Chapter 7 : Love symptomps

324 28 5
                                        

Setelah hari yang panjang di studio, meski suasana perlahan mereda, pikiran Apo masih penuh dengan kenangan dari sesi pemotretan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah hari yang panjang di studio, meski suasana perlahan mereda, pikiran Apo masih penuh dengan kenangan dari sesi pemotretan. Canda tawa dengan Mile dan tim kreatif terasa lebih hangat dari biasanya, namun ada sesuatu yang berbeda, lebih dari sekedar humor biasa. Rasa aneh yang sempat dirasakannya semakin kuat. Mile, sosok yang dulu hanya dipandang sebagai klien, kini seperti menciptakan perasaan baru yang tak bisa Apo abaikan.

Di tengah jalan pulang, ponsel Apo bergetar di kursi penumpang. Sambil menunggu lampu merah, ia melirik layar. Sebuah pesan muncul.

Mile: "Terima kasih untuk hari ini. Foto-fotonya pasti keren, kan? Aku sudah tidak sabar untuk lihat hasil akhirnya."

Apo tersenyum kecil, merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Pesan sederhana itu tidak seharusnya membuatnya merasa seperti ini. Ia mengetik balasan dengan cepat.

Apo: "Tunggu saja. Kamu akan jadi lebih kaget."

Setelah mengirim pesan, ia meletakkan ponsel kembali di kursi dan melanjutkan perjalanan. Namun, bayangan Mile tidak juga hilang dari pikirannya. Wajah Mile yang serius namun penuh perhatian, senyumnya yang samar tapi hangat—semuanya terus bermain di benaknya.

Sesampainya di apartemen, Apo langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, menarik napas panjang. Ia mengerutkan dahi, mencoba fokus untuk tidak memikirkan Mile. Namun, pikirannya seakan memberontak. Perasaan aneh yang hadir sejak awal sesi foto semakin kuat saat Mile dan tim kreatif mulai melontarkan candaan tak terduga.

"Apa benar ada sesuatu antara kami?" pikir Apo, tapi dia segera menepisnya. "Tidak, ini tidak mungkin. Mile hanya klien."

Namun, kenangan tentang bagaimana Mile secara tak sengaja menjatuhkan tirai di studio dan bagaimana mereka tertawa bersama tak bisa hilang dari benaknya. Situasi itu seharusnya canggung, tetapi berakhir menjadi sesuatu yang menyenangkan, bahkan bagi Apo yang biasanya menjaga jarak profesional.

Bayangan tawa Mile saat mencoba menari dengan canggung bersama tim kreatif muncul kembali. Apo tak bisa menahan senyum saat mengingat bagaimana Mile berusaha mengikutinya dalam gerakan tari aneh. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu bagaimana menari, tapi suasana yang tercipta penuh dengan kebahagiaan yang aneh namun menyenangkan. Mile bukan hanya sekedar CEO serius yang ia kenal selama ini. Di balik semua profesionalisme dan sikap tenangnya, Mile ternyata memiliki sisi yang lebih hangat dan manusiawi.

Setelah beberapa saat, ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Mile.

Mile: "Aku nggak pernah nyangka kita bisa bersenang-senang seperti tadi. It was... unexpected. But fun."

Apo menatap layar ponselnya, hatinya berdebar sedikit lebih cepat. Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. Dia mengetik balasan.

Apo: "Ya, unexpected, tapi seru juga. Nggak nyangka CEO bisa berantakin studio seperti itu."

Tidak lama, Mile membalas.

Mile: "Hey, aku baru tahu kalau aku punya bakat tersembunyi dalam membuat kekacauan."

Apo tertawa pelan, merasa sedikit lebih rileks. Mereka berdua mulai terlibat dalam percakapan yang mengalir begitu saja. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, hubungan mereka terbatas pada pekerjaan—fotografi dan bisnis. Tapi kali ini, percakapan mereka terasa lebih pribadi, lebih hangat.

Ketika obrolan mereka semakin larut, Apo mulai merasa ada keakraban yang tumbuh di antara mereka. Mile bukan lagi hanya klien penting, tetapi seseorang yang bisa dia ajak bercanda dan berbagi tawa. Tapi di balik semua percakapan ringan itu, ada sesuatu yang mulai mengusik hati Apo. Sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan profesional. Mungkin Mile merasakan hal yang sama, atau mungkin tidak. Namun, yang jelas, perasaan ini tidak mudah hilang begitu saja.

Setelah beberapa pesan lagi, obrolan mereka berhenti, dan Apo meletakkan ponselnya di meja. Dia menatap langit-langit, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Di sisi lain, Mile yang berada di apartemennya sendiri, juga tak bisa berhenti berpikir. Sambil duduk di kursi kerjanya, Mile menatap layar ponselnya yang masih memunculkan balasan terakhir dari Apo. Tatapannya kosong, namun pikirannya bergejolak. “Kenapa aku merasa sangat nyaman ngobrol sama dia? Ini nggak biasa.” Bagi Mile, hari itu seperti membuka sisi dirinya yang jarang terlihat—sisi yang lebih spontan, yang bahkan dia sendiri kadang tidak sadar dia miliki. Tetapi lebih dari itu, dia merasakan adanya koneksi dengan Apo yang berbeda dari yang pernah dia rasakan dengan orang lain. “Apa mungkin dia juga merasakan hal yang sama?” pikir Mile, namun segera ditepisnya
"Apa aku mulai menyukainya?" pertanyaan itu terlintas di benaknya, dan segera ia menepisnya. "Tidak, ini pasti hanya karena kami menghabiskan banyak waktu bersama."

Malam itu, saat Apo berbaring di tempat tidur, bayangan Mile kembali muncul di pikirannya. Tidak hanya tawa dan candanya, tetapi juga tatapan tajam Mile, perhatian yang dia berikan selama pemotretan, dan senyum kecil yang sering muncul tanpa sadar. Di tempatnya sendiri, Mile juga kesulitan memejamkan mata. “Kenapa rasanya nyaman banget setiap di dekat dia?” pikir Mile, merasa campuran antara penasaran dan khawatir. Perasaan ini seharusnya tidak ada, pikir Mile, apalagi dengan orang yang bekerja dengannya. Tapi semakin dia mencoba mengabaikannya, semakin kuat dorongan itu. “Besok pasti akan lebih aneh,” gumam Mile sebelum akhirnya menyerah pada rasa kantuk. Meski begitu, ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai menerima kenyataan bahwa hubungan mereka mungkin akan berubah. Mungkin, lebih dari sekadar rekan kerja, lebih dari sekadar candaan profesional

Pun isi kepala Apo terlalu berisik dengan momen canda di studio, ada sesuatu di dalam dirinya yang tak sabar untuk melihat bagaimana hubungan ini akan berkembang. Di balik semua canda dan tawa, ada perasaan yang lebih dalam, sesuatu yang mulai tumbuh—sesuatu yang bahkan Apo sendiri tidak yakin siap untuk menghadapinya.

Namun, seperti apa pun yang akan terjadi, satu hal yang pasti: Mile telah meninggalkan kesan yang lebih dari sekedar klien biasa. Dan meskipun Apo berusaha keras untuk tetap profesional, hatinya sudah mulai berkata lain.

Tbc.

2 Chapter done ya hari ini, sampai bertemu besok.

MILEAPOFOREVER 😍
God Bless All

RUN TO YOU - COMPLETED (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang