ROLAS

858 65 11
                                        

Malam hari Reiga terbangun karena perutnya terasa mual, membuatnya harus bangun dan berjalan kearah kamar mandi guna menuntaskan hasrat muntah nya.

Mendengar suara Reiga dari kamar mandi membuat Ade terbangun dan segera mengambilkan air untuk Reiga.

"Udah jangan dipaksa kalo tidak ada yang keluar" Ucap Ade sambil memijat tengkuk Reiga yang terus berusaha me-muntahkan isi perutnya.

"Hmm, gak enak banget rasanya" Reiga segera berkumur dan meminum air yang dibawa kan oleh Ade.

"Mau aku ambilin obat mualnya?" Tawar Ade.

"Engga, aku engga bawa soalnya"

"Kok bisa, harusnya kamu bawa dong buat jaga-jaga"

"Aku kira udah gak bakal mual lagi, lagian baru mual sekarang juga" Jawab jutek Reiga sambil berjalan kearah kasur mereka.

"Tetap saja, harus dibawa Rei untuk jaga-jaga. Kaya sekarang ini kita gak ada yang tau kan" Jelas Ade sambil mengikuti dibelakang.

"Iyaa iyaa, diem deh ngantuk" Reiga kembali meringkuk dibawah selimut memunggungi Ade.

Dan Ade hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Reiga yang selalu susah dibilangin. Karena masih terlalu pagi untuk bangun, Ade memilih kembali tidur disamping Reiga sambil mengelus punggung Reiga, agar tertidur kembali.

Tentu sang empu yang diberi perhatian seperti itu hanya bisa menahan senyum, siapa yang tidak senang jika diperlakukan seperti itu oleh calon ayah anaknya.

Pagi hari pun tiba, tak terasa oleh kedua insan yang sedang berpelukan nyaman dibalik selimut tebal. Padahal sinar sang surya sudah mulai masuk lewat sela sela gorden jendela kamar.

Karena mulai terusik dengan cahaya yang masuk, Ade orang yang lebih dahulu bangun dan membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Reiga yang berada di depannya dengan masih tertidur lelap, pemandangan yang sangat indah dimata Ade.

Dicium nya seluruh wajah Reiga guna membangunkan sang empu.

"Ayo bangun, sudah pagi"

"Hmm" Deheman menjadi balasan Reiga dan ia memilih beralih posisi memunggungi Ade dan kembali melanjutkan tidur.

Karena Ade sangat peka dan mau menjadi suami yang baik hati, akhirnya ia memilih membiarkan Reiga tidur kembali sedangkan ia mandi dan akan menyiapkan sarapan untuk istri tercinta.

"Pagi mbok" Sapa Ade kepada simbok ketika sampai didapur.

"Pagi juga den, tunggu bentar ya ini masakannya baru mau mateng. Apa mau mbok bikinin Teh anget dulu?" Tawar simbok.

"Gak usah repot-repot mbok, ini saya mau buatin susu dulu buat istri saya" Ucap Ade sambil mengisi air panas ke gelas.

"Istri? Cowo yang semalam itu istri Aden?" Ucap simbok dengan nada terkejut sambil menutup mulutnya. (backsound film India).

"Iya, walau masih calon istri" Cengir Ade sambil menggaruk tengkuknya.

"Masih calon istri? Terus itu susunya susu ibu hamil? Aden serius?"

"Iyaa serius mbok, masa saya bohong ke simbok"

Kegaduhan di dapur mencuri atensi Reiga yang baru bangun dan mencari keberadaan suaminya. Calon suaminya.

"Ade lu disitu?" Panggil Reiga sambil mengusap matanya.

"Iya saya disini" Ade segera menghampiri Reiga yang jalannya masih sempoyongan dan mata yang masih tertutup.

"Kalau jalan tuh melek dulu, nanti kalo kamu nabrak sesuatu gimana? Kasian nanti dede nya ikutan kebentur" Ujar Ade sambil memegangi tubuh Reiga, sedangkan sang empu langsung memeluk tubuh tegap tersebut.

"Lagian gw ditinggal sendiri dikamar, kan gw takut" Gerutu Reiga sambil menyamankan diri dipelukan Ade. Ia memiliki kebiasaan baru setelah sering tidur bersama Ade, yaitu pagi pagi manja bersama Ade.

"Iya maaf ya, salah saya yang ninggalin kamu sendirian dikamar" Ade orang yang selalu mengalah untuk apapun kepada Reiga. Bulol.

Kemesraan pagi hari itu dilihat jelas oleh simbok, beliau hanya bisa diam sambil mengamati tingkah laku anak majikannya tersebut.

Waktu sudah berganti siang, sekarang Reiga tengah bersantai didepan tv untuk melihat kartun kesayangan sejuta umat, Kembar botak. Kenapa ia sendiri, karena Ade sedang pergi bertemu ibunya. Entahlah Reiga tidak mempermasalahkan itu, yang penting ia ada cemilan untuk dimakan saat ini.

"Aden" Panggil simbok.

"Iya mbok kenapa?" Jawab Reiga sambil menatap simbok yang berdiri diujung sofa.

"Mbok boleh nanya sesuatu?"

"Boleh mbok mau tanya apa" Reiga segera memperbaiki posisi duduknya yang dari tiduran beralih ke duduk tegak. Membuat baby bump nya semakin menonjol.

"Maaf kalo simbok lancang, tapi mbok beneran pengen tau. Itu Aden beneran hamil anaknya den Ade?"

Reiga diam sejenak memproses pertanyaan simbok.

"Ini" Tunjuk Reiga ke perutnya, dan simbok mengangguk.

"Ini kalo bukan ulah Ade, aku sekarang lagi kuliah teknik mbok. Bukan malah duduk santai begini, aku udah mabok praktek sama laprak. Karena ulah Ade nih yang bikin perut aku jadi buncit kaya gini" Reiga mendumel sambil mengusap-usap perut nya.

"Jadi itu bener anaknya den Ade"

"Iya bener lahh sama bohongan sih, mbok gak percaya nih kalo aku hamil beneran" Reiga ancang-ancang mau membuka kaosnya.

"Iya iyaa mbok percaya, gak usah dibuka juga kaosnya. Nanti Aden masuk angin mbok yang kena marah"

"Nah mbok percaya kan berarti"

"Iyaa mbok sudah percaya, kalo gitu udah masuk berapa bulan?"

"Bentar ya" Reiga mulai menghitung dengan jarinya.

"Mau masuk bulan ke-3 mbok, masih awal banget"

"Tapi perutnya udah lumayan gede ya, anaknya kembar pasti" Simbok senyum jahil kearah Reiga.

"Masa sih, bukannya emang segini ya ukuran orang hamil? Maklum baru pertama kali"

"Biasa kalo masih awal perutnya masih agak kecil, tapi ini udah menonjol banget. Emang belum diperiksa lagi?"

"Jadwal chek-up nya masih minggu depan sih, Mbok mau ikut?" Ajak Reiga dengan senang hati.

Belum sempat simbok menjawab, Ade lebih dulu datang dengan wajah lesu yang mengambil atensi kedua orang itu.

"Saya pulang" Ucap Ade sambil masuk ke ruang tengah.

"Ade lu kenapa?"

"Aden kenapa?"

"Reiga bisa ikut saya kekamar, ada yang mau saya omongin" Minta Ade sambil jalan terlebih dahulu.

"Mbok kita lanjut nanti lagi ya ngobrolnya, kaya nya ini lebih penting obrolannya" Reiga segera bangkit dan menyusul Ade ke kamar.

"Apa jangan jangan masalah nyonya?" Tebak simbok.






-TBC-

ONE STAND NIGHT {mreg}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang