Apo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat Malam Menyapa lampu-lampu kecil menghiasi suite pengantin yang telah dihias dengan nuansa elegan namun hangat. Mawar putih dan lilin aromaterapi memenuhi ruangan, menciptakan suasana intim. Mile membuka pintu, membiarkan Apo melangkah masuk terlebih dahulu. Gaun putih sederhana yang Apo kenakan setelah resepsi masih melekat di tubuhnya, meski langkah-langkahnya tampak ragu.
“Po,” suara Mile rendah, sarat kelembutan. Ia meraih tangan Apo yang dingin, mengecupnya dengan penuh sayang. “Kenapa tegang seperti ini? Kau milikku sekarang, selamanya.”
Apo tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. “Aku hanya… semuanya terasa seperti mimpi.”
Mile tersenyum. “Lalu biarkan aku memastikan kalau ini nyata.”
The First Touch
Mile mendekati Apo perlahan, seperti pemangsa yang tahu betul kapan saatnya menerkam. Jemarinya menyentuh wajah Apo dengan hati-hati, membelai garis rahang hingga bibir bawah yang sedikit gemetar. "Po, kau tahu aku tak pernah terburu-buru saat menyentuhmu, kan?"
Apo mengangguk pelan, wajahnya sedikit memerah. "Tapi... Mile, kita sudah bersama begitu lama. Bukankah ini aneh? Seolah semuanya baru lagi."
Mile menggeleng, senyumannya berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. "Bukan aneh. Ini spesial. Karena malam ini adalah awal kehidupan baru kita."
Mile mulai mengecup lembut bibir Apo, perlahan namun intens. Sentuhannya seperti janji, menjanjikan dunia hanya untuk mereka berdua. Ia menarik tubuh Apo lebih dekat, membiarkan detak jantung mereka berpadu.
“Aku mencintaimu,” Mile berbisik di sela napas.
A Journey Into Intimacy
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mile memimpin Apo menuju tempat tidur yang telah dihiasi kelopak mawar. Tangannya dengan lembut mulai melepas sisa gaun Apo, setiap lapisan kain diangkat dengan penghormatan seolah-olah ia tengah membuka hadiah paling berharga. Apo, meskipun awalnya malu, mulai membalas sentuhan Mile dengan kepercayaan yang perlahan tumbuh.
Ketika akhirnya tidak ada lagi yang memisahkan mereka, Mile membelai tubuh Apo, memuja setiap inci yang terlihat. “Kau sempurna,” katanya dengan suara serak, penuh emosi. “Aku akan memastikan kau tahu betapa berharganya dirimu.”
Apo hanya bisa menarik Mile lebih dekat, membiarkan cinta mereka terungkap dalam gelombang keintiman yang lembut namun membara. Mereka saling menyentuh, tidak terburu-buru, seperti menjelajahi peta baru yang menuntun mereka ke kebahagiaan sejati.
Setiap napas yang diambil, setiap bisikan nama, memperkuat ikatan di antara mereka. Apo merasakan cinta Mile dalam setiap gerakan; tidak hanya fisik tetapi juga emosional. Ketika malam semakin larut, mereka mencapai puncak kebahagiaan bersama, membiarkan dunia menghilang sementara hanya ada mereka berdua.
The Morning After
Cahaya pagi menyusup melalui tirai, menyinari wajah mereka yang bersandar satu sama lain. Mile sudah terjaga lebih dulu, memperhatikan Apo yang masih terlelap dengan senyum tipis di bibirnya. Dengan lembut, Mile mengecup keningnya, membangunkannya.
“Pagi, calon papa,” goda Mile.
Apo membuka mata, mengerjap beberapa kali Apo membuka mata, mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum. “Pagi juga, calon ayah or maybe.... Daddy”
"Po, don't you dare ...."
"O Mile, i wouldn't dare.... Daddy "
"Babe, you'll be the death of me "
Romansa menyelimuti di tiap candaan yang terucap dari setiap bibir mereka pagi itu.
***
The Days of Cravings
Kehamilan Apo membawa warna baru dalam kehidupan mereka. Tanda-tanda awal mulai muncul—morning sickness, kelelahan, dan tentu saja ngidam yang membuat Mile harus bekerja keras memenuhinya.
Pada suatu malam, Apo menginginkan sesuatu yang aneh. “Mile, aku ingin makan durian… dengan saus cokelat.”
Mile yang sedang membaca dokumen di sofa menatap Apo dengan kaget. “Durian dan cokelat? Po, kau serius?”
Apo mengangguk dengan wajah penuh keyakinan. “Aku benar-benar ingin, Mile. Bayangkan… manis dan pahit itu pasti enak.”
Mile hanya menghela napas, tetapi akhirnya memenuhi permintaan aneh itu. Ia pergi ke pasar tengah malam, membeli durian, lalu mencampurkannya dengan saus cokelat di rumah. Apo memakannya dengan bahagia, membuat Mile tidak bisa menahan tawa.
Family Antics Kehamilan Apo juga menjadi pusat perhatian keluarga besar. Keluarga Mile, yang sudah mencintai Apo, semakin terlibat. Ibunda Mile sering datang membawa makanan sehat, sementara Peung sering mengganggu Apo dengan guyonan khasnya.
“Apo, kau tahu? Kalau bayi ini punya hidung besar seperti Mile, aku tidak akan kaget,” ledek Peung, yang langsung mendapat lemparan bantal dari Mile.
Suasana rumah mereka selalu penuh tawa. Bahkan ayah Apo, yang biasanya tenang, ikut sibuk merencanakan nama untuk bayi. “Bagaimana kalau kita beri nama sesuai bulan lahirnya? Kalau lahir bulan Juli, namanya bisa Juliano.”
Apo hanya bisa tertawa sambil menggeleng, merasa bersyukur memiliki keluarga besar yang begitu suportif.
Closing Scene: A Quiet Moment Malam itu, setelah semua orang pulang, Mile dan Apo duduk di sofa, berpelukan sambil menatap langit berbintang dari jendela.
“Apa kau takut, Po?” Mile bertanya, memeluknya erat.
“Aku tidak tahu. Tapi selama kau ada di sini, aku tahu semuanya akan baik-baik saja,” jawab Apo, suaranya lembut namun penuh kepercayaan.
Mile mengecup rambutnya. “Aku akan selalu ada di sini, untukmu, untuk bayi kita, untuk keluarga kita.”
Malam itu mereka tertidur di sofa, hati mereka penuh dengan harapan dan cinta untuk masa depan.
Hai, saya masih kangen sama pasangan ini, oleh karena itu terciptalah side story or extra chapter ini, so... enjoy reading all!!