14. Pabrik Terbengkalai

21 26 4
                                        

WARNING
Bahasa suka suka
Banyak typo
Happy Reading
.
.
.

Setelah berpamitan dengan neneknya dan mendapat petunjuk tentang lokasi itu, Jessica dan Sekar memulai perjalanan mereka ke gudang tua bekas pabrik yang sudah lama tidak digunakan, yang kabarnya memiliki kenangan buruk di dalamnya.

Jalan setapak yang mereka lalui tidak terlalu lebar, dikelilingi oleh ladang-ladang jagung yang menjulang tinggi.

Suasana desa terasa begitu sunyi, hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok atau suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin menciptakan irama yang menenangkan, meskipun begitu hati Jessica tetap gelisah sejak percakapan di rumah neneknya tadi.

"Jessica, kamu yakin mau ke sana? Aku sedikit nggak nyaman sama ekspresi nenekmu tadi," tanya Sekar sambil mengencangkan tali tas punggungnya.

Jessica mendesah. "Nenek memang selalu begitu, dia suka melebih-lebihkan cerita. Tidak perlu khawatir, Kar."

Mereka melangkah lebih jauh hingga mulai memasuki area yang lebih rimbun, di mana beberapa rumah penduduk yang tersebar berjauhan.

Sebuah rumah kecil dengan pagar bambu menarik perhatian Jessica. Di depannya, seorang ibu paruh baya tengah menyiram tanaman di halaman rumahnya. Ketika melihat Jessica dan Sekar lewat, wanita itu berhenti dan menatap mereka penuh rasa ingin tahu.

"Jessica, ya? Cucu Bu Tami?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan.

Jessica berhenti dan tersenyum sopan. "Iya, Bu. Ibu kenal Nenek saya?"

Wanita itu tersenyum ramah, lalu menaruh gayung yang dipakainya untuk menyiram dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor oleh tanah. "Tentu saja. Siapa yang nggak kenal Bu Tami? Nenekmu itu orang lama di sini. Tapi sudah lama juga ya Bu Tami nggak kelihatan. Jadi, kamu lagi liburan, ya?"

"Iya, Bu," jawab Jessica, berusaha terdengar santai. "Saya dan teman saya mau jalan-jalan sedikit, lihat-lihat desa."

Wanita itu mengangguk lagi, tetapi matanya menatap tas ransel yang dibawa Jessica dengan penuh arti, lalu melihat ke arah jalan setapak yang Jessica dan Sekar tuju. Ekspresinya berubah sedikit tegang. "Hati-hati, ya, Nak. Jangan terlalu jauh kalau ke arah sana."

Jessica merasa ada sesuatu di balik nada suara wanita itu. "Kenapa, Bu? Ada apa di sana?"

Wanita itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata, "Ah, nggak apa-apa. Cuma daerah itu sepi. Jarang ada orang lewat, apalagi kalau sudah sore begini."

Sekar, yang dari tadi hanya mendengarkan, ikut angkat suara. "Apa ini ada hubungannya sama pabrik itu, Bu?"

Wanita itu terlihat sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menyembunyikan ekspresinya. "Ah, pabrik itu sudah lama kosong. Sudah hampir tidak ada yang mengurus sejak... ah, pokoknya lama sekali. Kalau kalian memang mau ke sana, cepat kembali, ya."

Jessica menatap wanita itu dengan rasa penasaran. Namun, sebelum dia bisa bertanya lebih jauh, wanita itu sudah kembali ke aktivitasnya, seolah tidak ingin melanjutkan pembicaraan.

Jessica mengucapkan terima kasih, tetapi rasa penasaran di dadanya semakin membesar.

Setelah melanjutkan perjalanan, Jessica berbisik pada Sekar, "Kamu dengar apa yang dikatakan ibu itu? Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan tentang pabrik."

Sekar mengangguk. "Aku tahu. Aku juga merasa ibu itu kayak takut mau ngomong lebih banyak."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah yang sedikit lebih hati-hati. Jalan setapak semakin sepi, dan ladang jagung kini digantikan oleh pohon-pohon tua yang cabang-cabangnya saling menjulur dan bertaut, menciptakan bayangan gelap di bawahnya.

Tidak jauh dari sana, mereka berpapasan dengan seorang lelaki tua yang duduk di bawah pohon besar. Pria itu mengenakan topi jerami lebar dan membawa tongkat kayu yang diletakkan di pangkuannya. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Jessica dan Sekar.

"Kalian anak-anak kota, ya?" tanyanya dengan suara serak, tetapi penuh wibawa.

Jessica menghentikan langkahnya. "Iya, Pak. Saya cucunya Bu Tami."

Pria itu mengangguk pelan. "Bu Tami, ya? Sudah lama sekali beliau tinggal di sini. Tapi apa yang membuatmu berjalan ke arah ini?"

Jessica mencoba tersenyum santai. "Kami cuma mau lihat-lihat, Pak. Dengar-dengar di sini ada pabrik yang sudah lama tidak terpakai."

Mendengar itu, pria tua tersebut tertawa kecil, tetapi ada nada aneh dalam tawanya. "Tempat itu bukan untuk sembarang orang. Banyak cerita yang tidak akan kalian mengerti."

Sekar merasa bulu kuduknya meremang mendengar ucapan pria itu. "Cerita apa, Pak?" tanyanya, meski dalam hatinya ia ingin segera mengakhiri percakapan ini.

Pria tua itu mengetukkan tongkatnya ke tanah, seolah memikirkan jawaban. "Kadang, tempat-tempat seperti itu menyimpan kenangan yang ingin dilupakan. Tapi kenangan itu tidak pernah hilang. Banyak hal yang tidak terlihat di sana, tapi mereka selalu melihat kalian. Mereka hanya sedang menunggu seseorang."

Jessica menelan ludah, tetapi rasa penasarannya justru semakin besar. "Maksud Bapak, menunggu siapa?"

Pria itu tidak menjawab, ia berdiri dengan susah payah dan mulai berjalan pergi tanpa sepatah kata pun lagi.

Jessica dan Sekar saling bertukar pandang, keduanya sama-sama merasa tidak nyaman, tetapi tidak ada di antara mereka yang mengusulkan untuk kembali.

Jessica dan Sekar melanjutkan langkahnya dalam diam. Udara di sekitar mereka terasa lebih dingin, meski matahari masih menggantung di langit.

Di kejauhan, bangunan tua yang mereka cari mulai terlihat, berdiri seperti bayangan kelabu di tengah pepohonan.

"Jessica," gumam Sekar, suaranya pelan tetapi tegas. "Kita nggak perlu ke sana kalau kamu merasa nggak nyaman."

Jessica menggeleng. "Aku harus ke sana, Kar. Kalau kita kembali sekarang, aku nggak akan pernah tahu apa yang sebenanya terjadi."

Sekar menghela napas panjang, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berharap, apapun yang mereka temukan di pabrik tua itu, tidak akan menjadi sesuatu yang akan mereka sesali.
.
.
.
.

Makasih ya yang udah mampir dan baca cerita ini🥰
Jangan lupa, vote⭐️, comment 💬 dan tungguin part selanjutannya🫶🫶🫶

(02/12/24)
Sunniee 💥

LilaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang