"Mas Ugi kemarin waktu keterima SNBT juga ngechat kating di contact person yang di akun instagram hima jurusan terus ngasih bukti lulus?"
Pertanyaan Sabina membuat Ugi yang tadi hendak menyeruput kuah ramennya berhenti. Tangannya yang masih memegang sendok menggantung di udara. Ugi mengangguk singkat. Dan Sabina juga membalas dengan anggukan tipis, membiarkan Ugi menyelesaikan makannya.
Sabina sendiri sudah menghabiskan porsinya sejak tadi, dan ia selesai duluan bukan karena Ugi makan dengan lelet. Tapi karena tadi cowok itu menambah porsi ramennya. Membuat Sabina berdecak begitu tahu cowok itu ternyata kelaparan, soalnya tadi saat ditawari makan oleh Mamanya waktu mereka masih berada di rumah, Ugi menolak.
"Aku juga gitu kok, terus dimasukkin ke grup jurusan. Abis itu dikasih link masuk grup maba angkatan. Kamu udah masuk grup maba angkatannya?" Ugi menggeser mangkuk yang sudah kosong dari hadapannya ke pinggir, dan meraih tisu untuk mengelap meja yang sedikit terkena percikkan kuah ramen sebelum meletakan kedua tangannya di atas meja.
"Udah dong, semua info kan nanti dishare di situ."
Ugi memberi anggukan, membenarkan ucapan Sabina. "Iya, pantengin terus grup angkatan. Soalnya nanti bakal diinfoin kapan daful, pemberkasan untuk verifikasi gitu. Soalnya kalo Mas Ugi kemarin sih, proses berkasnya cukup lama soalnya kan banyak. Terus tiap berkas itu dikasih tenggang waktu beberapa hari, nggak sehari itu selesai semua prosesnya. Tapi nggak tahu kalo kampus kamu prosesnya gimana. Jadi kalo kamu bingung, tanya temen-temen di grup. Atau kalo mau jelas ya langsung tanya ke katingnya sekalian."
"Aku ada satu temen yang sering aku tanyain, anaknya responsif banget. Dia juga aktif di grup, terus dia baik banget! Apa-apa langsung infoin aku duluan kalo misal aku belum cek grup. Dia satu jurusan sama aku, sastra inggris juga. Mudah-mudahan nanti pas PPKMB satu kelompok sama dia."
Sabina mengangkat ponselnya tepat di depan wajah Ugi, layarnya menunjukkan foto profil seorang gadis berambut panjang dengan poni sedang tersenyum sambil menopang dagu. Latarnya sepertinya gadis itu tengah berada di sebuah coffee shop.
"Eira namanya. Lucu ya dia, kayak kucing." Sabina terkekeh sendiri di ujung kalimatnya. Membuatnya mendapat tatapan malas dari Ugi. Bukan sekali-dua kali ini Sabina mengeluarkan celetukkan randomnya yang menyamakan seseorang dengan sesuatu. Dan ya, kali ini kucing.
"Kalo kamu gimana? Aktif nggak di grup?" Ugi mengembalikan topik obrolan mereka.
Sabina bergumam panjang sambil bertopang dagu, jari telunjuknya mengetuk pipinya pelan. Menimbang-nimbang jawaban. "Berusaha aktif aja sih, Mas. Tapi aku ala kadarnya aja gitu nanggepinnya. Kalo nanya aku lebih suka personal chat ke Eira tadi. Soalnya, hmmm...." Lagi-lagi Sabina bergumam panjang, bingung bagimana cara menyampaikan ini agar tidak terdengar terlalu percaya diri. "Soalnya biasanya kalo aku muncul di grup yang bales bisa sampe tujuh orang. Aku jadi kayak overwhelmed gitu kalo bales satu-satu. Tapi kalo aku nggak muncul di grup aku nggak mau kesan mereka ke aku jadi jelek, dan jadi males duluan sama aku. Terus beberapa ada yang personal chat aku, jadi kayak energiku terkuras habis kalo chattingan dalam jangka waktu panjang sama orang yang belum terlalu aku kenal."
Ugi terkekeh mendengar cuhat colongan Sabina, cowok itu membenarkan poni Sabina yang cukup berantakan karena tadi cewek itu meniup poninya ke atas di ujung ceritanya. "Kalo chatnya masih sopan tanggepin seadanya waktu kamu aja. Kan bisa aja salah satu dari mereka jadi kelompok PPKMB kamu nanti. Jadi nggak awkward pas hari pertama, karena udah ada yang dikenal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Light Your Way Home
RomanceUgi dan Sabina bagaikan dua bagian dari satu jiwa. Mereka berbagi dunia yang di mana hanya mereka yang mengerti tentang apa yang ada di dalamnya. Namun apa yang mereka miliki adalah paradoks. Semakin mereka mengambil langkah untuk mendekat pada sat...
