#5

782 149 33
                                        

Tiga hari berlalu sejak kejadian di pinggir ibukota

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tiga hari berlalu sejak kejadian di pinggir ibukota. Pelaku dijatuhi hukuman mati oleh kaisar. Sedangkan Naruto dan Hinata yang berjasa, lantas diberikan imbalan sejumlah koin emas.

Hal ini harusnya menjadi berita bahagia untuk Naruto, tapi Menma tidak menangkap wajah senang adiknya.

Naruto memang pribadi yang tidak banyak bicara. Namun adiknya itu memiliki kepribadian yang sedikit unik, sehingga acap dia membuka bibir, sulit untuk tidak menyinggung orang lain.

“Apakah ini karena Nona Hinata?” pertanyaan Menma tepat sasaran, karena dia bisa melihat guratan alis Naruto bergerak.

“Dia jatuh dari sungai. Kalau saja aku terlambat menemukannya—”

“—apakah kau menyesal sudah menyelamatkannya?”

“Bukan begitu.”

“Daripada kau meratap di hadapanku, akan lebih baik kalau kau menjenguknya.” Menma menyarankan, menyeruput tehnya dengan santai. “Bicaralah baik-baik. Kontrol lidah dan nada bicaramu. Minta maaflah dengan tulus.”

Uzumaki Naruto gamang. Dia bisa saja meminta maaf, tapi masalahnya dia malu mengakui kalau dirinya merasa bersalah. Menemukan Hinata hanya kebetulan, bukan karena dia memang bermaksud mencarinya.

Masih segar di ingatannya bagaimana dia basah kuyup. Di lengannya, Hyuuga Hinata tergolek tidak berdaya setelah sekitar lima belas menit terhanyut derasnya debit air.

Gadis ini terjun ke sungai tanpa pikir panjang. Sama sekali tidak menghargai nyawanya setelah berhasil lolos dari maut sebanyak dua kali.

Apakah memang hobinya untuk menantang malaikat kematian? Pertama menenggak racun, kedua demam, dan ketiga terjun ke sungai.

Selanjutnya, apa? Apakah gadis ini juga akan terjun dari menara tertinggi istana? Naruto sungguh tidak mengerti.

Dia nyaris seperti orang kesetanan, turut terjun ke sungai demi mencari jejaknya. Sebuah keputusan impulsif yang terlambat dia sadari.
Dia tidak hanya menemukan Hinata, melainkan menyelamatkannya dari maut dengan memberinya pertolongan pertama.

Dia memompa jantung Hinata, membuka mulutnya. Meletakkan bibirnya secara hati-hati di atas bibir gadis itu yang terasa dingin.

Dia terus mengulang gerakan yang sama selama beberapa waktu. Keadaannya yang sendirian dan sama-sama basah, membuatnya kian didera perasaan krisis. Padahal itu bukan kali pertama dia menyaksikan kematian. Ada lebih banyak cara kejam yang dia saksikan di medan perang. Termasuk bagaimana kedua tangannya berlumur darah, atau bagaimana mata pedangnya memenggal kepala seseorang. Namun di hadapkan dengan Hinata, pengalamannya seperti isapan jempol belaka.

Dia ketakutan ketika tubuh lemah itu mendingin. Sehingga dia menyalurkan lebih banyak kehangatan, yang terasa lembut dengan lain cara.

“Naruto?”

ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang