TELULAS

264 20 2
                                        

"Kenapa? Apa yang lu omongin sama ibu lu? Ada masalah?" Tanya cepat Reiga setelah menutup pintu kamar, ia menghampiri Ade yang duduk di tepi kasur.

"Maaf Rei" Ucap lesu Ade.

"Maaf kenapa, jawab dulu jangan tiba-tiba minta maaf" Rei mengguncang pundak Ade.

"Boleh saya memeluk kamu?" Tanya Ade sambil menatap Reiga.

"Kenapa pake ijin segala sih, biasanya juga langsung meluk"

Ade mengusak kan muka nya ke perut Reiga yang mulai mengembang, dipeluk eratnya tubuh Reiga, seakan tidak ada hari esok untuk memeluknya. Reiga yang melihat perilaku Ade memilih diam dan menahan mulutnya agar tidak melontar pertanyaan yang ada di benaknya.

Sampai sore hari tiba Ade belum menjelaskan apapun, ia tertidur sambil memeluk Reiga. Reiga sendiri juga memilih diam sambil menunggu Ade siap untuk berbicara padanya.

"Mbok, Ade masih disini" Samar-samar suara ibu Ade terdengar dari luar kamar.

Reiga yang mendengar itu berusaha bangkit dari tidurnya, namun pelukan Ade semakin menguat.

"Jangan pergi, disini saja" Suara serak Ade berhasil menahan Reiga agar tidak beranjak.

Saat ini Reiga mengalami dilema, tetap disini bersama Ade, atau keluar menemui ibu Ade. Reiga butuh kejelasan, sudah cukup dia menahan semua pertanyaan dibenak nya dari tadi siang. Tapi, pelukan dan suara Ade seperti sihir yang membuat tubuhnya menjadi patuh.

Beberapa menit berlalu, Reiga tidak mendengar suara dari luar, apa simbok dan ibu berbicara ditempat lain, Reiga sungguh ingin mendengar percakapan itu. Lagi-lagi dia menekan rasa penasaran nya, hanya untuk Ade yang saat ini ada di pelukannya, dengan mata yang terpejam tapi Reiga tau kalo dia tidak tertidur, deru nafasnya masih memburu.

"Saya pergi dulu mbok, titip salam buat Ade dan Istri nya" Suara Ibu Ade yang berpamitan membuat Reiga menghela nafas lelah.

Belum sempat ia bertemu dengan Camer nya, tapi udah keburu pergi, padahal Reiga mau setor muka agar dicap mantu yang baik.

"Rei" Suara Ade membuyarkan lamunan nya.

"Iya"

"Maaf"

"Soal?"

"Aku sudah mempertaruhkan anak kita"

Tubuh Reiga seketika kaku, jantungnya berdegup kencang, nafas nya tercekat. Ia tidak tau harus menanggapi bagaimana.

"Aku mempertaruhkan dia, agar kita bisa hidup baha-"

"LU GILA?!" Teriak Reiga dengan mendorong tubuh Ade.

"Lu taruhin anak sendiri buat hidup sama gw? Lu udah gila ya? Mending gw yang gak hidup demi anak ini" Reiga terduduk sambil menatap tajam kearah Ade.

"Tenang Rei tenang"

"Tenang matamu, utek mu nengdi cok, gendeng kowe" (Tenang, otak mu dimana, gila kamu) Marah Reiga sambil melontar kata kasar.

"Tenang dengerin penjelasan aku dulu, aku belum selesai ngomong" Ade berusaha menenangkan Reiga yang berapi-api.

"Apa, apa yang mau lu omongin! Lu mau ngomong kalo anak ini bakal lu kasih ke ke keluarga lu itu! IYA! Kalo gitu mending gw mati sama ni anak ketimbang harus nyerahin dia buat keluarga sialan lu itu" Reiga berlari keluar kamar, Ade dengan tergopoh mengejar Reiga. Ia sangat tau kalau Reiga anak yang nekat, ia takut Reiga melakukan hal yang membahayakan dirinya dan janin yang dikandungnya.

"Reiga dengerin aku dulu, kamu salah paham, Reiga" Ade mengejar Reiga yang naik ke lantai atas.

Mendengar kegaduhan dari luar, membuat simbok keluar dari kamarnya. Melihat Reiga yang menaiki tangga dan Ade yang mengejarnya membuat simbok terkejut.

"Astaga Aden, jangan cepet cepet naik tangga nya" Teriak simbok sambil ikut mengejar Reiga.

"Pergi lu semua, gw mau lompat aja dari sini" Reiga berlari kearah balkon yang terbuka, ia sudah mengambil ancang-ancang untuk melompat. Dan..

"REIGAA"

"ADEENN"

BRUUKK...




-TBC-

halohalooo, lama banget aku gak lanjutin cerita nya, sampe lupa alurnya, sampe sini dulu yaa, aku mau inget-inget alurnya dulu.
BABAYYYY

ONE STAND NIGHT {mreg}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang