***
Pagi itu, Apo duduk di kafe tempat biasanya ia bertemu dengan Peung, sahabat masa kecilnya. Peung, dengan senyum cerianya yang khas, sudah menunggu di sana dengan secangkir kopi di tangan, dan matanya berbinar penuh antusias. Peung adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Apo merasa lega meski berada dalam tekanan batin, karena Peung tahu cara mendengarkan dengan sabar dan menanggapi dengan candaan yang tepat saat diperlukan.
“Jadi, Apo... kali ini cerita apa yang kamu bawa buatku? Jangan bilang kamu mau putusin Mile juga, kayak tunangan-tunangan kamu yang dulu," Peung membuka percakapan dengan gaya santainya, sembari menyeruput kopi dengan anggun.
Apo tertawa kecil, meski dalam hatinya, ada sedikit kecemasan yang menggerogoti. “Jangan bercanda, Peung. Ini serius,” katanya, berusaha menahan senyum. Ia tahu Peung tidak bermaksud menyindir, tapi tetap saja, topik itu menyentuh titik rapuh dalam dirinya.
Peung mengangkat alisnya, bersiap mendengarkan lebih lanjut. “Oke, oke. Aku serius sekarang. Tapi jujur, aku masih kaget kamu udah tiga bulan sama Mile dan belum ada tanda-tanda... ya kamu tahu... Wedding Angels of Death itu muncul lagi.”
Apo tertawa lagi, tapi kali ini dengan rasa sedikit bersalah. “Ya, kamu benar soal itu. Sepertinya kali ini... berbeda,” jawabnya pelan. "Tapi itu juga yang bikin aku khawatir." Peung menatapnya dengan bijaksana, meski senyumnya tetap terjaga. "Kamu khawatir Mile akan tahu soal Jesse? Atau... soal yang lain?"
Apo menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Semua, Peung. Mile nggak tahu aku pernah bertunangan beberapa kali, dan dia juga nggak tahu aku memutuskan Jesse hanya lima bulan lalu, tepat sebulan sebelum aku ketemu dia."
Peung meletakkan cangkirnya, tertarik penuh. "Dan kamu takut dia bakal mikir kamu nggak bisa komitmen? Apo, kamu tahu kamu nggak harus terus-terusan menyalahkan diri sendiri soal itu, kan?"
Apo menunduk, memandang tangan-tangannya yang saling menggenggam. "Itu bukan soal takut komitmen, Peung. Aku selalu merasa... bersama mereka, aku nggak pernah jadi diriku sendiri. Aku selalu jadi Apo versi mereka. Apa yang mereka mau, itulah yang aku lakukan. Dan sekarang, dengan Mile... aku takut, aku nggak tahu siapa aku sebenarnya. Aku nggak tahu apa aku bisa jadi diri sendiri bersamanya.”
Peung menatapnya lama, lalu tersenyum lembut. "Kamu bukan The Wedding Angels of Death, Po. Kamu cuma... belum nemuin orang yang tepat. Kamu nggak bisa terus ngukur diri kamu dari mantan-mantan tunangan kamu yang nggak ngerti kamu sebenarnya. Dan Mile? Dari yang aku lihat, dia beda. Dia nggak akan narik kamu ke arah yang nggak kamu suka."
Apo mengangguk, meski rasa ragu itu masih ada di dalam hatinya. “Aku harap begitu, Peung. Aku harap kali ini beda.”
Kencan Pagi Bersama Mile
Pagi itu, Mile dan Apo memutuskan untuk pergi sarapan bersama di sebuah bistro kecil yang tenang. Tempat itu tersembunyi di tengah Bangkok, dengan suasana hangat dan nyaman. Ini bukan kali pertama mereka sarapan bareng, tapi hari itu terasa istimewa bagi Apo, karena ia mulai merasakan hubungan mereka melangkah ke arah yang lebih serius.
Mereka duduk di sebuah meja dekat jendela besar, memandang keluar ke jalanan yang perlahan mulai ramai dengan orang-orang yang bergegas menuju aktivitas pagi mereka. Mile terlihat santai, mengenakan kemeja kasual, sementara Apo sedikit lebih formal dalam pilihan bajunya—sesuatu yang Peung sering goda sebagai "cara Apo selalu berusaha tampil sempurna di depan cowok yang dia suka."
Setelah memesan kopi, Mile memandang menu sarapan dengan serius, kemudian menatap Apo dengan senyum hangatnya. “So, what would you like your egg for breakfast?” tanyanya.
Pertanyaan sederhana itu membuat Apo terdiam. Telur? Bagaimana dia suka telur untuk sarapan? Sejenak, pikirannya melayang ke masa lalu. Selama bertahun-tahun, setiap kali tunangannya dulu bertanya soal makanan, ia selalu menjawab dengan preferensi yang sama seperti mereka. Jesse suka telur mata sapi setengah matang, maka Apo selalu memesan yang sama. Tunangan sebelumnya suka telur orak-arik, jadi Apo ikut suka telur orak-arik. Tapi sekarang? Untuk pertama kalinya, Apo sadar bahwa dia tidak pernah benar-benar tahu apa preferensi sarapannya sendiri. Mile menatapnya, sedikit bingung dengan keheningan Apo. “Apo? Kamu suka yang gimana?”
Apo tersenyum canggung, menyembunyikan kebingungannya. “Uhm... aku... nggak yakin. Mungkin scramble saja?” Ia mencoba untuk tetap tenang, meskipun di dalam hatinya, ia merasa seperti tersesat. Sesederhana pertanyaan itu, tapi ia merasa seperti menghadapi dilema besar tentang siapa dirinya.
Mile tersenyum, lalu mengangguk. “Oke, scramble it is. Aku pesan yang sunny side up.”
Apo menatap Mile dengan campuran perasaan kagum dan ketakutan. Bagaimana mungkin satu pertanyaan sederhana bisa mengguncang rasa dirinya? Selama ini, ia terbiasa menyesuaikan diri dengan orang lain, sampai-sampai ia lupa apa yang ia inginkan sendiri. Tapi Mile? Mile tidak pernah menuntut apa pun darinya. Mile hanya ingin Apo menjadi dirinya sendiri—dan itu menakutkan, karena Apo tidak yakin siapa dirinya sebenarnya.
Saat makanan mereka datang, Mile dan Apo mengobrol seperti biasa, dengan tawa dan candaan di antara mereka. Tapi di dalam kepala Apo, masih ada kegelisahan yang menggelayut. Bagaimana jika Mile suatu hari tahu bahwa selama ini, ia selalu menyesuaikan diri dengan orang lain? Bagaimana jika Mile tahu tentang Jesse, dan semua tunangannya yang dulu? Apa Mile akan tetap melihatnya dengan cara yang sama?
Setelah sarapan, mereka berjalan-jalan di taman dekat bistro. Suasana pagi yang sejuk membuat obrolan mereka semakin hangat. Di satu titik, Mile menggenggam tangan Apo, membuatnya terkejut. Tapi tidak ada kecanggungan di sana—hanya kehangatan.
“Aku senang kita bisa punya pagi kayak gini,” kata Mile dengan suara lembut. “Aku tahu hubungan kita masih di awal, tapi aku merasa semakin nyaman sama kamu, Po.”
Apo tersenyum, meski di dalam hatinya masih ada keresahan yang belum sepenuhnya hilang. “Aku juga, Mile. Aku juga.”
Tapi satu hal yang Apo tahu, adalah bahwa ia harus segera jujur kepada Mile. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu saat nanti. Dan saat itu tiba, ia hanya bisa berharap Mile akan tetap mencintainya, meski tahu seluruh kebenaran tentang siapa dirinya.
Tbc.
Hai, Happy Sunday & enjoy the story 😁
God Bless
See u next week y'all 😃
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN TO YOU - COMPLETED (END)
RomanceApo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
