Setelah Johnny masuk ke rumah, Taeyong tetap berdiri di teras, memandangi pintu yang baru saja tertutup. Ia merasa dadanya penuh—sebagian oleh rasa hangat, sebagian lagi oleh kebingungan akan apa yang baru saja terjadi. Selama ini, ia terbiasa menghindar, baik dari lapangan maupun orang-orang yang ingin membantunya sejak kejadian itu. Namun, hari ini, rasanya berbeda. Ada secercah keberanian untuk mencoba lagi, meski hanya sedikit.
Jaehyun yang masih berdiri di sisi halamn depan memanggil pelan, "Tae, kau baik-baik saja?"
Taeyong menoleh, menatap Jaehyun sejenak sebelum mengangguk. "Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengantarku pulang."
"Sepertinya hubunganmu dengan kakakmu cukup dekat," kata Jaehyun sambil menyandarkan tubuhnya di tiang pagar, senyum kecil menghiasi wajahnya.
"Hyung selalu seperti itu. Dia keras di luar, tapi sebenarnya dia lebih perhatian dari siapa pun," jawab Taeyong sambil tersenyum tipis. Ia menunduk, menatap lantai teras, lalu menambahkan, "Terkadang aku merasa aku terlalu bergantung padanya."
Jaehyun menggeleng perlahan. "Aku tidak melihat itu sebagai kelemahan. Johnny hyung jelas peduli padamu, dan tidak semua orang seberuntung itu punya seseorang seperti dia. Tapi aku rasa... lebih dari itu, dia ingin kau menemukan keberanian untuk berdiri sendiri, Tae."
Kata-kata itu menghantam Taeyong tepat di hatinya. Ia tahu Jaehyun benar. Selama ini, ia membatasi dirinya sendiri, bukan karena tidak bisa, tetapi karena takut untuk mencoba.
Taeyong menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil ke arah Jaehyun. "Kau benar. Mungkin sudah waktunya aku berhenti menahan diri."
Jaehyun tersenyum lebar. "Bagus. Aku tidak sabar melihatmu bermain basket dikondisi terbaikmu."
Sebelum pergi, Jaehyun menambahkan, "Besok pagi, pukul enam. Apa kau mau kencan di lapangan basket bersamaku, manis?"
Taeyong tertawa kecil mendengar nada menantang itu. "Kau yakin ini kencan? Atau hanya aku yang akan terus mengomeli permainanmu?"
"Tidak apa-apa, ini kencan khusus edisi basket." balas Jaehyun dengan kedipan menggoda dan anggukan percaya diri sebelum berjalan pergi, melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
**
Keesokan paginya, tepat pukul enam, Taeyong sudah berada di lapangan, memegang bola basket sambil menggulung lengan bajunya. Udara dingin pagi menyelimuti, namun ia tidak peduli. Ada semangat baru yang menggerakkan tubuhnya hari ini.
Tak lama kemudian, Jaehyun muncul dari arah parkiran, mengenakan jaket olahraga dan membawa sebotol air. Ia tersenyum lebar begitu melihat Taeyong sudah siap. "Aku tidak menyangka kau benar-benar akan datang tepat waktu."
"Aku tidak punya kebiasaan telat untuk kencan. Berbeda dengan seseorang." Taeyong menjawab sambil tersenyum, lalu melempar bola ke arah Jaehyun.
Jaehyun menangkapnya dengan mudah, lalu mulai mendribel pelan. "Oh. Sayang sekali aku bukan kencan pertamamu, padahal kukira kau dulunya sibuk dengan basket dan tidak punya waktu berkencan."
Taeyong mengangkat alis, sedikit terhibur oleh pernyataan Jaehyun yang tampak seperti candaan tapi mengandung rasa penasaran. "Kenapa aku merasa kau ingin mengetahui sesuatu dariku, Jaehyun."
"Siapa, aku?" Jaehyun mendribel bola sekali lagi, kemudian menatap Taeyong dengan senyum penuh kepura-puraan. "Aku hanya ingin tahu sedikit tentang masa lalu teman latihanku."
Taeyong memutar bola di tangannya, berpikir sejenak. "Mungkin kau benar. Basket menyita sebagian besar waktuku. Tapi itu bukan berarti aku tidak pernah punya kencan, hanya saja..." Ia berhenti, menatap jauh ke arah langit yang mulai cerah. "Aku rasa aku tidak pernah benar-benar memberikan perhatian penuh pada seseorang. Fokusku selalu ke basket."
KAMU SEDANG MEMBACA
M || Jaeyong
Fanfiction🔞🔞🔞🔞 "Hah.. Hah... Mmphh." Mendengar Taeyong mendesah kuat membuat Jaehyun menguatkan dekapannya. Ia tak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini. Taeyong memegang kepalanya kuat, desahannya berubah menjadi erangan kuat di telinga Jaehyun. "...
