#9

1K 122 38
                                        

Kastel Azurethra, Perkebunan Uzu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kastel Azurethra, Perkebunan Uzu

Keheningan setipis dinding kaca membungkus kedua orang yang saling bersihadap. Suara kayu yang terbakar api menjadi satu-satunya saksi ketegangan di antara mereka.

Naruto menyilangkan kakinya. Kedua tangannya terlipat di lutut, menunggu tunangannya buka suara soal keikutsertaannya hingga kejadian naas yang menimpanya. Sedangkan Hinata, sangat tahu bahwa Naruto sama sekali tidak ingin mendengar alasan.

"Aku ... ingin membantu Ayah."

"Apa hanya ini yang bisa kau katakan?" suara Naruto begitu dingin, terdengar acuh tak acuh. "Aku memberimu satu kesempatan. Katakan dengan jujur. Aku tidak menoleransi kebohongan."

"Aku benar-benar ingin membantu. Hal-hal tentang kejadian di Hutan Evransi di luar prediksiku. Aku tidak tahu kalau uluran tanganku berujung pada penculikan."

"Lalu, bagaimana kau menjelaskan kejadian menggenggam pedang?"

"Itu ...."

"Kalau aku terlambat satu detik saja, kau sudah menjadi seorang pembunuh." Naruto menatap Hinata dengan serius. Meneliti tangan mungilnya yang kini tampak sangat rapuh.

Masih segar di ingatan Naruto bagaimana dia menggenggam tangan Hinata dengan satu tangannya; membuat genggaman pedang pendek di tangan gadis itu melemah hingga jatuh ke tanah dengan dentingan yang menggema di telinga.

Beruntung Gaara datang bersamanya dan segera mengamankan Yugito Nii.

Naruto tidak menyangka kalau Hinata berani melakukan tindakan berbahaya. Terlebih, dari sorot matanya, dia bisa menilai kalau sama sekali tidak ada keraguan di sana, seolah-olah menghilangkan nyawa seorang kriminal bukanlah tabu.

Di momen yang sulit itu, dia berada dalam luapan emosi. Setengah nyawanya serasa akan melayang kapan pun, dalam menit atau detik mana pun.

Dia sangat-sangat marah entah atas alasan apa. Sulit baginya untuk melihat kenyataan di mana tunangannya, orang yang acap hari menggerogoti pikiran warasnya, tengah berdiri di tanah yang akan menjadi miliknya dalam keadaan compang-camping.

Hyuuga Hinata tidak hanya penuh tanah, tetapi sebagian wajah dan tangannya terciprat noda darah. Rambut indah segelap perpaduan senja dan malam miliknya bahkan berwarna kecokelatan.

"Maafkan aku." Hinata menutup topik sensitif itu dengan dua kalimat, yang dia yakini dapat menyelamatkannya dari rasa curiga.

"Jika permintaan maaf begitu mudah diterima, penjara tidak akan dianggap sebagai responsi hukum."

"...." Hinata kehilangan kata-kata akan tanggapan dinginnya. Dia tahu kalau dia telah menyebabkan kekacauan, tapi haruskah pria itu memilih kalimat yang paling kejam?

"Besok pagi, pulanglah!" ujarnya kemudian, sama sekali tidak peduli dengan tanggapan Hinata, bahkan mungkin sejak awal.

Naruto hanya beramah-tamah, meluapkan segala emosinya, dan menggiring pembicaraan untuk mencapai tujuannya.

ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang