35. Sadar

18 1 0
                                        

Sudah seminggu berlalu semenjak kepergian Sang Ayah. Selama itu pula Zia tak pernah absen mengunjungi makam itu. Zia seolah merasa tak bisa jauh dari Sang Ayah, masih banyak hal yang ingin dia ceritakan, masih banyak cerita yang ingin dia ukir dengan pria yang mempunyai senyum hangat itu.

Setiap kali mengunjungi makam Sang Ayah, Zia selalu terngiang-ngiang pada hari terakhir mereka bersama. Entah kenapa, Zia baru menyadari, ada banyak pesan penting yang Ayahnya tinggalkan sehingga setiap kali Zia merenung, seolah selalu ada saja teguran yang menyusup yang membuatnya tersadar kalau dirinya selama ini telah melaukan kesalahan besar yang mungkin membuat ayahnya tidak senang bila dia tak berhenti.

Hari ini Arum ikut dengan Zia pergi mengunjungi makam. Semenjak hari duka itu, Arum dengan mantap memilih untuk tinggal bersama di rumah Zia sebagaimana yang sudah dilalui beberapa waktu sebelum Pak Ghandi datang. Tadinya keluarga Arum membujuk Zia untuk tinggal di rumah mereka, namun Zia tetap keras tidak mau meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya, Zia bahkan dengan berani membantah dan meyakinkan semua orang kalau dia mampu menghidupi dirinya sendiri.

Orang tua Arum memaklumi sikap Zia, gadis itu saat ini sedang sangat terpuruk, gejolak emosinya kadang tak menentu. Beruntungnya saat Arum menawarkan diri untuk tinggal satu atap dengan Zia, gadis itu tidak menolak. Orang tua Arum bersama kerabat-kerabat lain juga bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Zia, terutama untuk makan dan biaya sekolahnya.

Meski kadang sikap Zia arogan dan kasar, tapi jauh dari lubuk hatinya yang terdalam dia berterima kasih pada semua keluarganya yang peduli kepadanya, terlebih pada Arum yang setia menjadi tempatnya berbagi cerita.

Hubungan Zia dengan Airin maupun Fiona entah kenapa merenggang, bukan karena kedua sahabatnya itu tidak peduli, hanya saja Zia yang merasa kurang berminat dengan mereka. Pada Fiona, Zia agak meragukan ketulusannya, perasaan itu masih mengakar sejak dia tahu Fiona menghianatinya. Meski telah memaafkan, tetap saja, Zia tak bisa seterbuka dahulu. Pada Airin, Zia merasa kurang senang mendengar saran-sarannya. Zia mulai menyadari, selama ini, Airin sering memberikan sugesti negatif pada pola pikirnya. Airin gadis yang cenderung bebas dalam pergaulan, melihat dari penampilannya saja semua orang bisa menilai bagaimana sosoknya, bicaranya juga blak-blak-an dan sering mengumpat, dari Airin lah Zia sering tertular.

Lalu tentang Radit, cowok itu akhir-akhir ini lebih peduli padanya. Radit sering menanyakan kabar Zia dan secara terbuka menawarkan diri apabila Zia butuh teman. Dua kali dalam seminggu ini Zia dan Radit bertemu, cowok itu datang ke rumah untuk memastikan kondisi Zia baik-baik saja.

"Lo kenapa masih belum masuk sekolah?" tanya Radit yang duduk berhadapan dengan Zia di sofa ruang tamu. Pintu terbuka lebar, Arum juga ada di ruang tengah, sedang menghadap laptop menghadiri rapat melalui panggilan video.

"Emang gue terlihat udah baik-baik aja sekarang?" balas Zia santai.

Radit menatap Zia lekat, lalu menggeleng. "Pasti berat buat lo."

Zia menyandarkan punggungnya lemas, kemudian mengangguk lemah. "Banget, gue masih syok."

"Lo mau cari angin di luar gak? Cuaca lagi cerah, siapa tahu bisa bikin suasana hati lo membaik."

Mendengar penuturan Radit, Zia sedikit tak percaya, dia bisa melihat lagi sosok Radit yang dia kenal dahulu, yang selalu ceria dan peduli padanya.

"Emang mau ke mana?" tanya Zia kurang bersemangat. Memang, jiwa raganya saat ini masih hancur, rasanya masih susah payah untuk dirangkai kembali.

Melihat Zia yang tak bersemangat, Radit inisiatif meraih lengan gadis itu.

Zia terperanjat, dia reflek menarik lengannya. Radit juga agak kaget dengan penolakan Zia. Mereka sama-sama mematung dengan netra yang beradu.

Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang