Hidup Hinata dedikasikan untuk negara. Prajurit bayangan yang bekerja di balik layar, membunuhi musuh. Dalam peperangan panjang antar kerajaan dengan kekaisaran, sebuah misi rahasia dia emban. Perintahnya jelas; bunuh Putra Mahkota Kekaisaran yang d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alsaber dikenal sebagai negara kecil yang terletak di timur laut Kekaisaran Daventria. Mereka tidak cukup kaya, sehingga perekonomian ditopang dengan sistem perjanjian bilateral dengan kekaisaran untuk mendapatkan komoditi pangan seperti gandum dan jagung, sementara kekaisaran mendapatkan tenaga kerja dengan upah minim.
Pada awalnya, hubungan kedua negara dikatakan baik, hingga ditemukannya tambang batu Mana setelah perang antara Kerajaan Alsaber dengan Kerajaan Dementrus di lembah hitam. Batu Mana sebagai sumber energi yang menopang kehidupan banyak orang, memiliki nilai jual tinggi sampai-sampai Alsaber tidak perlu menggantungkan hidup lagi dengan kekaisaran.
Kekaisaran yang kehilangan banyak pekerja, sempat terpuruk karena kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor. Sulit mendapatkan pekerja dengan kebijakan upah minim. Kekaisaran pun mengambil langkah darurat dengan melakukan perang penaklukkan. Tujuannya tidak hanya memperluas wilayah, melainkan mendapatkan lebih banyak sumber daya baik alam maupun manusia.
Alsaber selaku pemasok batu Mana awalnya terbebas dari ancaman tersebut. Hingga secara tiba-tiba Kekaisaran Daventria menyerang.
Uchiha Sasuke sebagai putra kedua Raja Alsaber, diutus turun ke medan perang untuk mempertahankan wilayah. Siapa sangka, setelah beberapa waktu pertempuran tanpa jeda, dia gugur di bawah pedang Naruto. Momok tersebut lantas menjadi obor yang mengipasi hati Uchiha Itachi. Kebencian Itachi pada ayahnya inilah yang membuat Kerajaan Alsaber pada akhirnya runtuh.
Dengan berani, Itachi memenggal kepala ayahnya sendiri. Menyerahkan kepala ayahnya sebagai tropi, dan menyatakan dirinya tunduk kepada kekaisaran.
Jadi, apakah Naruto masih bisa mempercayainya?
Tentu saja tidak. Uchiha Itachi yang begitu membenci kekaisaran—terutama dirinya karena telah membunuh adiknya, tidak mungkin menyerahkan tali kekang di lehernya dengan begitu mudah.
.
“Itachi menyapa Matahari Kecil Kekaisaran. Salam, Yang Mulia Duke Uzu dan Lady Hinata.”
“Salam,” Hinata membalas sapaan tersebut dengan senyum terdistorsi. Sementara di sampingnya, guratan di wajah Naruto tak jauh berbeda.
Mata sewarna danau di musim panas tersebut menelisik; menimbang dan mengukur.
“Sungguh suatu kehormatan melihat Duke Izuna di suatu pesta.”
Itachi yang mengetahui bahwa tidak ada sanjungan dalam kalimat sang Duke, hanya bisa tersenyum normatif. “Berkat perlindungan Anda, Yang Mulia.”
“Sudah tugasku, Duke. Bersyukurlah karena cahaya kecil ini bisa menaungi sampai tempatmu.”
“Itachi tidak bermaksud, Yang Mulia. Anda adalah pedang kekaisaran. Mana mungkin aku bisa berpikir begitu?”
“Tentu saja kau tidak, Duke. Aku yakin, kau adalah tipe yang toleran terhadap candaan.”
“Sangat menyenangkan kalau semua hal bisa seperti itu, Yang Mulia. Bukankah Nona Hinata juga berpikir demikian?” Itachi menatap Hinata yang terlihat pucat seolah baru saja melihat hantu.