10; dawn of the sun

420 58 10
                                        

Pernah dengar bahwa mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya itu unik-unik? Sabina kira itu hanya sekedar dongeng sampai saat dirinya menjadi bagian dari mereka. Tidak dipungkiri saat awal-awal masa kuliah ia sempat mengalami culture shock dengan bagaimana penampilan kakak-kakak tingkatnya yang sangat nyentrik itu.

Tapi itu tidak lama, karena Sabina justru merasa sangat senang berada di lingkungan orang-orang unik ini. Pemandangan gadis berhijab lebar dan di sebelahnya terdapat temannya yang berambut merah muda dengan style yang sangat kontras adalah hal biasa.

Banyak manusia-manusia unik di sini yang Sabina temui. Dari cross-dresser, cosplayer, atau seperti saat ini—Sabina melewati seorang cowok dengan rambut pirang sebahu yang berpenampilan seolah-olah ia adalah rockstar dari tahun 70an dengan kaosnya yang kekecilan dan celana cutbray tengah berdiskusi dengan temannya dan terdengar cukup filosofis.

Sabina sendiri memilih tema berkain untuk outfitnya hari ini. Tubuhnya yang dilapisi dengan outer linen berwarna putih dibiarkan terbuka—memperlihatkan tanktop berwarna senada, dipadu dengan kain berwarna hijau moss bermotif bunga yang ia lilit dengan gaya modern membentuk siluet ramping pada tubuhnya. Rambut panjangnya ia jepit setengah dengan jepitan berbentuk bunga kamboja. Adidas samba yang melapisi kakinya melengkapi penampilan Sabina hari ini.

"Kurt Cobain tuh mati umur dua puluh tujuh, mungkin karena dia ngerti kalo hidup itu kayak lagu grunge—kalo dipanjang-panjangin tuh endingnya cuma noise tanpa arti. Tapi salah satu goals gue sih bisa ngelewatin umur dua puluh tujuh ya, soalnya hidup lebih lama dari Kurt Cobain tuh pencapaian juga njing! Walaupun nggak jadi rockstar, ya seenggaknya gue hidup lebih lama dari dia. Masih bisa makan indomie pake telor ceplok yang pinggirnya garing terus ditabur bawang goreng. Jangan tanya cabenya mana, karena gue nggak suka pedes." Sabina menahan senyum saat tidak sengaja mendengar celotehan cowok itu.

"Eh, si Saby senyum. Sini gabung, By."

Sabina cukup kaget karena perhatian segerombolan kakak tingkat itu beralih padanya, sebetulnya Sabina tidak kenal dekat dengan mereka. Tapi karena cowok tadi memanggilnya Saby, mungkin kontennya pernah lewat beranda cowok itu. Hah! Sabina merasa cukup malu sekarang.

Sabina membalas dengan mengangguk kecil disertai senyum kecil. "Makasih Kak, tapi aku mau nyamperin temen soalnya udah nungguin. Mari, Kak."

Sabina berjalan melewati mural-mural yang berisi kutipan sastra, juga beberapa ilustrasi lain, bahkan juga terdapat beberapa tokoh anime. Tujuannya adalah taman—tempat di mana Keysha dan Eira berada sekarang. Melewati beberapa orang yang tengah berkumpul, sepertinya sedang ada kegiatan membaca tarot—sekali lagi ini adalah hal biasa—Sabina akhirnya menemukan Keysha duduk seorang diri di bawah pohon trembesi.

"Lama banget ih!" gerutu Keysha saat Sabina ikut duduk di sebelahnya.

"Sorry, tadi ada diskusi kelompok bentar." Sabina melihat ke kanan-kiri, mencari keberadaan Eira karena tadi Keysha bilang Eira juga sedang bersamanya. "Eh, Eira mana?"

Keysha mendengus. "Udah pergi duluan, ada urusan sama anak theater-nya."

Sabina melirik ke arah ponsel Keysha, karena gerakan tangan gadis itu yang sedari tadi sibuk menggeser layar ke arah kanan menarik perhatiannya. Lalu pupil matanya melebar saat menyadari apa yang tengah Keysha lakukan. "Kamu main bumble?"

"Kayaknya gue kesepian deh, Sab." Melihat reaksi Sabina yang spontan menatapnya dengan perasaan bersalah, Keysha buru-buru melanjutkan kalimat. "Tapi sebelum lo nyalahin diri sendiri karena ngerasa nggak cukup ada buat gue, itu bukan soal kita dan pertemanan ini ya. Lo sama Eira selalu ngebantu gue kok setiap gue butuh. Tapi gue kesepian bukan soal itu. Gue tuh kayak ngerasa butuh emotional support dari seseorang yang penting buat gue romantically gitu. Pengen punya pacar deh, Sab."

Light Your Way HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang