34. Sendiri Lagi

13 1 0
                                        

Siapin tisu buat part ini 😢

****

Rinai air mata tak dapat berhenti merembes membasahi pipi Zia. Hatinya hancur lebur, dunia yang dipijakinya seolah runtuh tak lagi berbentuk. Zia sulit memercayai apa yang terjadi, Zia terus menyangkal bahwa kini Ayahnya benar-benar telah tiada.

"Zia... Tenangin diri kamu...."

Suara Fiona yang terus berupaya menenangkan Zia pun terdengar hanya samar. Zia sulit mencerna apapun yang dia hadapi saat ini.

Ketika mengetahui ayahnya tak sadarkan diri, pikiran Zia langsung diserbu oleh ribuan ketakutan yang membuatnya tak bisa tenang. Sebab pria yang tengah dia pangku kepalanya, bukan hanya tidak bergerak, hembusan napasnya pun tidak ada. Dengan derai air mata yang sudah mengalir di pipi, Zia meminta bantuan tetangganya di subuh yang masih gelap itu untuk memastikan keadaan ayahnya. Dan benar saja, ketakutan Zia benarlah terjadi, Ayahnya meninggal dunia terkena serangan jantung.

Kenyataan ini terlalu pahit. Zia tak percaya momen indah yang dia lalui kemarin menjadi kenangan terakhirnya bersama Sang Ayah. Semua berlalu terlalu singkat bagai kedipan mata. Zia sangat terpukul, jiwanya serasa ikut melayang meninggalkan raga yang tak lagi kuasa bertopang di atas bumi. Tubuh Zia terkulai dengan raungan tangis yang sangat menyayat.

Zia bahkan tak mampu bicara, para tetangganya yang membantu mengabari kerabat Zia soal apa yang terjadi. Arum pun turut membantu mengabari teman-teman terdekat Zia yang dia kenal, salah satunya Fiona. Fiona datang paling cepat saat mengetahui kabar itu.

Fiona yang masih dengan seragam sekolah itu sudah menemani Zia hampir tiga jam di dalam kamarnya. Zia sulit menenangkan diri, gadis itu terus merengek meminta ayahnya kembali. Fiona pun sulit untuk tetap tegar, dia ikut merasakan kerapuhan Zia saat ini. Segala masalah yang terjadi di antara dia dan Zia seolah lenyap, Fiona lupakan segala ego itu, walau bagaimanapun dan apapun yang terjadi, pada dasarnya Zia tetaplah sahabat yang berarti baginya, apalagi Fiona selama ini sering menjadi tempat curhat Zia soal hubungannya dengan Sang Ayah.

"Ayah gak boleh pergi, Ayah udah janji gak pergi...," ucap Zia tak jelas, bercampur suara sesenggukannya.

"Coba istigfar, Zia. Astagfirullahaladzim....," tuntun Fiona.

Zia berusaha mengikuti dengan tersendat-sendat, namun dia tetap menangis.

"Belum bisa berhenti nangisnya, Zia?" tanya Airin yang baru datang setelah keluar beberapa saat.

Airin duduk di samping Zia di atas kasurnya.

"Kalo kondisi lo gak memungkinkan lebih baik gak usah ikut ke pemakaman," kata Airin menatap Zia prihatin.

"Nggak! Gue mau ikut!" bantah Zia langsung.

"Ya kalo gitu tenangin diri dulu. Gue tahu lo pasti terpukul banget, gue paham rasanya, gue juga baru kehilangan orang yang gue sayang, lo kan tahu sendiri," tutur Airin menggenggam telapak tangan kanan Zia. "Lo boleh nangis, tapi perlu dikasih jeda. Nangis terlalu lama gak akan membantu apapun, Zia, yang ada jiwa ayah lo bakal ikut sedih. Lebih baik sekarang lo tenangin diri, tegar, tunjukkin yang terbaik buat ayah lo, doain dia, itu lebih penting."

Rengekan Zia memelan, namun sesenggukannya masih begitu menyesakkan dada.

Fiona mengelap air mata di pipi Zia. "Kalo lo masih histeris, keluarga lo bakal ngelarang lo ikut. Pemakaman itu harus tenang, kan?"

Tanpa menjawab, Zia berusaha mengontrol tangisannya meski terasa mustahil dihentikan.

****

Zia menatap dengan air mata yang terus berjatuhan saat jenazah ayahnya dimasukkan ke liang lahat. Dia dan kerabat perempuan lainnya hanya diperbolehkan melihat dari tempat yang agak jauh. Ustaz Hamid yang membantu mengkondisikan agar saat prosesi pemakaman tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan. Beliau tidak ingin kematian ini menyebabkan orang-orang berkumpul tanpa aturan yang benar sehingga menyebabkan dosa yang khawatirnya terlimpahkan pada si mayyit sebagai yang punya hajat.

Jangan Jatuh Cinta (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang