Shift malam Ugi akhirnya selesai. Malam ini cukup ramai, mungkin karena sudah mendekati akhir pekan, jadi kebanyakan dari mereka ingin memanfaatkan waktu ini untuk bercengkrama dengan teman-teman dan sejenak istirahat dari hari-hari yang melelahkan. Namun, semakin ramai justru semakin melelahkan untuk Ugi.
Setelah tadi harus mondar-mandir melayani pelanggan, mengantar minuman, dan banyak lagi yang dilakukannya. Hingga kini meski tanda di depan pintu sudah dibalik—memperlihatkan tulisan closed, ruangan bagian dalam masih terlihat terang. Ugi bertugas membersihkan lantai, sementara Ratta sedang membersihkan coffee bar, dan Faye berada di bagian belakang.
"Lo bentar lagi mau mulai semester baru, Gi?"
Pertanyaan Ratta membuat kegiatan Ugi yang sedang merapihkan kursi berhenti sejenak. "Iya, bentar lagi udah mau masuk kuliah."
"Lanjut lo berarti?"
"Lanjut lah, kenapa emangnya?"
"Enggak. Biasanya kalo anak kuliahan udah kenal duit, udah bisa dapet penghasilan sendiri jadi males lanjut. Mana tau 'kan lo keenakan kerja jadi males lanjut."
Ugi terkekeh sembari menyibak rambutnya ke belakang. "Enggak lah, aman aja kalo gue. Sebenernya emang sayang sih mau gue lepas, tapi kerok gue kalo sambil kuliah. Udah mulai kuliah lapangan sama banyak laprak."
"Kuliah pertambangan gitu ngapain dah?"
"Liat-liat alat berat doang sih, seru lah."
"Ye, tai!"
Tawa Ugi pecah melihat Ratta yang mengumpat kesal padanya, merasa dongkol dengan jawaban tidak serius Ugi. Kalimat Ugi yang akan membalas umpatan Ratta tertahan oleh nada dering dari ponselnya.
Dengan cepat Ugi merogoh kantung celana untuk meraih ponsel, dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Mamanya, tanpa tedeng aling-aling Ugi menjawab panggilan tersebut. "Halo, Ma."
"Mas Ugi udah selesai shiftnya?" tanya Mamanya dari seberang panggilan.
"Udah nih, lagi beres-beres. Nanti Ugi langsung pulang."
"Mama sama Papa lagi deket House of Twenties nih. Bosen di rumah, tadi muter-muter. Terus pengen bakso, kita ngebakso yuk, Mas!"
"Bakso mana, Ma?"
"Nanti Mama share location ke kamu, nanti kamu nyusul ya."
"Oke siap, ini Ugi bentar lagi selesai."
"Okay, hati-hati ya nanti bawa motornya. Jangan ngebut, Mas." Mamanya berpesan sebelum mengakhiri panggilan.
Tidak ingin membuat Mama dan Papanya menunggu lama, Ugi segera menyelesaikan tugasnya. Bahkan ikut membantu Faye membersihkan bagian belakang agar mereka bisa segera pulang. Dan akhirnya selesai semua, lampu-lampu sudah dipadamkan. Faye kini mengunci pintu depan, Ugi sendiri sudah duduk di sepeda motornya.
Sembari menunggu Faye untuk segera naik ke atas boncengan Ratta, Ugi memperhatikan layar ponselnya dan mengamati beberapa titik di alamat yang Mamanya baru saja bagikan. Mengangguk paham saat sudah mengerti jalur yang harus ia lewati, Ugi kembali memasukkan ponsel ke dalam kantung celana. Saat memastikan teman-temannya sudah siap, Ugi menurunkan kaca helm dan membunyikan klakson sebagai tanda berpamitan.
"Hati-hati, Gi!" balas Faye setengah berteriak saat Ugi menarik gas dan melewati mereka, sedangkan Ratta membalas klaksonnya.
Jalan yang cukup padat membuat Ugi menurunkan kecepatan. Untung saja ia tengah menggunakan kendaraan roda dua jadi membuatnya cukup gesit untuk memanfaatkan celah-celah di antara mobil yang padat merayap, namun tetap memperkirakan jarak. Hingga akhirnya lampu jalan yang berubah menjadi berwarna merah menghentikannya sejenak. Hoodie yang mendekap tubuhnya tidak mampu menyelamatkan Ugi dari angin malam. Tapi Ugi tidak masalah, ia suka dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Light Your Way Home
RomanceUgi dan Sabina bagaikan dua bagian dari satu jiwa. Mereka berbagi dunia yang di mana hanya mereka yang mengerti tentang apa yang ada di dalamnya. Namun apa yang mereka miliki adalah paradoks. Semakin mereka mengambil langkah untuk mendekat pada sat...
