39. Pelik

11 1 0
                                        

Bukan hal yang mudah untuk masuk ke rumah megah ini. Namun untung saja satpam dan Bi Norma yang merupakan asisten rumah tangga sudah mengenal Selina sebagai pacar Ardan, karena itu Selina, juga Papa dan Mamanya diperbolehkan bertandang untuk menemui kedua orang tua Ardan.

"Mohon maaf, kalian siapa, ya? Ada keperluan apa kemari?" tanya Pak Yudha, diikuti Sang Istri dari belakang, karena Bi Norma bilang ada tamu yang merupakan teman Ardan datang bersama orang tuanya.

Pak Hartono selangkah maju. "Saya ingin membicarakan hal penting kepada orang tua pacar anak saya." Terdengar ketegasan dari ucapannya.

"Anak ini pacarnya Ardan? Bukannya pacar Ardan itu Zia?" heran wanita berambut lurus itu, Bu Neli hanya pernah diperkenalkan pada Zia.

"Saya pacar Ardan setelah Ardan putus sama Zia. Tapi, Zia juga akan kesini, Bu, dia masih di perjalanan. Ada hal penting yang mau kami bicarakan," jelas Selina berusaha tenang meski debaran jantungnya sudah berpompa tak menentu.

Bu Neli dan Pak Yudha bertatapan bingung dengan pertanyaan yang sama dalam benak, Sepenting apa memangnya?

"Saya tidak punya banyak waktu, Pak. Tapi akan saya luangkan buat bicara sebentar. Silakan, kita bicara di dalam," ucap Pak Yuda lebih dulu masuk ke dalam.

Bu Neli berpamitan untuk pergi sebentar. "Tadi Ardannya masih tidur, sebentar saya panggilkan."

Setelah semuanya duduk di sofa ruang tamu yang luas itu, Pak Yudha menatap Pak Hartono lebih intens. "Ingin membicarakan apa, Pak?"

"Saya ke sini bukan untuk membuang-buang waktu Anda. Maka dari itu saya akan langsung bicara ke intinya. Tujuan saya ke sini adalah untuk meminta pertanggungjawaban anak Anda yang telah menghamili anak saya." Kata-kata Pak Hartono meluncur tegas, tersirat jelas rona kemarahan di wajahnya.

Pak Yudha membulatkan mata saat mendengarnya. "Apa-apaan, Pak? Anda tiba-tiba datang ke sini lalu menuduh anak saya menghamili anak Bapak? Memangnya ada buktinya? Jangan sembarangan menuduh, Pak. Saya bisa laporkan Anda atas tuduhan pencemaran nama baik!"

Ardan dan Bu Neli yang baru datang pun sontak mematung mendengar ucapan penuh ketegasan yang meluncur dari mulut Pak Yudha.

Ardan menatap Selina dengan tatapan mengancamnya. Dia sudah memperingatkan Selina jangan memberi tahu siapapun. Dua hari yang lalu mereka juga sudah bertemu. Selina meminta tanggung jawab, namun Ardan sudah menegaskan kalau dia tidak akan bertanggungjawab untuk apapun. Dia menyuruh Selina menggugurkan kandungannya dan mengancam akan menyebarkan video itu apabila Selina tidak menurutinya. Namun apa yang dilakukan gadis itu sekarang? Apa dia sudah gila? pikir Ardan.

Ardan semakin tercengang ketika papanya Selina berdiri dan menunjuknya dengan tatapan menakutkan, selayaknya pistol yang mengarah tepat ke wajahnya dan pelatuknya siap ditarik saat itu juga.

"Dia! Dia menyimpan buktinya!" ucap Pak Hartono keras, dia sangat marah saat melihat wajah Ardan.

"Dia sengaja mempengaruhi Selina supaya mau tidur sama dia. Dia juga merekamnya, lalu memanfaatkan rekaman itu untuk memeras Selina. Dia!" Pak Hartono tak tahan, dia melangkah cepat menghampiri Ardan lalu menarik kerah anak lelaki itu hingga membuatnya kesusahan bernapas.

"Om ampun Om!" pekik Ardan.

Pak Yudha tak terima, dia mendorong kasar Pak Hartono yang sudah berani bermain fisik. "Anda kalau menyakiti anak saya, akan saya laporkan polisi sekarang juga!"

Selina sudah menangis tersedu-sedu dalam rangkulan Sang Ibu di sampingnya. Bu Erika menatap khawatir pada suaminya yang terdorong hampir terjatuh.

Ardan berusaha mengatur napasnya. Dia sangat takut saat melihat api amarah ayah Selina.

Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang