Pagi datang, suasana dingin menyergap ruang makan, aroma kopi, teh dan beberapa kudapan memnuhin indra penciuma siapun yang berada disana.
Tuan besar sudah duduk di singasana nya dengan cangkr kopi berukir, gelas favoritenya. Buatan mendiang sang istri, sang tuan besar menunggu semua penghuni massion untuk sarapan.
Satu persatu penghuni massion sudah memenuhi besar makan besar itu dari anak tertua, menantu bahkan cucu. Seperti biasa alexander tidak mempersilahkan siapapun berbicaea ketika sarapan
"Apa audry sudah berangkat?" Perkataan sang tertus membuat semua mara terdiam menuju kursi kosong yang ada disudut meja
"Audry malam tadi berangkat pa ke belanda ada urusan sedikit"
"Tanpa pmit?" Hanya anggukan yang bisa di kasih dimas untuk menjawab pertanyaan sang mertua
"Anak itu, sepertinya kamu harus mendidik audry lebih keras lagi dimas", " anak itu sudah kelewtan batas"
"Audry tadi malam di telpon mendadak pa"
"Selalu begitu. Tidak bisa mengatur waktu", "jeavano persiapkan berkas bu jangan sampai ada yng tertinggal "
"Baik granpa" tanpa berpamitan tuan besar meninggalkan meja makan, meninggalkan semua angota keluarga dengan kudapan merka
JRNH STUDIO
Bagunan kecil belantain tiga saksi dimana 4 anak muda membangun mimpi mereka, berteman dari kecil hingga mereka sudah melanjut kebankh yang lebih tinggi. Studio ini dimana mereka menciptakan ide ide yang mereka berikan kepada pengemar mereka
Disalah satu ruangan, pria berwajah putih duduk dengan sjuta pikira, didepannya sebuah amplop coklat terletak rapi, amplop coklat itu alasan dimana pikirannya kusut. Jeavano terdiam kejadia malam dan pagi tadi terekam jelas dalam pikiranya, bagaimana granpanya meminta dia untuk masuk ke dunia bisnis granpanya , dan sifat sang kakak yang berubah dingi. Ke semua orang di rumah
Saking asyiknya dengan pikirannya sendiri, jeabanoy disadar kalau temanya sudah ada di dalam ruangan memperthatikan dirinya ,
Renard memperhay temanya yang duduk dengan wajah kusut
"Sudah lama no?"
"Ehm lu baru datang?"
"Yups gue baru dari project" renard berlalu menuju lenari es yng ada di sudut kantor mereka, dia mengambil 2 botol minuman untuk dia dan temannya
"Minum dulu bro tegang banget tuh muka" renard memebrikan botol soda kepada temannya seambil melirik amplop coklat dengan tanda yang sudah sangat mereka ketahui
"Granpa lu masih mau lu lanjut?" Tanya renard dibalas angguka kecil
"Terua respon kak audry?"
"Lu psti tau respon kakak"
"Sangat, dia pasti kesal dan muak"
"Tapi jea lu ngga harus nerima itukn?"
"Maksud gue lu bisa nolak kalau itu buka. Passion elu"
"Nga bisa nard. Granpa sudsh memutuskan"
"Malam tadi Granpa memutuskan gue harus masuk dalan lingkaran bisnis dia"
"Gue nggq paham jalan pikiran granpa lu"
"Maksud gue kenapa ngga bagi aja tuh harta ke semua anak cucunya. Dia beres dan tenang"
YOU ARE READING
Unfanding Sense
Fanfiction"Aku menemukanmu ditititk terakhir perjalanan. Nyatanya ruang hampa yang aku dapatkan" - Jeavano Exalio Alexander Abraham "Jika ada yang lebih tepat dari kata pergi mungkin sudah aku lakukan sayangnya aku disini Dan tetap disini" Gistari Anindinda...
