Chapter 4 : Behind The Lens

337 37 3
                                        

Hari pemotretan untuk perusahaan Mile akhirnya tiba, dan Apo datang lebih awal ke studio untuk memastikan semuanya siap. Dia memeriksa pencahayaan, kamera, dan memastikan bahwa setiap detail sudah sesuai dengan rencana. Namun, di balik kesibukan profesionalnya, ada kecemasan yang tak bisa dia sembunyikan. Bertemu Mile lagi, dalam suasana yang lebih intens, bukanlah sesuatu yang mudah.

Tim kreatif yang bekerja sama dengan Apo mulai berdatangan satu per satu. Mereka semua tampak antusias dengan proyek besar ini, meskipun ada beberapa yang tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka terhadap sosok Mile, terutama setelah mendengar cerita-cerita tentang reputasinya sebagai mogul bisnis yang tampan dan berkarisma.

Lila, salah satu anggota tim kreatif, yang juga seorang fashion stylist, menyeringai sambil mendekat ke Apo.
Lila (berbisik sambil terkikik):
"Jadi, Apo, katanya CEO ini cakep banget ya? Aku dengar dari beberapa teman, dia itu paket komplit-tampan, kaya, dan pintar. Apa kamu yakin bisa tetap fokus nanti?"

Apo (tertawa kecut, pura-pura santai):
"Focus is my middle name, Lila. Aku sudah bekerja dengan banyak orang penting sebelumnya. Ini bukan sesuatu yang baru."

Lila (mencibir manja):
"Iya, iya, tapi aku yakin Mile Phakphum ini beda. Apalagi kalau dia mulai senyum-senyum menggoda. Hati-hati, Apo, bisa-bisa kamu yang jadi objek fotonya nanti!"

Seluruh tim tertawa, dan Apo hanya bisa menggulung matanya. Dalam hatinya, dia tahu ada sedikit kebenaran dalam candaan Lila. Mile memang memiliki aura yang sulit diabaikan, tapi dia harus tetap profesional. Pekerjaan ini terlalu penting untuk diwarnai oleh perasaan pribadinya.

Tak lama kemudian, pintu studio terbuka, dan Mile masuk dengan senyum khasnya, disertai beberapa anggota timnya. Saat dia berjalan ke arah Apo, suasana studio yang sebelumnya ramai langsung terasa lebih sunyi. Semua mata tertuju pada Mile.

Mile (tersenyum sopan, menatap Apo):
"Maaf kalau aku sedikit terlambat. Persiapan ini terlihat sangat baik."

Apo (berusaha terlihat tenang, membalas senyuman):
"Terima kasih, Mile. Kami sudah siap kapan saja kamu siap."

Sesi pemotretan pun dimulai. Apo, yang biasanya bisa dengan mudah mengatur modelnya, kali ini merasa sedikit terganggu oleh kehadiran Mile. Setiap kali dia memberikan arahan, Mile akan menatapnya dengan tatapan yang begitu intens, membuat Apo sulit untuk mempertahankan ketenangan.

Apo (dengan nada profesional, tapi agak canggung):
"Sedikit lebih rileks, Mile. Coba berikan senyum yang lebih natural."

Mile (tertawa kecil):
"Natural? Oke, tapi bagaimana kalau aku bilang senyumku hanya muncul kalau fotografernya menyenangkan?"

Blussssshh

Apo langsung merasakan wajahnya memanas. Tim kreatif di belakang kamera, termasuk Lila, tak bisa menahan tawa mereka.

Lila (mencandai sambil berbisik pada tim kreatif):
"Aduh, ini bukan lagi pemotretan bisnis, ini bisa jadi iklan parfum, nih!"

Apo berusaha menahan tawa, tapi merasa sedikit terhibur oleh candaan mereka. Situasinya memang penuh ketegangan, tapi timnya selalu tahu cara membuat suasana lebih ringan.

Setelah beberapa shot, mereka mengambil istirahat singkat. Lila, yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda Apo, mendekatinya dengan senyum lebar.

Lila (sambil menggoda):
"Jujur, Apo, kamu bikin aku iri. Kalau tiap hari ketemu cowok kayak Mile, aku pasti nggak akan pernah sakit hati lagi!"

Apo (tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupannya):
"Lila, jangan mulai lagi, ya. Ini pemotretan serius, bukan acara matchmaking."

Lila (tertawa sambil memukul lengan Apo dengan ringan):
"Tapi serius, Apo. Kamu harus ngaku, ada sesuatu di antara kalian berdua. Chemistry kalian terlihat jelas dari lensa!"

Apo hanya tersenyum tipis dan memutuskan untuk mengabaikan candaan itu. Tapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa Lila mungkin tidak sepenuhnya salah.

Setelah istirahat singkat, pemotretan dilanjutkan. Apo mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, meski sulit untuk sepenuhnya mengabaikan keberadaan Mile yang terus menatapnya dengan intens.

Saat mereka mencoba pose baru, Mile mulai menunjukkan sisi humornya. Dia sering melemparkan candaan kecil untuk mengurangi ketegangan, terutama karena dia sendiri merasa sedikit canggung berada di depan kamera begitu lama.

Mile (tersenyum sambil bercanda):
"Aku rasa, aku mulai paham kenapa jadi model itu sulit. Harus tetap terlihat keren sepanjang waktu itu tidak mudah."

Apo (tertawa kecil, mengatur lensa kameranya):
"Kamu bisa mengeluh, tapi sejauh ini kamu terlihat cukup baik di kamera."

Mile (tertawa, lalu menatap Apo dengan senyum jahil):
"Terima kasih, tapi aku yakin ini semua berkat fotografernya."

Tim kreatif di belakang kamera sekali lagi tertawa kecil mendengar komentar Mile, sementara Apo hanya bisa tersenyum kaku, berusaha tetap fokus. Dia tidak ingin terlalu memikirkan apa yang dikatakan Mile, tapi sulit untuk mengabaikan cara pria itu terus-menerus mencairkan suasana.

Di sela-sela pemotretan, ketika Mile mengganti jasnya untuk pose berikutnya, salah satu anggota tim kreatif, Jon, yang bertugas sebagai lighting designer, melontarkan candaan yang langsung membuat suasana studio semakin ceria.

Jon (berbisik pada Lila, tapi cukup keras untuk didengar semua orang):
"Kalau CEO-nya sesantai ini, mungkin kita bisa bikin pose jumping shot, ya. Mile melompat sambil senyum lebar, apa nggak keren tuh?"

Lila (tertawa sambil menjawab):
"Wah, itu ide yang bagus. Tapi kalau dia jatuh, siapa yang tanggung jawab?"

Mile mendengar candaan itu dan ikut tertawa.

Mile (tersenyum, menatap Jon):
"Aku suka ide itu. Siapa tahu, mungkin next project, kita bisa coba sesuatu yang lebih casual."

Semua orang tertawa, dan pemotretan berlanjut dengan suasana yang jauh lebih santai dan ceria. Apo merasa lebih nyaman, terutama karena Mile tampak begitu mudah bergaul dengan tim kreatif, bahkan sesekali ikut bercanda di sela-sela pose.

Saat sesi pemotretan hampir selesai, Apo merasa lega. Dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik meskipun banyak godaan dan candaan sepanjang jalan. Tapi, sebelum Mile pergi, dia mendekati Apo sekali lagi.

Mile (tersenyum, menatap hasil foto di monitor):
"Aku sangat senang dengan hasilnya, Apo. Kamu benar-benar berbakat."

Apo (tersenyum kecil, merasa sedikit canggung lagi):
"Terima kasih. Kamu juga sangat kooperatif."

Mile (menatapnya lebih lama):
"Kooperatif? Itu karena aku punya fotografer yang tahu bagaimana membuat orang merasa nyaman di depan kamera."

Apo hanya bisa tersenyum dan mengangguk, merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Sebelum Mile pergi, dia menatap Apo sekali lagi dan berkata dengan nada lebih serius.

Mile:
"Senang bisa bekerja sama denganmu, Apo. Semoga ini bukan yang terakhir."

Apo mengangguk lagi, kali ini dengan senyum lebih tulus. "Kita lihat saja nanti."

Ketika Mile meninggalkan studio, tim kreatif langsung menyerbu Apo dengan candaan.

Lila (sambil tertawa dan melipat tangan):
"Aku nggak peduli apa kata kamu, Apo. Kalian berdua jelas punya chemistry!"

Jon (ikut menggoda):
"Ya ampun, kalau nanti ada foto prewedding, aku yakin Mile akan hubungi kamu duluan!"

Apo hanya tertawa kecil, berusaha menutupi kegugupannya. Tapi di dalam hati, dia tak bisa mengabaikan perasaan aneh yang terus tumbuh setiap kali dia berhadapan dengan Mile.

Dan meskipun dia tak ingin mengakuinya, mungkin ini memang bukan yang terakhir mereka bekerja bersama.

Tbc.


Hai - hai, thank you so much buat yang berkenan mampir baca tulisan saya ini ya.
Enjoy 😃
Happy Sunday & God Bless All







RUN TO YOU - COMPLETED (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang