Apo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(I don't know why but this scene captivating me so much, it kinda give me impression that "there is no other than you". Gosh how i've missed them so bad 🫠) - Random thought
*****
Apo duduk di sudut kafe kecil yang ia pilih untuk pertemuan ini. Tangannya menggenggam cangkir kopi, merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara pagi. Hari ini, ia menghadapi salah satu momen paling berat dalam hidupnya: berbicara langsung dengan tiga pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya—Jesse, Ron, dan Biel.
Wartawan tidak hanya menyerbu kehidupannya dan Mile, tetapi juga melibatkan mereka, membuat kisah lama kembali mencuat. Apo tahu ia harus menghentikan ini, bukan hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi juga untuk memberikan keadilan bagi ketiga pria itu.
Pintu kafe terbuka, dan Jesse masuk pertama. Dengan rambutnya yang sedikit berantakan dan senyum tenang, ia mengangguk ke arah Apo. Tak lama kemudian, Ron datang, ekspresinya lebih hati-hati, seperti menimbang suasana. Terakhir, Biel muncul. Wajahnya keras, tatapannya dingin seperti pisau yang terasah tajam. Apo menarik napas dalam-dalam sebelum berdiri untuk menyambut mereka.
“Hai Jesse, Ron, Biel, terima kasih ya sudah sempatkan waktu buat datang” ujar Apo dengan suara rendah & manik mata yang tak mampu untuk menatap mereka lebih jauh.
Ketiganya mengambil tempat duduk, Jesse dan Ron di sisi yang lebih santai, sementara Biel menyandarkan tubuhnya dengan tangan terlipat di dada, jelas menunjukkan ketidaksukaannya.
“Aku akan langsung saja,” Apo memulai, menatap mereka satu per satu. “Aku tahu kalian mungkin tidak ingin bertemu denganku lagi, tapi aku perlu mengatakan ini.” Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. “Aku ingin meminta maaf. Kepada kalian bertiga.”
Ruangan itu terasa sunyi. Jesse mengangkat alis, sementara Ron sedikit mengangguk, seolah-olah mempersilakan Apo untuk melanjutkan.
“Aku sadar, di masa lalu aku telah membuat keputusan yang egois. Aku memutuskan hubungan kita tanpa memberikan alasan yang cukup jelas. Aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan atau bahkan diriku sendiri. Dan itu salah.”
Biel tertawa kecil, sarkastik. “Oh, sekarang kamu sadar itu salah? Butuh apa, Apo? Lima tahun? Dan sekarang kamu datang ke sini hanya karena wartawan mengejar kita?”
Apo menelan ludah, matanya tetap fokus pada Biel. “Aku tidak akan menyangkal itu. Ya, media membuat situasi ini lebih buruk, dan aku ingin menghentikan mereka. Tapi lebih dari itu, aku ingin memperbaiki apa yang aku rusak. Jika aku bisa mengulang waktu, aku akan bertindak berbeda.”
Ron yang akhirnya angkat bicara, suaranya netral. “Kamu tahu, Apo, aku sudah lama move on. Tapi aku juga tahu, waktu itu kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan. Aku sudah melihatnya dari cara kamu ragu-ragu dalam segala hal.”
Jesse menimpali, lebih santai. “Sama di sini. Kamu memang membuatku bingung waktu itu, tapi aku rasa, kita semua pernah melakukan kesalahan. Lagipula, aku senang mendengar kamu akhirnya menemukan seseorang yang membuatmu bahagia.”
Mendengar dukungan dari Jesse dan Ron, Apo merasa lega, meskipun ada rasa bersalah yang masih membebani dirinya. Namun, Biel tetap diam, ekspresinya tidak melunak sedikit pun.
“Biel,” Apo memanggilnya, suaranya penuh harap. “Aku tahu aku mungkin yang paling menyakitimu. Dan aku tidak bisa memaksa kamu untuk memaafkanku. Tapi aku benar-benar minta maaf. Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal.”
Biel menatapnya dengan dingin. “Maaf? Kamu pikir kata maaf itu cukup? Kamu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun, Apo. Aku bahkan tahu kita putus dari orang lain, bukan dari kamu. Kamu tahu rasanya itu?”
Apo terdiam, merasa hatinya berat mendengar pengakuan itu. Ia tahu Biel benar. Saat itu, ia terlalu pengecut untuk berbicara langsung.
“Aku tahu aku salah, dan aku tidak mengharapkan kamu memaafkanku sekarang. Tapi aku berharap, suatu hari nanti, kamu bisa menemukan kedamaian.”
Biel berdiri, menatap Apo dengan tajam. “Kedamaian? Apo, kedamaian adalah hal terakhir yang aku dapatkan karena kamu. Kamu boleh hidup bahagia dengan Mile atau siapa pun, tapi jangan harap aku akan lupa.”
Ia pergi, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
Jesse meletakkan tangan di bahu Apo. “Berikan waktu padanya. Biel butuh waktu untuk melupakan, lebih dari kita.”
Ron menambahkan, “Yang penting kamu sudah mencoba, Apo. Itu hal yang tidak mudah untuk dilakukan.”
Apo mengangguk, meskipun perasaan bersalah masih mengendap di dadanya. “Terima kasih sudah mendengar aku. Aku benar-benar menghargai itu.”
Mereka mengakhiri pertemuan itu dengan ucapan selamat tinggal yang tenang, meninggalkan Apo duduk sendirian di kafe. Ia tahu ini bukan akhir yang sempurna, tapi ini adalah awal untuk berdamai dengan masa lalunya.
Ketika Apo kembali ke apartemen Mile, ia mendapati Mile sedang membaca di sofa, dengan secangkir teh di sampingnya. Mile menatap Apo, langsung menyadari perasaan campur aduk yang terpancar dari wajahnya.
Apo berjalan mendekat, duduk di sampingnya. “Sebagian besar, ya. Jesse dan Ron sudah move on, dan mereka mendukung kita.” Ia terdiam, lalu melanjutkan, “Tapi Biel… dia masih marah. Dan aku tidak menyalahkannya.”
Mile meraih tangan Apo, menggenggamnya erat. “Kamu sudah melakukan yang terbaik, Po. Itu yang paling penting.”
Apo menatap Mile, matanya penuh rasa syukur. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku tidak punya kamu di sisiku.”
“Kamu nggak perlu tahu,” jawab Mile sambil tersenyum. “Karena aku selalu ada di sini.”
Dalam pelukan Mile, Apo merasa bahwa meskipun masa lalunya belum sepenuhnya terselesaikan, ia memiliki masa depan yang lebih cerah di hadapannya. Mile adalah tempatnya kembali, seseorang yang mencintainya dengan tulus, apa pun yang terjadi.
Tbc.
Hai, lovely reader, tinggal beberapa part lagi Run to You tamat ya, kira-kira happy, sad or open ending ??? Hehehe... O iya, akhirnya bisa lihat MileApo di satu project, i am beyond happy right now 😆. So excited for the next project.