Apo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
TW : 🔞 Kiss Scene , Eksplisit (a bit) LOVE SCENE, NSFW ! MINOR MENYINGKIR DULU!!!!
Pagi itu, sinar matahari yang lembut menembus jendela kamar Apo. Mile masih tertidur di sebelahnya, wajahnya tampak damai, seolah malam sebelumnya tak menyisakan keraguan. Malam di mana Mile memberikan penjelasan, mengungkapkan tentang Chailai, dan meminta Apo untuk menjadi miliknya. Tapi bagi Apo, meskipun hatinya sudah mantap menerima Mile, masih ada perasaan-perasaan yang belum sepenuhnya bisa diabaikan.
Apo menatap wajah Mile yang tertidur lelap di sampingnya. Napasnya pelan dan teratur, menciptakan ritme yang menenangkan. Namun, hati Apo tetap bergemuruh. Meskipun Mile sudah menjelaskan segalanya, bayangan Chailai masih sesekali terlintas di pikirannya, membuat perasaan tidak nyaman yang sulit dihilangkan.
"Apa yang sedang aku pikirkan?" gumam Apo dalam hati, sambil bangkit perlahan dari tempat tidur, berusaha tidak membangunkan Mile.
Dia melangkah ke dapur dan membuat secangkir kopi, menenangkan diri dari kebingungan yang masih menggelayuti pikirannya. Saat dia duduk di meja dapur, secangkir kopi yang hampir dingin di tangan, bayangan wanita yang memeluk Mile kembali muncul di benaknya. Itu adalah pemandangan yang membuat hatinya terbakar cemburu.
Sebelum sempat melamun lebih jauh, Mile muncul dari arah kamar dengan rambut yang masih berantakan. "Kamu sudah bangun lebih dulu," katanya sambil tersenyum lembut. Dia berjalan mendekat dan mengecup kening Apo.
Apo tersenyum, meskipun sedikit terpaksa. "Ya, aku nggak bisa tidur lagi. Kopimu sudah siap kalau kamu mau," katanya sambil menyerahkan cangkir kopi yang lain.
Mile mengangguk dan duduk di seberang Apo. Suasana di antara mereka terasa nyaman, tapi ada sedikit ketegangan yang samar-samar terasa. Mile sepertinya bisa merasakannya. Dia menatap Apo sejenak sebelum bertanya, "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Apo terdiam. Dia tahu dia harus jujur, tapi kata-kata itu sulit keluar dari mulutnya. "Aku hanya… aku masih merasa tidak nyaman tentang Chailai," akhirnya dia mengaku. "Aku tahu kamu sudah menjelaskan semuanya, tapi rasanya sulit untuk benar-benar melupakannya."
Mile menghela napas dalam-dalam. Dia meletakkan cangkirnya di meja dan menatap Apo dengan penuh pengertian. "Aku mengerti. Aku tahu ini tidak mudah, dan aku tidak berharap kamu langsung bisa menerima semuanya begitu saja," jawabnya dengan lembut. "Tapi kamu harus tahu satu hal, Apo. Chailai adalah bagian dari masa lalu yang sudah selesai. Satu-satunya yang penting buatku sekarang adalah kamu."
Apo menatap Mile, dan untuk sesaat, perasaan tidak amannya sedikit mereda. "Aku hanya tidak ingin menjadi bayangan masa lalu orang lain. Aku ingin menjadi yang ada di depan, yang dilihat dan diinginkan," katanya, suaranya terdengar lemah.
Mile meraih tangan Apo, menggenggamnya erat. "Kamu bukan bayangan, Apo. Kamu adalah masa kini dan masa depanku. Kamu adalah yang aku pilih."
Kata-kata itu menembus perasaan ragu yang masih tersisa dalam hati Apo. Ada ketulusan dalam suara Mile, sesuatu yang membuatnya merasa lebih tenang. Tapi sebelum dia bisa menanggapi, Mile sudah bangkit dari tempat duduknya, menarik Apo untuk berdiri.
“Sekarang aku akan membuktikan sesuatu kepadamu,” katanya dengan nada yang lebih dalam.
Apo menatapnya dengan bingung, tapi tak sempat bertanya ketika Mile menuntunnya kembali ke kamar. Mata Mile yang penuh dengan hasrat dan tekad membuat jantung Apo berdebar lebih cepat. Setiap sentuhan Mile terasa lebih intim, lebih mendalam, seolah ingin menghapus semua keraguan yang tersisa dalam pikiran Apo.
Mile mendorong Apo ke tempat tidur, tubuh mereka berdua terjatuh di atas kasur dengan lembut. Tatapan mata Mile yang dalam membuat Apo tersentak dalam hasrat yang sulit dijelaskan. Tidak ada kata-kata, hanya nafas yang semakin cepat dan gemuruh detak jantung yang mengisi ruangan. Mile membungkuk dan mencium leher Apo, setiap ciuman terasa seperti janji yang tak terucapkan.
"Ini hanya tentang kita sekarang," bisik Mile di telinga Apo, sebelum perlahan membuka pakaian mereka berdua, mengungkapkan kulit yang panas dan bergetar oleh sentuhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apo terbenam dalam perasaan itu, dalam panas yang membakar antara mereka. Ciuman Mile yang semakin mendalam dan sentuhan tangannya yang menguasai setiap inci tubuh Apo membuatnya merasa tidak hanya diinginkan, tetapi dimiliki. Tubuh mereka menyatu, bergerak dalam irama yang sama, seolah berbicara dalam bahasa yang hanya mereka berdua mengerti.
Saat Mile menatapnya lagi, tak ada lagi keraguan di mata Apo. Semua pertanyaan tentang Chailai, semua kecemasan yang sempat menghantui, perlahan menguap. Hanya ada mereka berdua, dalam keintiman yang tak bisa dihentikan. Tubuh mereka terus berbaur dalam gelombang hasrat, semakin kuat dan intens, hingga akhirnya, dengan satu tarikan napas yang panjang, mereka mencapai puncak kebersamaan mereka.
Saat tubuh mereka terjatuh di atas kasur, lelah namun puas, Mile memeluk Apo erat. “Aku milikmu, dan kamu milikku, Apo. Tidak ada yang lain.”
Apo tersenyum dalam keheningan, merasakan kehangatan tubuh Mile yang masih memeluknya. Kali ini, dia tahu bahwa kata-kata itu benar-benar berarti. Mile telah membuktikannya, tidak hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan yang tak terbantahkan. Mereka berdua kini lebih dekat dari sebelumnya, dan Apo mulai merasa lebih yakin bahwa hubungan ini adalah sesuatu yang nyata—sesuatu yang layak diperjuangkan, terlepas dari bayangan masa lalu.
Ruangan itu menjadi saksi keintiman yang lebih dari sekadar fisik. Itu adalah kebersamaan yang mendalam, penuh makna, yang menguatkan janji tak terucap di antara mereka. Dan ketika mereka akhirnya tertidur dalam pelukan satu sama lain, tak ada lagi ruang bagi keraguan. Mile dan Apo kini benar-benar bersama, dalam segala hal.
Namun, di balik semua itu, masih ada perjalanan panjang yang harus mereka tempuh. Masa lalu mungkin sudah ditinggalkan, tapi masa depan masih penuh dengan tantangan yang belum mereka hadapi.
Tbc.
Dang it is not easy for me to write & make love scene, but i hope you guys still enjoy it.