*****
Beberapa hari setelah pertemuan dua keluarga, Apo merasa dunianya semakin sesak. Media semakin menjadi - jadi, berita itu terus berputar seperti pusaran badai. Setiap kali Apo membuka ponselnya, notifikasi berita dan komentar jahat menyerbunya. Ia merasa semakin kecil, semakin tak berdaya. Wawancara Biel yang menyudutkannya menyebar dengan cepat, menambah tekanan pada hubungan yang sudah rentan di bawah sorotan media. Biel menuduhnya sebagai seseorang yang "tidak bisa dipercaya dalam hubungan" dan secara implisit mempertanyakan ketulusan Apo dalam mencintai, seorang yang hanya bermain-main dengan hati orang lain. Kata-kata itu terasa seperti belati yang menancap dalam-dalam.
Apo meremas ponselnya, duduk di sofa ruang tamu dengan napas berat. Mile sedang berada di ruang kerja, membahas strategi hukum dengan timnya untuk menghadapi serangan media. Bahkan dalam situasi yang genting seperti ini, Mile tetap menunjukkan ketenangan luar biasa, sesuatu yang membuat Apo iri sekaligus terhibur.
Namun, di balik dinding yang memisahkan mereka, Mile tidak benar-benar tenang. Ia tahu ada sesuatu yang salah dengan Apo. Gestur kecil, kelelahan yang sering terlihat, perubahan emosional yang tiba-tiba-semuanya terlalu mencolok untuk diabaikan. Mile memilih untuk tidak memaksa. Baginya, Apo akan bicara ketika siap.
Ketakutan yang Menggerogoti
Sementara itu, tubuh Apo mulai menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa. Ia merasa mual setiap pagi, sering pusing, dan ada perasaan lelah yang tak tertahankan. Namun, yang paling membuatnya cemas adalah perubahan emosinya. Terkadang, ia menangis tanpa alasan yang jelas, dan itu semakin memperburuk perasaan bersalahnya terhadap Mile.
"Apa yang salah denganku?" bisiknya kepada dirinya sendiri, menatap bayangannya di cermin kamar mandi.
Pikirannya melayang ke kemungkinan yang membuat dadanya berdebar kencang. Namun, alih-alih merasa senang, ia justru dihantui rasa takut. Bagaimana jika benar? Bagaimana jika Mile tidak menginginkan ini di tengah kekacauan yang sedang mereka hadapi?
Mencari Perlindungan pada Peung
Apo akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan satu-satunya orang yang selalu memberinya kehangatan dan perspektif baru-Peung. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di luar kota, jauh dari sorotan media.
Peung menatap Apo yang tampak kusut, seperti seseorang yang membawa seluruh beban dunia di pundaknya. "Kamu nggak harus jalanin semua ini sendirian, Po. Kalau memang kamu curiga kamu hamil, kamu harus cari tahu dan ngomong sama Mile."
Apo menggeleng pelan, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku takut, Peung. Aku nggak mau ini bikin Mile tambah stres. Aku nggak tahu apa dia siap untuk hal ini, apalagi sekarang."
Peung menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Apo erat. "Po, dengar ya. Mile itu bukan orang yang bakal lari dari masalah. Kalau dia bisa hadapi dunia buat kamu, dia pasti juga bisa hadapi ini."
Keputusan Besar
Setelah pertemuan dengan Peung, Apo memberanikan diri untuk membeli test pack. Malam itu, dengan jantung berdegup kencang, ia mengunci diri di kamar mandi. Ketika hasil positif muncul, ia terduduk di lantai, air mata bercucuran tanpa bisa ia kendalikan. Ini adalah momen yang begitu besar, namun ia merasa sendirian di dalamnya.
Pintu kamar mandi terdengar diketuk perlahan. Suara Mile terdengar dari luar. "Po? Kamu baik-baik saja?"
Apo tidak menjawab. Ketukan itu berulang lagi, kali ini lebih pelan namun tegas. "Po, kalau ada sesuatu, kamu bisa cerita sama aku. Aku di sini."
Pengakuan yang Tertunda
Mile akhirnya masuk setelah mendapati pintu kamar mandi tidak terkunci. Ia menemukan Apo duduk di lantai dengan wajah kusut, memegang test pack di tangannya. Ekspresi Mile berubah, namun tidak ada tanda amarah atau kekecewaan. Ia berlutut di depan Apo, menggenggam bahunya lembut.
"Kamu kenapa nggak bilang apa-apa?" tanyanya dengan nada pelan, penuh perhatian.
Apo terisak. "Aku takut, Mile. Aku nggak tahu apa ini waktu yang tepat. Aku nggak tahu apa kamu akan senang... atau justru kecewa."
Mile menarik Apo ke pelukannya, membiarkan kekasihnya meluapkan semua ketakutannya. "Po, dengar aku. Tidak ada satu hal pun yang bisa bikin aku kecewa sama kamu. Kalau ini benar, kalau kita akan punya keluarga, aku nggak bisa lebih bahagia dari ini."
Apo mendongak, matanya mencari kejujuran di wajah Mile. "Tapi media... Biel... semua orang... aku nggak tahu apa aku bisa."
"Lupakan mereka," jawab Mile dengan tegas. "Yang penting sekarang adalah kita. Aku akan lindungi kamu, seperti yang selalu aku lakukan. Aku nggak peduli apa kata dunia. Aku cuma peduli sama kamu... dan anak kita."
Awal Baru di Tengah Kekacauan
Malam itu, mereka duduk bersama, membicarakan masa depan untuk pertama kalinya dengan kejelasan yang baru. Mile meyakinkan Apo bahwa mereka akan menghadapi semuanya bersama, bahwa tidak ada alasan untuk takut atau merasa tidak cukup baik.
"Po," kata Mile sambil menggenggam tangan Apo. "Aku sudah bilang ke kamu sebelumnya, aku ingin hidup dengan kamu. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di sini."
Dalam pelukan Mile yang hangat, Apo mulai merasa sedikit lebih ringan. Ia tahu perjalanan mereka tidak akan mudah, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian.
Dan di luar sana, dunia mungkin terus berbisik, tapi di dalam rumah kecil mereka, sebuah kehidupan baru perlahan mulai bersemi.
Tbc.
Hai, gak terasa kurang beberapa chapter lagi Run to You tamat. Semoga masih pada betah ya.
Kalau ada yang mau ditanyakan soal ini, feel free to ask ya dear 😊.
See you next chapter ....
God Bless All
MileApo Lover
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN TO YOU - COMPLETED (END)
RomanceApo Nattawin adalah seorang fotografer muda yang penuh semangat, sukses, dan berjiwa bebas. Namun, di balik pesonanya yang menarik, dia menyimpan label kontroversial: "The Wedding Angels of Death." Gelar ini tidak tanpa alasan; Apo telah berulang ka...
