Ali POV
"Li, selamat yah!" ucap Mila menjabat tangan gue erat. Gue tersenyum seraya mengucap terimakasih atas ucapannya.
Gue menang lagi. Gue menjuarai pertandingan Elang Emas tahun ini. Gue sang juara bertahan.
Senyum kebanggaan menghiasi wajah Ali. Kegembiraan membuncah deras dari hatinya.
"Bro!" seseorang menepuk bahu gue pelan. Oh, ternyata Doni. "Selamat, Li.. good job!" dia menyalami gue sambil tersenyum.
"Aliiii!!" Jordan berlari di tengah hiruk pikuk orang yang berseliweran disana. Dia memeluk gue sambil tertawa bahagia.
"Selamat ya, Li! Keren lo! Gak sia-sia gue taruhan. Lo yang gue jagoin dan menang! Hahaha" tawanya penuh kemenangan.
"Eh? Eh?! Gila lo Jo! Lepasin! Kayak gay aja." teriak gue meronta-ronta melepas cengkeraman Jordan.
Jordan bersorak-sorak gembira. Gue memandang langit yang masih terus mendung dan rintik hujan yang tak kunjung reda.
Ya Allah, terimakasih pembuktian terakhir hamba sukses. Alhamdulillah.
******
Gue pulang ke rumah jam 8 pagi, namun bukan berarti semalam suntuk berpesta pora setelah kemenangan yang udah gue raih.
Setelah kumpul bareng anak klub, gue langsung memisahkan diri dari mereka. Gue nginep di rumah Jordan. Gue udah capek buat balik ke rumah. Tenaga gue udah terkuras habis saat pertandingan tadi.
"Tumben rumah Prilly rame banget" pikir gue saat melewati depan rumah Prilly. Banyak orang tumpah ruah di halaman rumah Prilly. Eh, ada polisi juga ternyata.
Semua mata tertuju pada gue seolah mengatakan "Heh motor lo tuh, berisik banget". Orang-orang memandang gue dengan tatapan tak bersahabat, gue jadi gak enak hati.
Mau gimana lagi emang begini suara mesin motor gue, jelas gue dalam hati.
Ah bodo amat. Gue masih ngantuk, pengen buru-buru nyampe rumah dan terlelap di kasur kesayangan gue.
Gue memarkir motor di garasi saat Mama tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan memakai baju dan kerudung hitam.
"Good morning, mamaku sayang" sapa gue riang. "Pengajian dimana Ma? tumben pake item-item kayak mau layatan aja" lanjut gue santai.
Tiba-tiba muka Mama berubah muram, ada kesedihan yang bergelayut di matanya.
"Li, kamu yang sabar ya. Hidup dan matinya seseorang sudah ada yang ngatur."
"Maksud Mama apa? Ali gak ngerti, Ma," jawab gue.
"Tadi pagi sahabatmu Prilly meninggal karena kecelakaan, Li."
JGERR!!
Serasa ada petir yang menghantam genting di atap rumah gue. Gue kehilangan keseimbangan, kaki gue terasa lemas. Gue terduduk lemah di lantai.
"Mama tau kamu sedih, Mama juga merasakan hal yang sama. Prilly sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri." ucap Mama seraya menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir di kedua pipinya.
"Sekarang mendingan kamu buruan mandi gih. Terus ikut takziah ke rumah Prilly."
Gue hanya terdiam. Sepertinya Mama tau betul gue masih shock mendengar berita itu. Sedetik kemudian Mama meninggalkan gue, setelah sebelumnya menepuk pundak gue beberapa kali. Tanggul yang seolah menahan air mata gue serasa jebol, gue menangis dalam diam.
******
Seluruh keluarga Prilly berkumpul dalam tangis. Kesedihan terlihat jelas disana.
"Om, boleh saya melihat jenazah Prilly untuk terakhir kali" pinta gue kepada Om Ridwan.
Om Ridwan yang duduk di samping jenazah Prilly hanya mengangguk lalu ia membuka kain yang menutup muka Prilly.
Nafas gue serasa berhenti seketika, jantung gue berdetak tak beraturan. Gue melihat wajah Prilly tersenyum, seperti sedang tertidur lelap. Air mata gue mengalir deras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate U Love U (aliando prilly)
FanfictionBenci bisa berubah menjadi rasa Cinta yg begitu besar. Ali Argianta Syarief adalah teman masa kecil Prilly Aurora Latuconsina. Awalnya mereka berteman akrab yg tidak mudah untuk dipisahkan. Hingga pada akhirnya salah satu dari mereka memiliki perasa...
