Chapter 18 : One Step Closer

212 23 1
                                        






Suasana setelah wedding dinner Rhuang yang penuh emosi itu masih terasa mengendap di dalam pikiran Apo. Namun, perlahan, ia mulai merasakan perubahan dalam dirinya, sesuatu yang lebih tenang, lebih damai. Mile berdiri di sisinya dengan tegas, menjadi benteng yang tak tergoyahkan meskipun ada canda sindiran keluarga Apo tentang “The Wedding Angels of Death.” Momen itu, di mana Mile tanpa ragu mengungkapkan ketidaksetujuannya, adalah sebuah titik balik bagi Apo. Dia tahu, Mile benar-benar berbeda dari semua orang yang pernah ada dalam hidupnya.

Minggu berikutnya, Mile mengajak Apo pergi ke sebuah villa kecil yang tersembunyi di daerah pegunungan. “Aku pikir, ini waktu yang tepat buat kita keluar sebentar dari kota,” ujar Mile saat mereka berkendara menuju tempat tersebut.

Perjalanan itu memberikan Apo ruang untuk merenung. Di sebelah Mile yang tenang dan percaya diri, Apo mulai merasakan kebebasan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Jauh dari hiruk-pikuk kota dan tekanan sosial, ia mulai merasa seperti dirinya sendiri—bukan versi dirinya yang dibuat-buat untuk menyenangkan orang lain.

Ketika mereka sampai di villa, pemandangan indah pegunungan menyambut mereka. Di sinilah, di bawah langit yang terbuka dan udara segar, mereka menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan. Mereka berjalan-jalan di hutan, duduk di tepi sungai, dan bahkan berkemah di malam hari di bawah bintang-bintang.

Di salah satu malam, mereka duduk di sekitar api unggun. Mile menatap langit, kemudian memalingkan wajahnya ke arah Apo. “Kamu mulai kelihatan lebih tenang sekarang, Po. Aku senang melihatnya.”

"Aku nggak pernah tahu ada tempat seperti ini,” Apo berkomentar sambil menatap ke arah pemandangan luas dari atas bukit. “Tenang sekali.”

Apo tersenyum, meskipun di dalam hatinya masih ada kegelisahan kecil. “Aku merasa aneh, Mile. Selama ini aku selalu berusaha jadi seseorang yang diinginkan orang lain. Sekarang, aku bingung—siapa Apo yang sebenarnya?”

Mile meraih tangan Apo dan menggenggamnya dengan lembut. “Kamu nggak harus buru-buru menemukan jawabannya, Po. Yang penting, kamu terus mencari. Aku di sini buat menemani kamu dalam perjalanan itu.”

Mendengar kata-kata itu membuat Apo merasa lebih tenang. Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa tidak harus berjuang sendirian.

“Po, aku ingin bicara soal sesuatu,” Mile memulai, suaranya terdengar lembut namun penuh arti.

Apo menoleh, menunggu Mile melanjutkan.

“Aku sudah berpikir soal ini sejak lama, Po,” lanjutnya. “Aku ingin kamu tinggal bersamaku.”

Kata-kata itu menggantung di udara, membuat keheningan terasa lebih berat. Apo menatap Mile, sedikit terkejut, meski dalam hati dia tahu momen ini mungkin akan datang. Mereka sudah begitu dekat, begitu menyatu, tapi permintaan ini... adalah sesuatu yang jauh lebih besar.

“Aku tahu ini mungkin terasa tiba-tiba,” kata Mile, mencoba meyakinkan Apo. “Tapi aku merasa ini adalah langkah yang tepat. Aku ingin kita bersama, setiap hari.”

Apo merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Selama ini, mereka selalu menghabiskan banyak waktu bersama, tapi untuk benar-benar tinggal bersama? Itu adalah komitmen yang lebih besar daripada sekadar saling menemani. Namun, di sisi lain, Apo merasa nyaman. Mile adalah seseorang yang membuatnya merasa aman, bahkan ketika ketidakpastian hidup menghantam mereka.

“Kamu yakin?” Apo akhirnya bertanya, ingin memastikan Mile benar-benar memikirkan ini matang-matang.

Mile tersenyum, menyentuh tangan Apo dengan lembut. “Lebih dari yakin, Po. Aku ingin kita melangkah maju, bersama. Ini bukan soal cepat atau lambat. Ini tentang apa yang kita inginkan."

Apo terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Di antara nyala api unggun dan suasana sunyi pegunungan, dia tahu bahwa jawabannya juga sudah jelas.

Kehidupan Bersama

Beberapa minggu setelah perjalanan mereka ke villa, Apo memutuskan untuk pindah ke apartemen Mile. Kehidupan baru mereka berjalan lancar, seolah-olah ini adalah takdir yang sudah direncanakan sejak awal. Setiap pagi, mereka saling terbangun dengan senyuman, menikmati rutinitas sederhana seperti sarapan bersama atau berbagi cerita tentang pekerjaan masing-masing.

Namun, kebahagiaan itu tak sepenuhnya lepas dari guncangan. Sejak mereka tinggal bersama, perhatian media terhadap hubungan mereka mulai tumbuh. Sebagai seorang fotografer yang sudah cukup dikenal, Apo biasanya bisa menjaga kehidupan pribadinya tetap tertutup. Namun kali ini, dengan hubungan yang melibatkan Mile—salah satu pewaris keluarga kaya raya di Thailand—privasi mereka mulai terancam.

***

Suatu pagi, ketika Apo sedang menyeduh kopi di dapur, Mile datang dengan ekspresi sedikit khawatir sambil memegang ponselnya.

“Kamu udah lihat ini, Po?” Mile menyerahkan ponselnya kepada Apo, memperlihatkan berita online yang menjadi viral. Ada foto mereka berdua saat menghadiri sebuah acara bersama, diikuti dengan berbagai spekulasi tentang siapa sebenarnya Apo, pasangan dari pewaris keluarga terpandang itu.

Apo membaca headline-nya dengan hati yang mulai berdegup kencang: “Siapa Apo, Pacar dari Pewaris klan Romsaithong, Old Money Thailand?”

Mata Apo beralih ke berbagai komentar yang berspekulasi tentang masa lalunya, tentang profesinya sebagai fotografer, hingga berbagai teori liar yang tidak masuk akal tentang kehidupannya sebelum bersama Mile. Berita itu juga mengangkat masa lalu Mile, seolah-olah mencari sensasi dari kehidupan pribadi mereka.

“Aku tahu ini bisa terjadi cepat atau lambat,” kata Mile dengan tenang, “Tapi aku tidak suka kalau mereka mulai mengusik kamu.”

Apo menunduk, perasaan tak nyaman mulai merayapi dirinya. “Aku nggak pernah suka jadi sorotan, Mile. Dan sekarang, semua orang mulai menggali... tentang aku, tentang siapa aku sebelumnya.”

Mile mendekat, merangkul Apo dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Apo. “Aku di sini, Po. Kita akan hadapi ini bersama. Mereka boleh bicara apa saja, tapi mereka tidak tahu apa-apa tentang kita sebenarnya.”

Apo menutup matanya sejenak, merasakan kenyamanan dalam pelukan Mile. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa situasi ini membuatnya takut. Dia selalu menjadi sosok yang bekerja di balik layar, sebagai fotografer yang mengabadikan momen orang lain. Sekarang, tiba-tiba saja, ia menjadi pusat perhatian, sesuatu yang sangat dia hindari.

Sepanjang hari itu, ponsel Apo tidak berhenti berbunyi. Teman-temannya mengirim pesan, beberapa di antaranya dengan niat baik, mencoba memberi dukungan. Namun ada juga pesan-pesan yang membuat Apo semakin tertekan, seolah-olah semua orang berhak memberikan pendapat tentang hidupnya.

Di malam hari, setelah mereka selesai makan malam, Apo duduk di sofa dengan wajah penuh kekhawatiran. Mile duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya erat.

“Kita bisa lalui ini, Po. Aku nggak akan biarkan ini merusak kita.”

Apo menatap Mile, mencoba mencari kekuatan dalam tatapannya. “Aku nggak peduli apa yang mereka bilang tentang aku, Mile. Tapi aku takut ini akan berdampak pada kamu, pada hidup kamu.”

Mile menggeleng pelan. “Kamu adalah bagian dari hidupku sekarang, Po. Dan aku nggak akan membiarkan siapa pun memisahkan itu. Aku nggak peduli seberapa keras mereka mencoba. Kamu dan aku, kita lebih kuat dari semua ini.”

Apo terdiam sejenak, meresapi kata-kata Mile. Meski ada ketakutan, ada juga perasaan lega bahwa dia tidak harus menghadapi ini sendirian. Mile selalu ada di sisinya, siap melindungi dan menghadapi apa pun yang datang.

Dan dengan itu, meski ada awan gelap yang mulai menggantung di atas mereka, Apo tahu bahwa selama Mile ada di sampingnya, dia bisa menghadapi badai apa pun.



Tbc.



RUN TO YOU - COMPLETED (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang