Chapter 22: Uniting Families

240 23 11
                                        

*****

Kediaman keluarga Mile, sebuah rumah besar bergaya kolonial yang dikelilingi taman hijau, malam itu terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu kristal menggantung di ruang makan utama, menerangi meja panjang yang dihiasi bunga segar dan lilin-lilin beraroma lembut. Ini adalah malam penting, malam ketika keluarga besar Mile dan Apo bertemu untuk pertama kalinya, sebuah langkah yang menjadi simbol penyatuan dua keluarga dari latar belakang yang berbeda.

Mile berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan kemeja putih sederhana namun elegan, dengan lengan digulung hingga siku. Tatapannya mencari Apo, yang masih sibuk berdandan di kamar tamu.

"Kamu siap, Po?" tanya Mile, mengetuk pintu pelan.

"Sebentar lagi," jawab Apo, suaranya sedikit gugup.

Ketika pintu terbuka, Mile hampir kehilangan kata-kata. Apo mengenakan kemeja biru muda dengan potongan sederhana namun memancarkan pesona alami yang membuatnya terlihat sempurna. Rambutnya ditata rapi, dan wajahnya menunjukkan sedikit kegugupan yang membuat Mile tersenyum.

"Kamu terlihat luar biasa," kata Mile sambil meraih tangan Apo, memberikan sentuhan menenangkan. "Keluargaku akan menyukaimu."

"Bagaimana dengan keluargaku? Mereka... agak berisik," ujar Apo dengan senyum canggung.

"Itu justru yang aku suka," jawab Mile santai. "Mereka akan membuat suasana semakin hidup."

Kedatangan Keluarga Apo

Mobil keluarga Apo tiba lebih dulu, dan seperti dugaan Apo, suasana langsung berubah riuh. Rhuang, kakak Apo, turun dari mobil dengan senyum lebar, diikuti oleh orang tua mereka yang tampak antusias. Peung juga hadir, tentu saja, mengenakan gaun floral cerah dan ekspresi penuh semangat seperti biasanya.

"Rumahnya besar sekali!" seru Peung, matanya berkilauan. "Aku merasa seperti masuk ke set drama kerajaan!"

"Peung, jangan mulai," ujar Apo sambil menutup wajahnya dengan tangan.

Tapi Mile hanya tertawa. "Aku suka gaya Peung. Dia membuat semuanya lebih ceria."

Setelah keluarga Apo masuk, mereka langsung disambut oleh ibunda Mile, seorang wanita anggun dengan senyum hangat yang langsung memeluk Apo tanpa ragu.

"Apo, akhirnya kita bertemu lagi," katanya dengan lembut. "Mile banyak bercerita tentang kamu. Kamu tahu, sejak pertama kali dia menyebut namamu, aku sudah tahu kamu spesial."

Apo tersipu, merasa diterima dengan cara yang belum pernah ia alami sebelumnya.

"Terima kasih, tante..." jawabnya pelan.

"Oh, jangan panggil aku tante. Panggil aku ibu," jawabnya sambil tertawa kecil. "Kamu sekarang bagian dari keluarga ini."

Dinamika di Meja Makan

Ketika semua orang duduk di meja makan, suasana mulai terasa lebih hangat. Keluarga Mile, meskipun dikenal dengan sikap mereka yang sedikit formal, tampak terhibur dengan kehadiran keluarga Apo yang penuh canda.

"Jadi, Mile, apakah kamu tahu julukan Apo?" tanya Peung tiba-tiba, memulai salah satu topik yang membuat Apo langsung gelisah.

"Peung, jangan!" Apo memperingatkan, meskipun ia tahu itu sia-sia.

"Wedding Angels of Death," kata Peung dengan nada dramatis, membuat semua orang di meja terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak, termasuk Mile.

"Peung, aku serius!" Apo mengeluh sambil menutup wajahnya dengan tangan.

"Tapi kamu harus akui, itu legenda. Tidak semua orang bisa mendapatkan julukan seperti itu," sahut Peung dengan bangga, seolah itu pencapaian besar.

Ibunda Mile ikut tertawa kecil. "Legenda atau tidak, itu semua ada di masa lalu. Dan sekarang, Apo bersama seseorang yang benar-benar mencintainya."

Mile meraih tangan Apo di bawah meja, memberikan tekanan lembut. "Itu benar. Masa lalunya membuatku mencintainya lebih dalam, karena aku tahu dia kuat untuk melewatinya."

Apo menatap Mile, merasa hatinya melunak oleh dukungan tanpa syarat dari semua orang di ruangan itu.

"Tuhan, jika ini memang sebuah mimpi, jangan bangunkan aku terlalu cepat, semuanya terasa begitu baik, damai, tenang & indah." Doa Apo dalam hati ketika melihat kedua keluarga saling bercengkerama di malam itu.

Dan di sela-sela makan malam, ibunda Mile menarik Apo ke samping untuk percakapan pribadi. Mereka duduk di teras kecil yang menghadap taman, ditemani cahaya bulan dan angin malam yang sejuk.

"Ibu tahu, mungkin situasi ini terasa menegangkan untukmu," ujar ibunda Mile sambil menatap Apo dengan lembut. "Tapi kamu harus tahu bahwa kami menerima kamu apa adanya. Mile mencintai kamu, dan itu sudah cukup bagi kami."

Apo menunduk, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya hanya... takut tidak cukup baik untuk Mile."

Ibunda Mile meraih tangan Apo, menggenggamnya erat. "Cinta tidak pernah tentang menjadi cukup atau tidak. Kamu sudah cukup hanya dengan menjadi dirimu sendiri, Apo. Mile melihat itu, dan aku juga."

Air mata Apo jatuh, tapi kali ini bukan karena kesedihan, melainkan rasa syukur yang mendalam. Untuk pertama kalinya, ia merasa diterima tanpa syarat.

***

Setelah acara makan malam selesai dan tamu-tamu mulai pulang, Mile membawa Apo ke balkon kamar mereka. Udara malam terasa segar, dan lampu-lampu kota terlihat berkilauan dari kejauhan.

Mile berdiri di belakang Apo, melingkarkan lengannya di pinggang pria itu, menariknya lebih dekat.

"Terima kasih sudah menjalani hari ini denganku," bisik Mile di telinga Apo.

Apo menoleh, menatap Mile dengan mata yang penuh cinta. "Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu membuatku merasa diterima di dunia yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan."

Mile tersenyum sebelum menunduk, memberikan ciuman lembut di bibir Apo. Apa yang dimulai sebagai ciuman sederhana segera berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih penuh gairah. Mereka melupakan semua kekacauan yang terjadi di sekitar mereka, tenggelam dalam momen yang hanya milik mereka berdua.

Saat mereka akhirnya terlepas dari pelukan satu sama lain, Mile menatap Apo dengan serius.

"Apo," ia memulai, suaranya rendah tapi penuh makna. "Have you ever captured both of us in a marriage?"

Pertanyaan itu membuat Apo membeku sejenak, jantungnya berdebar kencang. Tapi sebelum ia sempat menjawab, perasaan mual tiba-tiba menghantamnya. Ia menutup mulutnya, bergegas ke kamar mandi dengan Mile yang panik mengikutinya.

"Apo, kamu baik-baik saja?" tanya Mile, jelas khawatir.

Apo mengangguk pelan setelah beberapa saat. "Aku rasa... aku hanya butuh istirahat."

Namun, di dalam hati, Apo mulai merasa ada sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya. Sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.

Tbc.



Hai, beberapa hari yang lalu saya baca ulang cerita ini, chapter by chapter, kok rasanya Run to You itu terlalu ringan, padat & gak banyak konflik ya 😅.

Semoga suka dengan Chapter ini ya.

See you soon dear & God Bless all.

Love MileApo to the Max Level 😍

RUN TO YOU - COMPLETED (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang