Pagi itu, Apo melangkah ke gedung tinggi dan megah milik The Roms Corp dengan perasaan yang campur aduk. Ia sudah sering berada di sini sebelumnya, namun hari ini terasa berbeda. Ini adalah final meeting dan review untuk membahas hasil editing proyek majalah kantor yang akan segera naik cetak. Setiap detail harus sempurna, dan waktu untuk melakukan revisi sangat terbatas.
Begitu keluar dari lift yang mengarah ke lantai kantor Mile, suasana sudah terasa sibuk. Tim kreatif Apo sedang berdiskusi di ruang tunggu sambil mengecek file terakhir di laptop masing-masing. Lila dan Jon sedang berkutat dengan catatan, memastikan bahwa tidak ada yang terlewat dari hasil akhir yang akan dipresentasikan. Bas, sang sekretaris, berdiri di samping mereka dengan raut serius namun santai, sesekali memberikan instruksi pada staf junior yang mondar-mandir membawa berkas. Apo menatap mereka sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju ruang rapat utama.
Begitu ia masuk, Mile sudah ada di sana, duduk di ujung meja besar dengan tatapan fokus ke laptopnya. Dia tampak tenang, seperti biasa, meski ada kesibukan di sekitar mereka. Sesaat, tatapan Mile terangkat ketika Apo masuk, dan mereka bertukar senyum kecil-senyum yang mungkin hanya mereka yang bisa mengerti artinya.
"Morning, Apo," sapa Mile sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kita sudah siap untuk review terakhir. Semoga nggak ada kejutan di menit-menit terakhir, ya."
Apo tertawa kecil, mencoba mengurangi ketegangan yang ia rasakan sejak pagi. "Aku harap begitu. Tapi, kamu tahu, kadang ide-ide mendadak muncul justru di detik-detik terakhir."
"Yah, semoga hari ini nggak seperti itu." Mile tersenyum simpul, dengan nada menggoda yang samar, sebelum kembali melihat ke layar laptopnya.
Tim Apo masuk menyusul tak lama kemudian, membawa semua hasil kerja mereka selama berminggu-minggu. Presentasi dimulai dengan Lila yang menjelaskan konsep utama majalah itu-sebuah edisi spesial yang akan menjadi wajah baru perusahaan Mile. Jon menambahkan penjelasan tentang visual, desain halaman, dan bagaimana semuanya terhubung dengan visi besar yang mereka diskusikan di awal.
Apo diam, mengamati semuanya dengan seksama. Ini adalah hasil kerja keras yang melibatkan banyak orang, dan meski ada sedikit ketegangan dalam ruangan, setiap elemen tampak saling melengkapi dengan baik. Namun, di balik konsentrasinya, ada satu hal yang terus muncul di benaknya: Mile. Bagaimana pria itu selalu tenang, meski dikelilingi oleh kesibukan, dan bagaimana setiap kali mereka bertatap muka, ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan.
Pertemuan berlangsung cukup lancar, hanya beberapa catatan kecil yang perlu diperbaiki sebelum majalah itu benar-benar siap dicetak. Sesekali Mile menyela dengan komentar atau pertanyaan, memastikan bahwa semua berjalan sesuai rencana. Apo menghargai betapa detailnya Mile, namun ada kalanya perhatian yang diberikan pria itu terasa lebih dari sekadar profesional.
Di tengah diskusi, Mile melirik Apo yang sedang menjelaskan satu bagian penting dari layout. Tatapan itu tidak sepenuhnya serius, ada sesuatu yang lebih halus di balik mata tajam Mile. Seolah-olah, di balik seluruh kesibukan ini, ada percakapan lain yang sedang berlangsung di antara mereka-sesuatu yang tak terucapkan, namun terasa begitu nyata.
Setelah hampir dua jam, presentasi akhirnya selesai. Lila dan Jon tampak lega, sementara Bas dengan cekatan mencatat semua perubahan yang perlu dilakukan sebelum deadline terakhir. Semuanya tampak terkendali, dan tim kreatif Apo terlihat puas dengan hasil akhir.
"Kalau tidak ada tambahan lagi, kita bisa mulai masuk tahap pencetakan besok," kata Jon, sambil melirik ke arah Apo dan Mile untuk konfirmasi terakhir.
Mile mengangguk, masih memeriksa satu file di laptopnya. "Aku setuju. Ini sudah sesuai ekspektasi. Terima kasih atas kerja keras kalian semua."
Lila dan Jon tersenyum lebar, merasa lega karena proyek besar ini berjalan lancar. Mereka mulai merapikan barang-barang mereka, bersiap untuk kembali ke kantor masing-masing. Bas juga tampak sibuk mengatur jadwal dan memastikan semua sesuai rencana.
Saat suasana mulai mereda, dan satu per satu tim kreatif Apo mulai meninggalkan ruangan, Mile berdiri dari kursinya. Dia berjalan pelan mendekati Apo yang masih sibuk merapikan file di laptopnya.
"Apo," Mile memanggil dengan suara rendah yang membuat Apo menoleh.
"Hmm?" Apo menatap Mile dengan bingung, tak menyangka Mile akan berbicara lebih personal setelah rapat yang intens itu.
"Kamu ada waktu untuk makan siang setelah ini?" tanya Mile dengan nada santai, namun mata yang penuh perhatian. "Aku tahu tempat yang bagus di dekat sini. Mungkin kita bisa lanjut ngobrol soal ide-ide yang belum sempat kita bahas."
Apo terkejut sesaat. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya. Ini bukan pertama kalinya Mile mengajaknya makan, tetapi entah kenapa, hari ini terasa berbeda. Ada kehangatan di balik undangan itu, sesuatu yang tidak sepenuhnya berhubungan dengan pekerjaan.
"Aku..." Apo melirik jam tangannya, mencoba mencari alasan untuk menolak, meskipun sebenarnya tak ada. "Aku rasa, aku bisa. Ya, kenapa tidak?"
Mile tersenyum, kali ini lebih lebar. "Great. Kita berangkat sekarang aja, kalau kamu sudah siap."
Apo mengangguk, masih sedikit terkejut dengan ajakan itu. Mereka berdua berjalan keluar ruangan, meninggalkan gedung bersama-sama. Di luar, udara siang yang cerah menyambut mereka, dan sesaat, semua tekanan dan ketegangan proyek seolah menghilang. Apa pun yang akan terjadi selanjutnya, Apo tahu bahwa makan siang ini akan berbeda dari biasanya.
Tbc.
Done Update 3 chapter hari ini. Enjoy the stories & see u next week.
God Bless All
I love MILEAPO 💚💛
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN TO YOU - COMPLETED (END)
RomanceApo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
