Chapter 25 : Wedding Bells & Beautiful Chaos

292 26 2
                                        



*****



Sinar matahari pagi menyelinap ke dalam kamar, membangunkan Apo yang masih bergelung di bawah selimut. Di sampingnya, Mile sudah berdiri dengan secangkir kopi dan sepiring kecil croissant. Dengan senyum lembut, Mile menyapa, "Selamat pagi, calon pendamping hidupku, "

Apo membuka matanya perlahan, lalu memandang cincin yang melingkar di jarinya. “Aku merasa seperti mimpi. Benarkah ini semua nyata?”

Mile duduk di tepi tempat tidur, menyelipkan rambut Apo yang kusut ke belakang telinganya. "Lebih dari nyata. Ini adalah awal baru kita."

Namun, rasa panik mulai muncul di wajah Apo. “Mile, kita punya waktu tiga bulan untuk menyiapkan pernikahan. Kamu sadar apa artinya? Jadwal padat, keluarga kita yang bersemangat, media yang terus mengintai…”

Mile hanya terkekeh dan menarik Apo ke pelukannya. “Semua akan baik-baik saja, Po. Kita punya tim terbaik di sisi kita. Ingat, kamu tidak sendiri dalam ini. Kamu cukup jaga kesehatan tubuhmu & anak kita."

***

Seminggu kemudian, Apo mendapati dirinya berada di ruang rapat kantor Mile bersama tim kreatif yang terdiri dari Lisa, Jon, dan Aom, ditambah Peung, sahabat setianya yang lebih sering menambah kekacauan daripada membantu.

“Oke, mari kita mulai dengan tema. Aku pribadi suka warna pastel dengan aksen emas. Elegan dan romantis.”

“Basi Lisa..., Kita perlu tema yang lebih segar. Rustic chic. Bayangkan suasana taman, lampu-lampu kecil, dan dekorasi bunga liar.”

“Jon, kalau menurutku, tema black-tie lebih cocok. Sesuatu yang klasik tapi tetap mewah. Bayangkan ruangan ballroom dengan chandelier besar, kalau menurutmu bagaimana Peung?”

“Aku punya ide. Bagaimana kalau tema ‘warung malam’? Jadi kita bisa pakai tenda-tenda kecil, sajikan makanan kaki lima—”

Semua orang terdiam sejenak sebelum mereka pecah tertawa. Apo menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.”

Lisa menepuk bahunya. “Tenang saja, Po. Apa pun yang terjadi, kami akan membuatmu terlihat seperti raja dalam pernikahanmu.”

"Entah aku harus merasa tenang atau cemas dengan segala pemikiran kalian"

***

Di hari lain, keluarga Mile dan Apo berkumpul di rumah besar keluarga Romsaithong untuk membahas rencana pernikahan. Sesi diskusi ini lebih mirip pertandingan debat.

Ibunda Mile: “Kita harus memesan bunga dari florist terbaik. Aku tahu seorang desainer bunga yang pernah menangani pernikahan kerajaan di Eropa.”

Ibunda Apo: “Ide bagus. Tapi kita juga harus tambahkan bunga melati dan kenanga. Aroma tradisionalnya akan membawa keberuntungan.”

Ayah Apo: “Dan jangan lupa soal katering. Aku tahu tempat yang bisa menyajikan makanan laut segar. Pernikahan tanpa udang bakar itu bukan pernikahan.”

Mile menatap Apo dari seberang ruangan, mencoba menahan tawa. Apo memelototinya, jelas-jelas meminta pertolongan. Tapi Mile hanya mengangkat bahu dengan santai.

Di tengah-tengah keramaian, nenek Mile menyela dengan suara pelan namun tegas. “Yang penting bukan dekorasi atau makanan. Yang penting adalah kalian berdua bahagia. Jangan biarkan detail kecil mengaburkan apa yang benar-benar penting.”

Hari fitting pun tiba. Apo, yang awalnya ingin memilih sesuatu yang sederhana, segera menyadari bahwa itu tidak mungkin.

Peung menariknya ke butik desainer terkenal di Bangkok. “Dengar, Po. Kamu akan menikahi Mile Romsaithong. Ini bukan waktunya untuk tampil biasa-biasa saja.”

Apo mengeluh, “Tapi aku tidak ingin terlihat seperti boneka.”

Namun, ketika dia mencoba setelan putih dengan aksen emas halus, dia mendapati dirinya berdiri di depan cermin dengan takjub. Bahkan Peung kehilangan kata-kata untuk beberapa saat sebelum berkata, “Kalau Mile tidak menangis melihat ini, aku akan mencubitnya sampai dia sadar betapa beruntungnya dia.”

Di sisi lain, Mile memilih setelan hitam klasik dengan potongan modern yang sempurna. Ketika Apo melihatnya untuk pertama kali, dia hanya bisa berkata, “Kamu terlihat seperti keluar dari film James Bond.”

Mile tersenyum, mendekat dan berbisik, “Dan kamu adalah pasangan Bond-ku.”

Malam Sebelum Pernikahan

Malam sebelum hari besar, Apo merasa gelisah. Dia meninggalkan rumah keluarga Mile dan kembali ke studio fotonya. Tempat itu selalu menjadi ruang pelarian baginya, tempat dia bisa berpikir tanpa gangguan.

Di sana, dia membuka album-album lamanya, menelusuri foto-foto yang mengingatkannya pada perjalanan hidupnya. Foto-foto mantan tunangannya membuatnya terdiam lama, memikirkan segala kesalahan dan keputusan yang pernah dia ambil.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Mile masuk dengan membawa secangkir teh jahe.

“Aku tahu kamu akan di sini,” kata Mile sambil duduk di samping Apo.

Apo menghela napas panjang. “Kadang aku merasa tidak pantas untukmu, Mile. Apa aku cukup baik untuk menjadi bagian dari hidupmu?”

Mile menggenggam tangannya erat. “Po, kamu tidak perlu menjadi sempurna. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup.”

Air mata mengalir di pipi Apo saat Mile menariknya ke dalam pelukan. “Kita akan melewati ini bersama,” bisik Mile.

Hari Pernikahan: Keajaiban yang Menginspirasi

Hari itu tiba dengan segala keindahannya. Taman tempat upacara berlangsung dihiasi dengan lampu-lampu kecil dan bunga-bunga liar. Setiap sudut memancarkan suasana romantis yang intim.

Saat Apo berjalan menuju altar, semua mata tertuju padanya. Tapi hanya satu tatapan yang benar-benar dia pedulikan—tatapan Mile yang penuh cinta.

Ketika mereka saling bertukar janji, air mata mengalir di mata banyak orang, termasuk Peung yang sibuk merekam momen itu dengan ponselnya.

“I do,” kata Mile dengan suara yang tegas namun lembut.

“I do,” jawab Apo, suaranya sedikit gemetar, tapi penuh keyakinan.

Saat ciuman pertama mereka sebagai suami dan suami menggema di tengah tepuk tangan dan sorakan, Apo merasa seolah dunia berhenti untuk sesaat.

Pesta dan Canda Tawa

Pesta pernikahan berlangsung meriah, dengan keluarga dan teman-teman terdekat mereka bergabung dalam kebahagiaan. Tim kreatif Mile menciptakan momen-momen penuh tawa dengan permainan kecil dan sketsa lucu.

Jon: “Oke, siapa yang berani mengaku bahwa mereka pernah naksir Mile atau Apo?”

Peung (mengangkat tangan): “Aku! Tapi jangan khawatir, aku sudah menyerah sejak lama.”

Lisa: “Kalau begitu, ayo kita angkat gelas untuk pasangan paling beruntung di ruangan ini!”

***

Di akhir malam, Mile dan Apo duduk berdua di taman, menikmati momen tenang setelah hiruk-pikuk sepanjang hari.

“Kita berhasil,” bisik Apo, menyandarkan kepalanya di bahu Mile.

“Kita baru saja memulai,” jawab Mile, mencium keningnya dengan lembut.

Di bawah bintang-bintang, mereka tahu bahwa apa pun yang terjadi di masa depan, mereka akan selalu memiliki satu sama lain.




End.







Akhirnya selesai juga....

RUN TO YOU - COMPLETED (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang