabik-cabik.
"Gue udah memutuskan ini, Radit. Gue mulai sekarang, gak mau pacaran lagi," jelas suara Zia terdengar berat.
"Mau lo apa sih, Zia?" Suara Fiona menyela, gadis itu berdiri dan menatap Zia penuh kekesalan. Dia merasa sikap Zia benar-benar menyebalkan. Bukan mudah dia harus mendorong mundur perasaannya demi kebahagiaan Zia yang baru saja merasakan pahitnya kehilangan. Fiona memilih mengalah karena tak tega pada derita yang barusan mendera sahabatnya itu, Fiona sudah mengikhlaskan Radit karena dia tahu Radit telah jatuh cinta pada Zia, bukan padanya. Tertatih Fiona menata hati dan berpura-pura baik-baik saja demi kebahagiaan Zia, namun sikap Zia malah seperti ini.
Zia agak terperanjat mendengar suara Fiona yang keras dan tajam.
"Lo mau bikin drama apa lagi?!"
Radit tak menyela, dia pun sulit mengatur deru perasaannya yang kini terasa remuk ditikam kecewa karena sikap Zia.
"Gue gak mau bikin drama apapun."
"Terus apa maksud lo? Kemarin lo ngejar-ngejar Radit segitunya, hubungan kita bahkan sempat rusak gara-gara itu, terus sekarang apa maksudnya lo nolak Radit di saat dia udah memilih lo dan gue udah susah payah buat ngerelain? Lo sengaja ya mau mempermainkan perasaan orang?!" Fiona melayangkan tatapan mengintimidasinya, dia sudah kepalang emosi dengan sikap semena-mena dan egois Zia yang terlalu mengakar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)
Teen Fiction#karya 3 "Mengapa cinta bagiku justru berlawanan dari maknanya?" Sahabat Kanzia bunuh diri gara-gara depresi diputuskan pacarnya. Tak lama setelahnya, pacar Kanzia justru kepergok menyelingkuhinya. Awalnya Kanzia berpikir untuk menyusul saja sang sa...
