Hidup Hinata dedikasikan untuk negara. Prajurit bayangan yang bekerja di balik layar, membunuhi musuh. Dalam peperangan panjang antar kerajaan dengan kekaisaran, sebuah misi rahasia dia emban. Perintahnya jelas; bunuh Putra Mahkota Kekaisaran yang d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Naruto berusaha menyembunyikan wajah, leher hingga telinganya yang memerah.
Sungguh kotor! Bagaimana bisa dia masuk ke dalam bak mandi Hinata?!!
Dia menutupi pandangan matanya dengan sebelah tangan. Tidak berani menatap ke depan. Dia hanya bisa duduk di pinggir ranjang Hinata seraya mengumpat dalam hati.
Masih segar di ingatannya bagaimana benda lembut itu menekan dadanya, dan bagaimana dengkulnya tidak sengaja menyentuh area tersembunyi gadis itu, yang terasa lembut dan basah di saat bersamaan.
Dia sempat bersumpah akan membunuh penyusup yang berani menerobos tenda Hinata. Lalu, haruskah dia membunuh dirinya sendiri?
Memikirkannya saja, sungguh membuat kepalanya pusing. Apalagi pemandangan tubuh Hinata yang telanjang terus menerus berkelebat di matanya bagaikan sihir; tidak mau enyah entah berapa kali pun dia merapal ayat-ayat Bibel.
“Anda benar-benar mesum, Yang Mulia!” Hinata berdiri di depan Naruto seraya berkacak pinggang. Setelah kejadian memalukan beberapa menit lalu, dia buru-buru berpakaian, mengenakan gaun tidur dan mantel ala kadarnya untuk segera menyidang tunangannya.
Naruto tidak bisa mengangkat pandangannya. Tatapan matanya hanya sebatas betis Hinata, yang masih setengah basah akibat tergesa-gesa berpakaian.
“Jika aku orang lain, aku sudah pasti melaporkan Anda atas tuduhan pelecehan!” Hinata menuding Naruto menggunakan jari telunjuknya. “—sayangnya, aku tidak bisa. Menurut Anda, hukuman apa yang pantas Anda dapatkan setelah menerobos dan memasuki bak mandi seorang gadis?”
“Maafkan aku.” Cicit Naruto takut-takut. Dia takut karena Hinata terlalu dekat sampai dia bisa merasakan kulitnya yang lembab dan aroma tubuhnya yang harum.
“Apa hanya ini yang bisa Anda katakan?”
Naruto beringsut menjauh, tetapi tangan Hinata lebih dulu berada di sebelah kanannya. Menahan tubuh kekar itu beranjak. “Anda tidak bisa pergi tanpa sebuah pertanggung jawaban!”
Naruto membuang pandangannya, berusaha untuk tidak mempertemukan mata dengan Hinata atau dinding tipis yang menahan dirinya terancam pecah.
“Yang Mulia, katakan sesuatu!”
“—kau ... terlalu dekat.”
Hinata mendengus. Merasa frustrasi akibat tingkah Naruto yang malu-malu, karena sejatinya dialah yang harus malu, bukan Naruto!
“Jangan bertingkah seolah aku akan melecehkan Anda, Yang Mulia. Tolong diperhatikan baik-baik, siapa yang melecehkan siapa di sini?”
“Yang Mulia!”
Naruto memejamkan mata, tidak sanggup menahan diri karena Hinata terus mendorongnya ke belakang hingga dia digerogoti rasa haus.
Dengan kesal, dia pun menarik pinggang Hinata. Membuat gadis itu duduk di pangkuannya. Kemudian mencengkeram pergelangan lengan gadis itu. Dia berniat menyelesaikan dahaganya terlebih dahulu, baru memikirkan hukuman yang cocok untuk dirinya sendiri.