Hidup Hinata dedikasikan untuk negara. Prajurit bayangan yang bekerja di balik layar, membunuhi musuh. Dalam peperangan panjang antar kerajaan dengan kekaisaran, sebuah misi rahasia dia emban. Perintahnya jelas; bunuh Putra Mahkota Kekaisaran yang d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hujan deras masih mengguyur kekaisaran. Rintiknya yang turun beramai-ramai, mengetuk kaca jendela dengan sadis hingga suara derak kayu yang dilalap api pun tidak lagi terdengar.
Naruto mengusap wajahnya frustrasi. Pusing mendera kepala bagian belakangnya hingga pandangannya terasa kabur.
Sudah seminggu berlalu sejak aksi nekat Hinata. Dokter Tsunade telah memberinya obat penenang dan tonik sebagai ganti makanan. Karena tubuhnya yang tidak dimasuki nutrisi dengan benar, memerlukan lebih banyak waktu untuk pemulihan.
Sedangkan dia tidak bisa berada di sisinya dan terjebak di mansion akibat pekerjaan yang terus menggunung.
Masih segar di ingatannya bagaimana dia memandangi wajah cantik yang tertidur dengan layu. Napasnya yang putus-putus, seperti lullaby dewa kematian di telinganya. Setiap detiknya bagai hitungan mundur. Dia tidak tahu kapan napas kecil itu akan luruh, atau benar-benar hilang bersamaan embusan angin.
Dia terus merengkuh telapak tangannya sampai fajar menyingsing. Menyalurkan kehangatan yang bahkan tidak dia yakini; karena orang-orang di sekitarnya tidak pernah mendefinisikan dia sebagai golongan seperti itu.
Dia tahu itu jelas bukan seperti dirinya. Dia tahu kekhawatiran di dalam hatinya hanya bentuk afirmasi dari perasaan bersalah. Hanya saja, dia tidak bisa mengabaikan semuanya.
Hyuuga Hinata mengenal Duke Izune. Dia memiliki ketertarikan yang aneh terhadap sisa-sisa Kerajaan Alsaber. Nada bicaranya, sikapnya, hingga sorot matanya, bukan seperti seorang Lady County yang dia kenal, melainkan lebih mirip seorang kesatria yang kepercayaannya runtuh.
Apakah ini masuk akal?
Tentu saja tidak. Tidak ada fakta di masa lalu yang mampu menjelaskan semua ini, termasuk perubahan sikap Hinata. Kecuali, ada kejadian supranatural yang tidak dapat ditangkap nalar.
Terlepas dari semua keanehan ini, dia harusnya bertanya baik-baik. Dia harusnya tidak mengatakan rentetan kebohongan yang mungkin akan dia sesali. Dan dia juga tidak seharusnya membalas ciumannya.
.
Pagi ini, Shikamaru tergopoh-gopoh menuju ruang kerja Naruto.
Setelah malam-malam panjang dengan kurang tidur, akhirnya kemarin dia bisa pulang ke rumah. Namun ketenangan yang dia nikmati nyatanya sesingkat malam.
Gaara yang berjaga di depan ruang kerja sudah sering melihat wajah panik Shikamaru. Karena pekerjaannya memang membuat ekspresi-ekspresi seperti itu. Namun hari ini agak berbeda dari biasanya.
“Apakah Yang Mulia ada di dalam?”
“Beliau mungkin baru saja bangun. Dan aku belum sarapan.”
Shikamaru terdiam sejenak menatap sahabatnya, seolah telah menduga jawaban menyimpang tersebut. Kemudian dia mengeluarkan roti yang terbungkus rapi dari dalam sakunya.