13 - Finding the Way Back to Myself

446 27 0
                                        

Setelah latihan basket selesai, Jaehyun yang merasa penasaran dengan latar belakang Taeyong mendekatinya di ruang olahraga, kini tinggal mereka berdua disini. Dia ingin tahu lebih dalam tentang mengapa Taeyong begitu ahli di basket tetapi sepertinya enggan untuk memperlihatkan kemampuannya. Jaehyun berkata dengan nada lembut, "Aku bisa melihat kau membawa lebih dari sekadar bakat, Tae. Kenapa kau terlihat begitu menahan diri?"

Taeyong, yang terkejut dengan suara lembut Jaehyun, menghela napas sejenak. "Karena ada sesuatu yang mungkin tidak bisa kumiliki lagi," katanya dengan senyum lemah sambil melihat bola basket di tangannya. "Dulu, lapangan ini adalah segalanya bagiku. Tapi sekarang aku merasa berada di sini hanya untuk bayangannya.

Merasa empati mendalam, Jaehyun mendekat, "Lalu biarkan aku membantumu membawa bayangan itu kembali, sedikit demi sedikit."

Taeyong terdiam, tatapannya tak lepas dari bola basket di tangannya. Kenangan akan masa-masa ketika lapangan adalah tempat ia bersinar membanjiri pikirannya, namun perasaan hampa tetap tak bisa sepenuhnya ia abaikan. Setelah beberapa detik yang hening, ia berbisik, "Mungkin aku bahkan tidak bisa membawa bayangan itu kembali... tapi anehnya, aku ingin mencoba lagi, Jaehyun."

Jaehyun menepuk pundak Taeyong, membangunkannya dari keraguan yang membebani. "Kalau begitu, kita coba bersama. Kau tahu, kadang, keberanian muncul justru ketika kita berpikir tak ada harapan." Jaehyun tersenyum hangat, lalu menyodorkan tangannya.

Sedikit terkejut, Taeyong memandang tangan Jaehyun sejenak, lalu menjabatnya dengan erat. "Kau tahu? Untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa seperti punya alasan untuk bertahan di lapangan ini."

Tanpa kata lebih lanjut, keduanya kembali ke lapangan. Jaehyun berdiri di sisi Taeyong, mendribel bola dan memberi isyarat agar Taeyong bersiap. "Anggap saja kita latihan ringan dulu, tapi aku mau lihat teknik yang katanya 'legendaris' itu. Aku yakin kita bisa membawa sesuatu yang luar biasa dari sini."

Taeyong tersenyum simpul dan dengan perlahan menyiapkan dirinya. Di bawah sorot cahaya lapangan yang sunyi, mereka mulai bergerak, melakukan operan dan dribel bersama, seolah menghidupkan kembali api yang hampir padam di hati Taeyong.

***

Sore itu, Jaehyun menunggu Taeyong membereskan tasnya. Melihat kondisi Taeyong yang sedikit kelelahan, ia berkata, "Bagaimana kalau aku antar kau pulang? Lagipula, aku ingin tahu di mana letak rumah pemain legendaris ini."

Taeyong terkekeh kecil dengan sebutan itu dan, meski awalnya ragu, ia akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi jangan terlalu banyak bercanda soal itu di depan keluargaku."

Setibanya di depan rumah Taeyong, keduanya melihat seorang pria tinggi dan gagah tengah berdiri di halaman, mengenakan mantel cokelat dan seolah menunggu. Taeyong tersenyum, tahu siapa yang berdiri di sana.

"Hyung," sapanya, melambai pada pria itu.

Johnny, yang awalnya terfokus pada pintu, menoleh dan tersenyum hangat pada adiknya sebelum melirik ke arah Jaehyun. "Ah, jadi ini teman barumu, Tae?"

Taeyong mengangguk dan memperkenalkan, "Hyung, ini Jaehyun. Dia yang membantuku saat aku pingsan sebelumnya."

Johnny mengulurkan tangan, menatap Jaehyun sejenak dengan pandangan penuh selidik namun ramah. "Ah, jadi kau lah yang membantu Taeyong waktu itu. Aku sangat berterima kasih sudah membantu adikku ini. Maaf jika ia merepotkanmu"

Jaehyun, yang sedikit gugup di hadapan Johnny, berjabat tangan dan berkata, "Tidak apa-apa, em.. hyung. Taeyong sama sekali tidak merepotkan."

Johnny mengangguk, lalu menatap Taeyong dengan senyum penuh arti. "Aku tahu jelas bisa semerepotkan apa adikku ini. Kau tidak perlu menutupinya, dia terlalu dimanja di rumah ini."

Taeyong terkesiap mendengar ucapan kakaknya, lalu dengan cepat memandang Jaehyun untuk memastikan reaksinya. Entah kenapa ia tidak ingin Jaehyun menganggapnya anak manja. "Itu tidak benar."

Johnny tertawa melihat ekspresi kaget Taeyong dan tepukan lembutnya pada kepala adiknya. "Ah, sudah, sudah. Jangan khawatir, Tae. Aku hanya bercanda," katanya sambil melirik Jaehyun yang mencoba menahan senyum.

Jaehyun, yang menyaksikan interaksi hangat itu, tersenyum dan berkata, "Sejujurnya, Taeyong justru membantu kami. Bahkan di lapangan, dia banyak memberi masukan soal teknik."

Johnny tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, saat itu ia paham kenapa tiba-tiba Taeyong mengatakan bahwa ia merindukan lapangan itu sebelumnya. Ternyata ada seseorang yang memberinya motif untuk kembali ke lapangan itu. "Benarkah? Sepertinya Yong-ie tak pernah bercerita sebanyak itu di rumah." Ia menghela napas ringan mencoba tetap tenang di depan Jaehyun, lalu menatap Taeyong. "Bagaimanapun, senang melihat kau mulai membuka diri, Tae."

Taeyong merasa hangat oleh reaksi kakaknya yang ia tahu tulus, meski ia sedikit salah tingkah. Ia cepat-cepat membalas, "Ya, hyung. Aku hanya... mencoba beberapa hal baru. Jaehyun juga selalu menyemangati."

Johnny tersenyum lagi pada Jaehyun, kali ini dengan rasa terima kasih yang lebih dalam. "Kalau begitu, Jaehyun, terima kasih sudah mendampingi Taeyong. Mungkin suatu hari nanti, kau harus datang dan cerita lebih banyak tentang kalian di lapangan. Aku yakin, Yong-ie pasti bisa berkembang lebih jauh dengan teman sepertimu."

Mata Jaehyun berbinar dan ia mengangguk mantap, lalu pamit setelah berbasa-basi sebentar lagi dengan Johnny. Begitu masuk ke rumah, Johnny menepuk pundak Taeyong. "Kelihatannya temanmu itu pria yang baik, Taeyong. Jangan terlalu menghindar darinya. Kau berhak punya teman yang mengerti dirimu, kau tahu?"

Taeyong terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. Di balik kata-kata Johnny, ia tahu kakaknya benar-benar mendukungnya untuk menemukan kembali dirinya yang dulu, dan mungkin... Jaehyun memang teman yang ia butuhkan untuk perjalanan itu.


To be Continued..
Jangan lupa like and comment nya ya^^

M || JaeyongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang