Hidup Hinata dedikasikan untuk negara. Prajurit bayangan yang bekerja di balik layar, membunuhi musuh. Dalam peperangan panjang antar kerajaan dengan kekaisaran, sebuah misi rahasia dia emban. Perintahnya jelas; bunuh Putra Mahkota Kekaisaran yang d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hinata selesai membasuh wajahnya yang kusut akibat tidak bisa tidur semalaman. Dia sibuk menghakimi diri sendiri yang dengan mudahnya takluk pada godaan manis Uzumaki Naruto.
Sebelumnya, pria itu mengaku tidak membencinya. Berbohong dengan mengatakan dirinya mulai menjadi penting. Namun anehnya, setiap mereka bertemu, beradu argumen adalah hal yang sering mereka lakukan, bahkan hingga saat ini. Nyaris tidak ada hari di mana tidak muncul perdebatan.
Jadi aneh rasanya melihat bagaimana mata safirnya yang dulu terlihat tajam hingga nyaris menyebalkan, tiba-tiba terlihat lembut dengan satu lain cara.
Apakah dia sudah gila?
Hinata membasuh wajahnya sekali lagi. Kemudian menatap cermin untuk melihat bekas kemerahan di leher jenjangnya yang putih—yang sejurus kemudian—membuat wajahnya diam-diam memerah.
Sensasi napas berat Naruto di telinganya dan lidah lembut pria itu yang menyapu lehernya masih terasa jelas, seolah-olah itu bukan kejadian kemarin.
Jika saja dia tidak menghentikan tangan Naruto, sudah jelas apa yang akan terjadi.
Dia tidak bodoh untuk tidak memahami hasrat pria itu. Hanya dari sentuhannya yang tergesa-gesa tapi tidak menuntut, dia yakin Naruto masih mempertimbangkan perasaannya.
Apakah Uzumaki Naruto memang karakter pria seperti itu?
Hinata menggeleng. Rubah hitam dari Daventria jelas pria yang tidak memiliki belas kasihan.
Jangan tergoda oleh rayuannya, Hinata!
Jika pria itu mengetahui identitasnya, dia pasti akan dibunuh!
“Nona Hinata!”
“—ya!” Hinata berjingkat karena terkejut, kemudian sadar bahwa Shizune telah di sampingnya dengan membawa pakaian ganti.
“Pakaian Anda basah. Alangkah baiknya Anda segera berganti untuk sarapan bersama Yang Mulia Duke dan Count Hiashi.”
“Baiklah.”
.
Di tenda komandan, Naruto duduk di meja panjang bersama Hiashi. Namun sejak pertama kali Hiashi masuk, tatapan sang duke selalu tertuju ke arah pintu tenda, seolah kehadirannya bukan yang ditunggu.
Menurut tata krama dasar, Hinata harusnya datang lebih awal dibandingkan sang duke. Namun entah kenapa putrinya itu datang sangat terlambat pagi ini.
Hinata yang mengenakan pakaian hingga menutupi lehernya sontak menyita perhatian sang ayah. Karena cuaca hari ini lumayan hangat dibanding hari-hari sebelumnya.
“Maaf atas keterlambatanku, Yang Mulia.” Hinata memberi salam, tidak lantas duduk sampai Naruto mempersilakan.
Hiashi menatap putrinya, mempertanyakan alasan dia begitu terlambat sampai membuat Duke Uzu menunggu, tapi suaranya tertahan akibat melihat sikap sang duke.