Sore hari ditemanin hujan yang membasahin halaman belakang, gistari duduk di bangku yang ada di halaman belakang dengan buku sketch dan beberapa pensil warna, coklat panas serta beberapa biskuit menemaninya.
Sudah hampir sejam gistar duduk mengores pensil warnanya mengambar pola, hal yang sudah dia lakukan sejak dia berhasil sadar dari kejadian beberapa tahun lalu.
"Lagi gambar apa dek?" Tanya yudha yang baru datang dengan cangkir kopinya
"Ehmm cuma gambar ngga jelas bang"
"Kenapa? Kepalanya sakit lagi"
"Ngga kok aku cuma lagi gabut aja"
" oke" yudha berhenti bertanya hanya memperhatikan kegiatan sang adik sambil tersenyum
"Gimana kerjaan kamu?"
"Lancar banget"
"Bos baik?"
"Baik, semuany baik bahkan aku yang belum mahir aja tetap di ajarin. Seperinya aku betah"
"Syukur kalau kamu betah"
"Abang gimana?"
"Baik, semuanya lancar aja"
"Aku senanng dengarbyq, coba mama sama papa masih disini! Mereka pasti bangga sama abang"
"Gi.."
"Mereka pasti bangga anak laki lakinya sudah dewasa, sudah bisa cari uang walaupun belum ada pasangan"
"Yeh tetepa aja yah kamu"
"Mama sama papa juga pasti banga sama kamu"
"Karna anak perempuanya sudah besar, sudsh cantik, makin pintar lagi""
"Aku mau ketemu mereka bang, kayaknya bahagia banget yah kalau ada mereka"
"Rumah psti lebih hangat lagi"
Yudha meletakan cangkir kopinya dan langsung memeluk sang adik mengusap surai sang adik
"Abang ada disini, kamu punya abang"
"Gi tau gi punya abang, gi cuma kangen sama papa mama walaupun Gi belum pernah lihat mereka"
Jujur rasanya yudha ingin menganti kehidupanny dengan kehidupan orang tuanya, seaindanya orang tuanya selamat mungkin mereka menjadi keluargan yang bahagin tanpa harus takut.
Abraham House
Disudut ruang bernuasa hitam abu seoarang anak lakinlaki tanpk gusar mengecek ulang beberapa kali telpon genggamnya nenunggu balasanya dari sang kakak.
Jeavano masih nenunggu balasan chat yang dia kirim ke sang kakak, bukan balasanya yang dia dapat tapi hanya centang 2 bertanda biru, bukan cuma chat email yang dia kirimnya hanya dibaca sang kakak. Sepetinya sang kakak bener bener marah
"Jea" suara sang mama mampu mengalihkan pikirannya dari telpon genggam
"Iya mq"
"Belun di balas kakak?"
Hanya gelengan yang mampu jea kasih
"Mungkin kakak lagi sibuk"
"Biasanya kakak sesibuk apapun tetap balas chat jea ma, tapi ini ngga"
"Yah udah nanti mama bantu menghubungin kaak, bang dimas jyga belu. Dibalas chatnya"
"Kamu makan dulu yuk, papa sama abang nunggu kamu"
"Iya"
Ibu dan anak ini beranjak meninggalkan kamar menunju ruang makan
France
Audry duduk di balkon dengan cangkir coklat hangatnya dan belatar pemandangan kota france, sejak keberangkatanya ke belanda dilanjutkannke paris audry belum memblasa chat siappun entah itu dari keluarga, tunangannya atau adiknya
Rasanya audry gagal menjadi seorang kakak, karna dia gagal menjauhkan sang adik dari kakeknya. Audry binggung harus melalukan apa lagi.
"Lu beneran ngga mau balas chat siapapun" lamungan audry terganggu karna suara sang sahabat
"Dry semua nelpon gue nanyain lu kemana"
"Bilang aja gue sibuk"
"Ealah, sebenearnya masa lu ap sih? Gue aja pulang lu kagak mau"
"Gue masih ada kerjaan"
"Hello kerjaan lu sudah beres semua yah, kalaupun ada itu bisa dikerjaain di jakarta"
"Ayolah dry masalah jangan lu hindarin,mana audry si keras kepala"
"Berisik lu"
"Yeh gue bilangin lu mah, emang kenap sih"
"Granpa"
"Oh oke gue ngga mau bahas, tapi seriys dry jea lagi butuh lu kalau gitu"
"Kalau lu begini jea psti binggung"
"Lu ngga mau nyesal kan telat liat adik lu yang terakhir"
"Selain bokap nyokap lu jea cuma punya lu, lu adalah sosok yang buat dia berani dry gur mohon "
YOU ARE READING
Unfanding Sense
Fanfiction"Aku menemukanmu ditititk terakhir perjalanan. Nyatanya ruang hampa yang aku dapatkan" - Jeavano Exalio Alexander Abraham "Jika ada yang lebih tepat dari kata pergi mungkin sudah aku lakukan sayangnya aku disini Dan tetap disini" Gistari Anindinda...
