11; echo chamber

419 54 12
                                        

Seperti di rumah sendiri, pagi-pagi Sabina sudah membantu Bunda Nadia yang tengah menyiapkan sarapan di dapur—dibantu juga dengan mbok Ipah. Karena Sabina sedang menginap di rumah, jadi wanita paruh baya itu memutuskan untuk membuat sup bola-bola udang kesukaan Sabina yang disambut Sabina dengan suka cita saat mengetahui menu sarapan hari ini.

Aroma dari kaldu kuah yang sedang Sabina aduk pelan benar-benar menggugah seleranya, padahal Sabina sebenarnya bukan tipe orang yang suka makanan berat untuk sarapan. Biasanya ia hanya akan membuat avocado toast, atau scrambled egg untuk mengisi perutnya di pagi hari. Tapi hari ini adalah pengecualian. Siapa yang bisa menolak sup bola-bola udang dengan seaweed buatan Bunda Nadia?

"Mama kamu sering protes ke Bunda tau, Sab. Katanya kamu sebenernya tuh bisa masak terus masakkan kamu enak, tapi males-malesan kalo disuruh." Tawa Sabina pecah mendengar curhatan Mamanya pada Bunda Nadia, karena memang benar. Sabina sebenarnya pandai memasak, tapi tidak memiliki hobi memasak. Ia hanya akan memasak sesuai dengan keinginan hatinya. "Mas Ugi tapi sering kamu masakkin tuh, Bunda belum pernah nyoba masakan kamu deh."

"Ih, Bunda juga sering kan. Aku kan kalo baking selalu nyuruh Mas Ugi bawa pulang ke rumah juga." Sabina membela diri.

"Itu baking, beda dong sama masak. Kalo baking gitu kan emang hobi kamu."

Sabina menyengir, menyadari baking dan memasak memang dua hal yang berbeda. "Iya sih ya, aku emang lebih suka baking. Soalnya aku suka banget wangi kue gitu. Oke deh, kapan-kapan aku bakal masakkin Bunda."

Melihat ekspresi menggemaskan Sabina, Bunda Nadia yang tengah memasukkan kembali beberapa bahan makanan ke dalam kulkas dua pintu itu menghentikan gerakannya untuk mencubit ujung dagu Sabina. Kebiasaan yang ia lakukan ketika sedang gemas dengan gadis itu sejak Sabina kecil.

"Lagian Mas Ugi mah emang selalu jadi objek percobaan aku, nda. Kalo mau nyoba resep tiktok gitu pasti Mas Ugi yang ngabisin, soalnya aku cuma penasaran aja pengen nyoba buatnya." Lanjut Sabina sambil meraih mangkuk kaca besar yang tadi sudah disiapkan di atas kitchen counter, lalu mendekatkannya ke samping kompor.

"Ndak papa, cekokkin aja Mas Ugi kamu, Sab. Kalo ndak gitu, ndak mangan-mangan dia. Wong kok susah men disuruh makan." Mbok Ipah yang memang sudah bekerja lama di rumah Bunda Nadia menimbrung obrolan mereka, membuat tawa Sabina dan Bunda Nadia pecah.

"Emang anak aku itu beda deh, mbok. Heran banget, susah kalo disuruh makan nasi. Tapi kalo nyemil gitu kuat banget. Makanya aku suka minta tolong banyakkin kentang kalo masak sop, biar dia kalo makan nggak pake nasi suruh ambil kentangnya yang banyak."

Yang menjadi objek perbincangan tahu-tahu muncul di dapur dengan kondisi yang kentara sekali menunjukkan bahwa cowok itu baru bangun dari tidurnya. Baju yang kusut—dengan bagian pada lengan terlipat ke atas, dan hanya mengenakkan boxer pendek di atas lutut. Belum lagi rambutnya terlihat acak-acakkan.

"Masak apa sih? Wangi banget?" tanya Ugi sembari mendekat ke arah Sabina, lalu saat berada di belakang gadis itu Ugi memajukan badan untuk melihat isi dari panci yang berada di hadapan Sabina. Membuat dadanya menempel dengan punggung Sabina. "Wih, kesukaan Sabina ini mah."

"Sana mandi dulu, Mas. Ntar sarapan bareng."

"Aku udah cuci muka sama gosok gigi doang tadi. Ntar deh mandinya, Ma. Sarapan dulu aja."

Mamanya menggeleng kecil, walaupun sebenarnya sudah bisa menebak jawaban Ugi. Karena memang cowok itu lebih suka mandi sehabis sarapan, katanya biar sekalian gosok gigi lagi dan keluar rumah dalam keadaan sangat fresh.

Sabina memutar badan, berbalik menghadap Ugi. Kemudian gadis itu sedikit berjinjit untuk menyisirkan tangan di sela-sela rambut Ugi—merapikan beberapa helai rambutnya yang terlihat mencuat ke atas. Ugi menunduk untuk memudahkan Sabina, lalu membalas perhatian kecil Sabina dengan memberi usapan singkat di punggung gadis yang masih mendongak ke arahnya itu.

Light Your Way HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang