*****
Apo duduk di kamar mereka, cahaya layar ponsel menyinari wajahnya yang tampak lesu. Artikel demi artikel menyerangnya tanpa ampun. Salah satu judul menyebutkan, "Apinya Masa Lalu Apo - Kekasih Pewaris Romsaithong, Bagaimana Dia Membakar Hubungan Masa Depannya?" Tulisan itu menyertakan wawancara Biel yang menyebut Apo sebagai sosok manipulatif yang tidak bisa dipercaya. Kata-kata itu membuat Apo merasa tenggelam dalam rasa bersalah.
Mile, yang memperhatikan perubahan pada Apo sejak pagi, masuk ke kamar dengan langkah mantap. Dia membawa secangkir teh jahe hangat.
“Po, kamu harus berhenti membaca itu semua. Apa pun yang mereka katakan, tidak ada yang benar.”
Apo meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar, lalu memandang Mile dengan tatapan penuh kecemasan.
"Mile... aku hanya membuat semuanya lebih buruk untukmu. Biel benar. Aku adalah seseorang yang tidak bisa dipercaya dalam hubungan. Aku takut semua ini akan menghancurkanmu juga."
Mile duduk di sampingnya, meraih tangan Apo dan menggenggamnya erat.
"Hei sayang..., look at me Po. Apa yang orang lain katakan tentangmu tidak mengubah kenyataan bahwa aku mencintaimu. Kamu adalah orang yang membuat hidupku lebih baik. Kita akan melewati ini bersama, dan aku tidak akan membiarkan apa pun memisahkan kita."
Meskipun kata-kata Mile memberikan ketenangan sesaat, perasaan ragu dan takut masih menggerogoti hati Apo. Namun, di balik kerentanannya, dia merasa bersyukur memiliki Mile di sisinya.
Konferensi Pers:
Menunjukkan Kekuatan
Hari berikutnya, keluarga Mile memutuskan untuk menghadapi serangan media secara langsung. Mereka menggelar konferensi pers di ballroom mewah milik salah satu hotel keluarga mereka. Wartawan dari berbagai media besar hadir, membawa rasa ingin tahu dan juga pertanyaan tajam.
Apo berdiri di belakang panggung bersama ibunda Mile dan keluarganya. Wajahnya tegang, tapi tangan hangat ibunda Mile menggenggam bahunya dengan lembut.
"Percayalah, Nak. Mile tahu apa yang dia lakukan. Kami semua di sini untukmu.”
Ketika Mile maju ke podium, suasana ruangan berubah tegang. Dengan setelan elegan, dia berdiri tegap, sorot matanya tajam, memancarkan kepercayaan diri.
“Terima kasih telah datang. Saya ingin membuat satu hal sangat jelas. Apo bukan hanya pasangan saya, dia adalah cinta dalam hidup saya. Masa lalunya adalah bagian dari dirinya, tetapi itu tidak mendefinisikan siapa dia sekarang. Dia telah mengajarkan saya banyak hal—tentang kesabaran, keberanian, dan cinta tanpa syarat.
“Jika ada yang ingin menyerang, serang saya. Tapi jangan pernah berpikir bahwa kalian bisa memisahkan kami dengan kebohongan atau manipulasi. Kami berdiri bersama, dan tidak ada yang bisa mengubah itu.”
Pernyataan Mile membuat ruangan itu terdiam sejenak. Para wartawan saling melirik, sadar bahwa keluarga ini tidak akan mundur menghadapi tekanan. Bahkan ketika pertanyaan provokatif mulai muncul, ayah Mile maju dan menambahkan, dengan nada tegas:
"Keluarga kami mendukung Apo sepenuhnya. Kami akan mengambil tindakan hukum terhadap siapa pun yang terus menyebarkan informasi palsu atau mencemarkan nama baiknya.”
Malam itu setelah konferensi selesai, keluarga Mile dan Apo berkumpul di ruang tamu rumah keluarga Mile. Atmosfer yang tadinya penuh ketegangan berubah menjadi hangat. Keluarga Apo, yang baru tiba, ikut meramaikan suasana dengan canda tawa khas mereka.
Ibunda Apo mendekati Apo, memeluknya erat.
"Po, kamu tahu, kami selalu mendukungmu, apa pun yang terjadi. Tapi melihat bagaimana Mile dan keluarganya berdiri untukmu hari ini... aku tahu kamu akhirnya menemukan tempatmu yang sebenarnya."
Kata-kata itu membuat mata Apo berkaca-kaca. Namun sebelum dia bisa membalas, Mile berdiri dari sofa, mengetuk gelas dengan sendok untuk menarik perhatian semua orang.
"Aku tahu ini bukan waktu yang biasa untuk melakukan ini. Tapi aku tidak ingin menunggu lagi.”
Semua orang terdiam, memperhatikan ketika Mile berjalan ke arah Apo dan berlutut di depannya. Dia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya dan membukanya, memperlihatkan cincin berlian sederhana yang memancarkan keindahan.
"Apo, kamu adalah segalanya bagiku. Aku tahu dunia bisa sangat kejam, tapi aku tidak peduli. Aku ingin dunia tahu bahwa aku memilihmu, sekarang dan selamanya. Jadi, Po, maukah kamu menikah denganku, membangun keluarga kecil bersama calon anak kita ?"
Ruangan itu sunyi beberapa detik sebelum tawa bahagia dan sorakan memenuhi udara. Mata Apo penuh dengan air mata, tetapi dia tersenyum lebar saat menjawab.
"Ya, Mile. Aku mau.”
"Tunggu dulu, tadi kami seperti mendengar kata calon anak...., kalian???" Tanya Ibunda Mile yang seakan - akan mewakili suara hati tiap mata yang memandang mereka.
"Iya Ibu, Apo sedang mengandung salah satu pewaris Romsaithong."
Sorakan menggema, dan keluarga mereka saling memeluk, merayakan momen itu bersama. Ibu Mile menepuk pundak Mile dengan penuh bangga, sementara ayah Apo tertawa kecil, bercanda bahwa dia akhirnya bisa berhenti khawatir tentang julukan "Wedding Angel of Death."
***
Di penghujung malam, ketika semua orang mulai beristirahat, Mile dan Apo duduk berdua di balkon, ditemani angin malam yang sejuk. Apo menyandarkan kepalanya di bahu Mile, merasa damai untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
“Aku masih tidak percaya kamu melamarku di depan semua orang. Kamu benar-benar membuatku tidak punya pilihan lain selain bilang ya.”
Mile pun menjawab dengan sedikit tawa & senyum yang tak berhenti sejak kekasihnya menjawab lamarannya, “Bukankah itu ide yang bagus?”
Apo tersenyum, lalu mengangkat wajahnya, menatap Mile dengan penuh rasa syukur.
“Terima kasih, Mile. Untuk semuanya.”
“Po, kita punya banyak hal untuk direncanakan. Tapi aku tahu satu hal pasti—kita akan melaluinya bersama.”
Di bawah langit malam, dengan bintang-bintang menjadi saksi, mereka mulai membicarakan pernikahan, keluarga, dan masa depan yang akan mereka bangun bersama. Babak baru dalam hidup mereka telah dimulai.
Tbc.
Enjoy reading &
Merry Christmas everyone 😆
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN TO YOU - COMPLETED (END)
RomanceApo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
