32. Datang

15 1 0
                                        

Radit membelikan Zia air mineral, mereka berdua duduk di depan teras toko swalayan samping sekolah.

"Minum dulu," ujar Radit membukakan botol itu. Zia masih sesenggukan, Radit paham pasti dia sangat syok dan ketakutan.

Zia mencoba minum sedikit, kemudian dia mengatur napas agar lebih tenang.

"Tenang, sekarang lo sama gue," ucap Radit seraya menyentuh tangan Zia, memberikan kehangatan.

Dari bibir Zia terukir senyum tipis. "Makasih," ucapnya lirih sambil tertunduk.

Radit menatap Zia dengan perasaan bersalahnya yang semakin berkecamuk. "Zia, gue bener-bener minta maaf soal yang waktu itu, gue gak bermaksud nyakitin lo."

Mendengar ucapan tulus dan mata bening penuh harap itu, hati Zia tersentuh. Dia mengangguk. "Iya, gue udah maafin." Zia mencoba mengatur napasnya, sebab suara beratnya masih bercampur sesenggukan yang sulit berhenti. "Tapi... tapi kenapa lo sampai semarah itu ke gue? Gue kaget..," keluh Zia lirih.

Radit semakin tidak tega melihat Zia, pasti gadis itu sangat terluka karenanya.

"Gue juga kaget waktu itu, gue gak nyangka lo bakal lepas hijab."

"Kenapa memangnya? Gue jelek?" Zia menatap Radit dengan mata sembab dan memelas seperti anak kecil, sejujurnya sangat menggemaskan di mata Radit.

Radit mengusap puncak kepala gadis itu. "Lo cantik, rambut lo bagus, tapi..."

"Tapi apa?" desak Zia karena Radit menggantungkan ucapannya. Radit hendak melepas tangannya, namun Zia menahannya, dia merasa nyaman tangan cowok itu ada di kepalanya, mengelusnya lembut seperti itu. "Biar aja kayak gini terus."

"Nanti gue yang pegel."

Zia cemberut saat membiarkan Radit menurunkan lagi tangannya. "Terus tadi gimana? Lanjutin, tapi apa?"

Radit mengulas senyum tipis. "Tapi lebih baik tetap ditutup aja kayak sebelumnya. Gue lebih suka begitu, Allah pasti lebih suka begitu juga."

Zia terenyuh saat mendengarnya. Dia tertunduk. "Kata lo bagus, tapi kenapa lebih suka ditutup? Nanti lo ga bisa lihat, masa cuma Fiona yang bisa pamerin rambutnya?"

"Gak semua yang bagus itu harus dilihat semua orang. Sesuatu yang bagus dan exclusif lebih mahal kan dari pada sesuatu yang bagus tapi pasaran? Cewek yang bisa nyimpen dan jaga harta berharganya dengan baik itu lebih mahal nilai dirinya, hanya orang-orang exclusif yang bisa melihat keindahannya."

Zia termangu, dia mencoba mencerna ucapan Radit dengan baik.

"Berhijab lagi, ya? Tutup rapat-rapat, jangan biarin orang-orang mudah melihat lo sembarangan."

Tatapan Radit semakin fokus pada netra hitam milik Zia. "Tapi jangan jadiin gue alasan, ya? Mau lo milih tetap lepas, atau balik berhijab lagi, jangan jadiin gue alasan. Fokus karena patuh sama Allah aja. Gue cuma manusia, hari ini mungkin gue baik sama lo, tapi gak tahu apa yang bakal terjadi besok, mungkin gue bakal ngecewain lo lagi."

Bulir air mata kembali menetes di pelupuk mata Zia. "Kalo gini gimana gue gak makin sayang sama lo, Radit."

"Heh kok malah nangis lagi." Radit mengusap air mata di pipi Zia.

"Makasih banyak buat semuanya. Terutama yang tadi. Gue gak tahu gimana nasib gue kalo lo gak datang." Zia mengucap syukur ribuan kali karena berhasil selamat, dan Ardan tak sempat menyentuhnya.

"Oya soal itu, kenapa Ardan gangguin lo lagi?"

Zia menghela napas. "Dia nagih hutang ke gue. Gue gak tahu kalo biaya yang dia keluarin selama kita pacaran ternyata dia hitung dan sekarang dia nagih pengen dibalikin semuanya. Mana jumlahnya banyak banget, gue gak mampu bayar, dia marah dan jadi begitu," cerita Zia. "Padahal dulu Ardan gak kayak gitu, gue juga bingung, kenapa dia sekarang beubah drastis?"

Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang