TW : KISS SCENE 🔞 EKSPLISIT (A BIT)
MINOR DIHARAPKAN MENYINGKIR DULU!!!
Sejak pertemuan terakhir mereka di restoran, hubungan antara Apo dan Mile perlahan memasuki fase baru. Selama satu bulan, mereka sering menghabiskan waktu bersama di luar konteks pekerjaan. Tidak ada kontrak atau proyek yang membayangi, hanya momen-momen yang dibangun dari rasa saling memahami dan keterbukaan. Mulai dari makan malam santai di tempat favorit mereka hingga berjalan-jalan di taman, hubungan keduanya semakin berkembang dalam ritme yang tak terlalu terburu-buru.
Selama satu bulan itu, Mile dan Apo terus menjajaki hubungan mereka tanpa terburu-buru, tetapi tanpa keraguan. Mereka menjalin komunikasi yang semakin dalam, berbagi lebih banyak hal tentang diri masing-masing. Apo yang awalnya canggung mulai terbiasa dengan kehadiran Mile, sementara Mile, meski terlihat tenang dan terkontrol, sebenarnya mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit. Mereka sering menghabiskan waktu di tempat-tempat favorit mereka-restoran kecil yang tenang, kafe dengan kopi nikmat, atau hanya berjalan santai di taman kota.
Suatu sore, mereka bahkan pergi ke pantai, menikmati matahari terbenam yang keemasan, diiringi suara deburan ombak. Momen-momen seperti itu membuat hubungan mereka semakin nyata, jauh dari dunia yang biasanya penuh dengan pekerjaan dan tekanan. Mile sesekali menggoda Apo, membuat suasana menjadi lebih santai dan penuh tawa. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh, sesuatu yang lebih kuat dari sekadar pertemanan. Apo mulai merasa jatuh semakin dalam ke dalam perasaan yang ia sendiri tak bisa lagi abaikan.
Namun, di balik kehangatan hubungan mereka, Apo masih menyimpan kekhawatiran. Ia tahu Mile adalah pria yang penuh dengan rahasia, terutama soal masa lalunya. Meski mereka semakin dekat, ada sisi dari Mile yang terasa jauh dan tak tersentuh. Apo pernah mendengar rumor bahwa Mile memiliki mantan istri, tapi Mile belum pernah membahasnya, dan Apo pun terlalu enggan untuk bertanya.
Suatu hari, ketika Apo sedang mengambil gambar di sebuah galeri seni, ia tak sengaja melihat Mile di kejauhan. Mile tidak sendirian. Ia sedang berbicara dengan seorang wanita yang terlihat elegan dan berkelas. Pembicaraan mereka tampak intens, dan dari bahasa tubuh mereka, jelas bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar percakapan biasa. Wanita itu sesekali menyentuh lengan Mile, dan pada akhir pembicaraan, mereka berpelukan erat.
Apo berdiri terpaku, dadanya terasa sesak. Sejenak ia bertanya-tanya, siapa wanita itu? Apa hubungan Mile dengannya? Hatinya mulai dipenuhi keraguan dan kecemburuan. Meskipun ia tahu bahwa ia belum memiliki hubungan resmi dengan Mile, melihat pria itu bersama wanita lain, terlebih dengan begitu intim, menimbulkan rasa sakit yang tak bisa diabaikan.
Tanpa menunggu lebih lama, Apo memutuskan untuk pergi dari galeri. Ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya, kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang tak bisa dijawabnya sendiri. Rasa cemburu dan frustasi perlahan menguasai dirinya.
Malam itu, setelah pulang ke apartemennya, Apo mencoba menenangkan diri. Namun, perasaan cemburu terus menggerogoti pikirannya. Ia membuka kulkas dan menemukan beberapa botol bir yang tersimpan di dalamnya. Tanpa berpikir panjang, ia membuka satu botol, lalu botol berikutnya. Setiap tegukan bir seolah meredakan sedikit kecemasan yang dirasakannya, tetapi itu juga membuat pikirannya semakin kacau.
Setelah botol ketiga, dengan perasaan yang semakin kusut, Apo tiba-tiba meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan dan mengetik dengan tangan gemetar, tak terlalu peduli apa yang ia tulis. "Aku sudah terlalu jatuh ke dalam cintamu, tapi kamu terlampau asik dengan wanita lain."
Apo mengirim pesan itu ke Mile tanpa berpikir panjang. Dalam keadaan mabuk, ia bahkan tak sadar bahwa pesannya mungkin terdengar dramatis dan penuh emosi. Ia hanya merasa perlu mengungkapkan perasaannya, meskipun dalam cara yang kurang tepat. Bahkan setelah mengirim pesan itu, emosi yang ia rasakan tak mereda. Justru, semakin menguasainya. Tanpa sadar, ia menekan tombol video call dan menunggu sambungan tersambung.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN TO YOU - COMPLETED (END)
RomantizmApo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
