15. Hanifa?

16 15 11
                                        

WARNING
Bahasa suka suka
Banyak typo
Happy Reading
.
.
.

Langit mulai merona jingga ketika Jessica dan Sekar tiba di depan bangunan tua yang menjulang tinggi di hadapannya.

Bangunan itu berdiri dengan angkuh, ditumbuhi oleh semak-semak liar dan pohon-pohon yang hampir menutupi pandangan dari kejauhan.

Pabrik itu dikelilingi pagar besi yang sebagian besar sudah usang dan berkarat, dengan gerbang besar yang hanya tergantung pada salah satu engselnya.

"Ini lebih seram dari yang aku bayangkan," gumam Sekar, menelan ludahnya dengan gugup.

Jessica tidak merespons. Matanya terpaku melihat pabrik yang memiliki dinding bata merah yang sebagian besar sudah retak dan ditumbuhi lumut serta sarang laba-laba.

Jendela-jendela besar di lantai atas tampak seperti mata yang mengintip, gelap dan kosong, dengan beberapa kaca yang pecah tergantung di bingkainya.

Pintu depan terbuat dari besi tebal yang catnya sudah mengelupas, memperlihatkan logam berkarat di bawahnya. Aroma besi berkarat dan kelembaban menyeruak di udara, membuat Jessica sedikit mual.

Sekar memegang tangan Jessica. "Jess, kita benar-benar harus masuk ke sini? Aku nggak yakin ini tempat yang aman."

Jessica mengangguk pelan. "Kita sudah sampai sini. Kalau ada petunjuk tentang Lila atau angkatan 1995, aku yakin tempat ini pasti punya jawabannya, Kar."

Sekar hanya bisa menghela napas pasrah. "Yaudah, tapi kita masuk sebentar saja, dan kalau ada hal aneh, kita langsung keluar, oke?"

Jessica tersenyum tipis. "Oke."

Mereka mendekati pintu besi yang tampaknya sudah lama tidak digunakan. Jessica mendorongnya dengan hati-hati, menyebabkan engsel yang berkarat mengeluarkan suara berderit yang tajam memenuhi udara, seolah memprotes kehadiran mereka. "Ayo masuk," ujar Jessica dengan nada yakin, meski dirinya sedikit takut.

Di dalam area pabrik, suasananya lebih suram dari pada yang mereka bayangkan. Langit-langitnya yang tinggi dipenuhi sarang laba-laba, sementara lantai beton yang retak ditutupi debu tebal.

Beberapa mesin tua yang sudah tidak berfungsi lagi berdiri di sana seperti raksasa yang tertidur lelap, membuat bayangan-bayangan panjang di bawah cahaya remang-remang yang masuk melalui jendela.

Jessica menyalakan senter dan mulai berjalan masuk ke dalam, sementara Sekar mengikutinya dengan gugup, terus-menerus menoleh ke belakang seolah takut ada sesuatu yang mengintai mereka.

"Tempat ini sangat menyeramkan, Jess." Sekar berkata pelan, merapatkan jaketnya karena hawa dingin yang tiba-tiba menyergap mereka.

Jessica mengangguk. "Menurut nenekku," kata Jessica, suaranya hampir berbisik. "Pabrik ini dulu jadi tempat terakhir orang-orang melihat sesuatu yang aneh. Ada kecelakaan kerja yang memakan korban jiwa, dan sejak itu tempat ini ditinggalkan."

Sekar merapat lebih dekat. "Lalu kenapa kita malah ke sini, Jess? Kalau ini tempat yang punya sejarah buruk, apa itu nggak berbahaya buat kita?"

Jessica mengabaikan pertanyaan Sekar dan malah berhenti di depan dinding besar yang penuh coretan vandalisme.

(*Vandalisme adalah tindakan merusak atau menghancurkan properti orang lain secara sengaja.)

Ada sesuatu di sana yang menarik perhatiannya, sebuah pola lingkaran besar yang berbeda dari coretan lainnya, seperti simbol yang diukir dengan pisau. Lingkaran itu memiliki garis-garis aneh yang menjalar ke segala arah, mirip dengan diagram kuno.

"Kar, lihat ini," kata Jessica sambil menunjuk simbol tersebut. "Apa menurutmu ini hanya coretan iseng?"

Sekar menatapnya dengan ragu. "Nggak tahu, tapi kenapa rasanya itu terlihat seperti sesuatu yang memang sengaja diukir, ya?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 11, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LilaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang