Prilly POV
"Bunda,Ayah, Prilly berangkat dulu ya" teriakku setelah menyalami Bunda dan Ayah.
Motor matic berwarna putih sudah ku siapkan di halaman. Siap mengantarku ke sekolah pagi ini. Entah mengapa hari ini aku ingin berangkat ke sekolah sendiri biasanya aku nebeng Ayah sebelum ke kantor, Ayah akan mengantarku lebih dulu.
Aku girang nanti akan melewati rumah Ali. Meskipun setiap hari lewat sana tapi aku gak pernah bosan.
Ali Argianta Syarief alias Ali, adalah sahabatku, dia lahir tgl 26 Oktober 1996 sedangkan aku 15 Oktober 1996 bulan dan tahun lahir kami sama cuma beda tgl saja. Umur kami juga sama 18 tahun. Rumah ku dan dia hanya berjarak satu blok.
Aku lewat depan rumah Ali membayangkan baju apa yang Ali pakai hari ini tambah gantengkah? Tambah putihkah? Ahhh, sepertinya sudah lama kami gak bertemu. Aku menoleh menatap rumah Ali. Gak disangka Ali ada dsana menatapku. Kami saling bertatap. Aku berharap dia menyapaku, memberikan senyum manisnya untukku. Namun itu semua hanyalah harapan yang sia-sia. Lagi-lagi dia gak melirikku bahkan memalingkan wajahnya pura2 gak melihatku.
Aku menghela nafas panjang. Sakit dan perih hatiku terasa tercabik-cabik. Ali benar-benar berubah. Kemana perginya Aliku yang dulu? Aku rindu padanya. Ali yang selalu ada untukku dan berjanji selalu menjagaku. Padahal dulu kemana-mana selalu bersama. Bermain, belajar, bersepeda selalu kami lakukan berdua. Ali bak superhero bagiku selalu ada saat aku membutuhknnya dan selalu membuatku tertawa saat aku sedih. Sejak itu timbul satu rasa yang aneh dihatiku. Ada getaran yanv berbeda saat aku melihatnya. Aku mencintai Ali.
•••••••
"Prilly!" panggil seorang cewek dari belakangku sambil berlari menyusuri lorong sekolah. Aku menoleh dan tersenyum padanya.
"Pagi beb!" sapa cewek itu, Mila. Dengan santai ia melingkarkan lengannya ke leherku. Geli sih tapi tak apa dia sahabatku. Deru nafasnya yang terengah-engah masih terdengar olehku spertinya dia habis maraton pagi ini.
"Sakit ya?" tanya Mila tiba-tiba.
"Gak kok" ucapku meyakinkan.
"Emang gue kelihatan pucat ya?" tanyaku heran kenapa tiba-tiba dia bertanya begitu.
"Yakin?" Mila memicingkan matanya lucu. Aku tersenyum karna ulahnya.
"Ehm.. Iya" jawabku bersemangat.
"Gue gak percaya!" sangkal Mila.
"Tuh kan, badan lo panas gini" ucapnya sambil menempelkan punggung tangannya di dahiku.
"Yee.. yg ngerasain kan gue! Sok tau deh lo?!" ucapku bercanda. "Emang orang yang sakit badannya selalu panas ya?"
"Udah deh gak usah bawel gue anter pulang aja yuk, lo istirahat aja di rumah biar badan lo cepat baikan!" rayu Mila hampir membuatku luluh.
"Gue gak sakit, Mila sayang!" ucapku dengan wajah seceria mungkin.
"Selalu gitu bilangnya gak sakit tapi ntar tau-tau pingsan!" Mila mulai cemberut.
"Terserah deh" ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.
Aku menggaruk rambutku yang gak gatal. Mila marah padaku karena tidak menuruti sarannya. Hmmm... Mila memang selalu begitu, over protective.
Gue emang sakit Mil, tapi tadi malem. Gumamku sepeninggal Mila. Sekarang udah gak sakit lagi. Asma emang selalu sperti itu, sakit yang seakan hampir mencekik gue selalu hilang dan membaik setelah gue menelan obat. Dan gue tampak baik-baik saja keesokan harinya seperti kebanyakan orang sehat lainnya.
Gue merogoh saku rok seragam sekolah gue. Kunci motor gue mana? Desisku dalam hati. Aduh! Ketinggalan nih. Gue membalikkan badan berniat kembali ke parkiran tadi karena sepertinya kunci motor gue masih nyantol di lubangnya.
Tiba-tiba nafasku serasa berhenti. Detak jantungku memacu kencang. Mataku melotot serasa akn mencuat.
Entah bagaimana ekspresi wajah gue. Di depan gue mungkin sekitar 100 cm dari tempat gue berdiri seorang Ali berdiri disana. Angkuh. Tak ada sapaan hangat bahkan melirikpun tidak walaupun gue yakin sebenarnya dia mengetahui keberadaan gue di hadapannya.
"Minggir" hanya kata itu yang kudengar lirih dari bibirnya. Tanpa melihatku.
Ahhhh lagi-lagi seperti ini. Gak adakah seulas senyum untuk gue meski sedikit?
Gak adakah sebuah lirikan untukku barang sedetik? Mungkin baginya gue sperti manekin.
Huuaaa aku ikut sedih nih liat keadaan Prilly :'((
Gimana nih menurut kalian ceritanya? Sedih? Kesel? Menegangakan? atau apa?
Jngan lupa vote dan commentnya yaa readers :)
Hargai yg nulis oke ;)
Lopelope kecup jauh :*:* :D
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate U Love U (aliando prilly)
FanfictionBenci bisa berubah menjadi rasa Cinta yg begitu besar. Ali Argianta Syarief adalah teman masa kecil Prilly Aurora Latuconsina. Awalnya mereka berteman akrab yg tidak mudah untuk dipisahkan. Hingga pada akhirnya salah satu dari mereka memiliki perasa...
