20. Terima Kasih

1.6K 90 13
                                        

[POV ALDO]

Jam menunjukkan pukul 1:30 pagi saat mobil yang gua setirin akhirnya berhenti di depan kostan. Gua tersenyum lelah sambil mematika mesin, sementara yang lain langsung buru-buru keluar, dan meregangkan badan.

“Gila... akhirnya sampai juga,” Vian menguap lebar.

“Anjir, punggung gua pegel banget, bangsat. Serasa duduk di batu purba anjir,” Ucap Ollan sambil mengelus punggungnya.

“Ya salah sendiri nyetir sambil duduk miring kayak mau ngedrift,” Timpal Onel sambil tertawa.

Gua pun turun dari mobil, saat gua turun, pandangan gua langsung mencari satu orang—Gita. Dia lagi berdiri di samping mobil, sambil meregangkan badan dan sambil menahan rasa kantuknya. Gua pun berjalan mendekati Gita, Gua langsung melepas jaket yang gua pakai dan menaruh ke pundaknya.

“Masih kuat jalan ga?”

Gita melirik gua, lalu tersenyum tipis. “Kalo enggak kuat kenapa, mau gendongin?”

Gua tertawa kecil. “Gendong ke pelaminan juga mau.”

Dia hanya tersenyum, matanya sudah setengah terpejam.

Sementara itu, yang lain masih ribut dengan koper dan tas masing-masing. Ada yang mengeluh berat, ada yang protes kenapa barangnya bisa nyasar ke mobil lain. Dan lainnya.

“WOI, tas gue mana?!” suara Marsha menggema di halaman.

“Eh, bukan ini?” Zean mengangkat tas besar berwarna hitam.

Marsha mengecek tas yang di bawa Zean. “INI KAN TAS BAJUNYA INDIRA!!”

Indira yang sedang mencari tas nya di kursi depan mobil kedua langsung berbicara. “Hah? Terus ini tas siapa kak? ”

Christy tiba-tiba tertawa, sambil menunjuk tas yang sedang dipegang. “Berarti tas yang dipegang Indira tasnya kak Marsha”

Semua seketika diam sebentar. Lalu tawa pecah langsung terdengar.

“Lah anjir, gimana sih!?” Ollan tertawa keras hingga menunduk.

Marsha hanya bisa manyun. “Gue ngantuk, oke? Otak gue delay.”

Setelah drama tas selesai, kami akhirnya masuk ke dalam kostan. Begitu pintu kostan terbuka, aroma khas kostan langsung menyambut—campuran antara wangi kopi basi, semprotan pengharum ruangan, dan entah apa lagi.

“Ah, akhirnyaaa,” Chika segera melepas sepatu, menjatuhkan diri ke sofa, lalu rebahan tanpa dosa.

Vian tersenyum, lalu berdiri di sampingnya. “Mau digotong ke kamar?”

Chika tersenyum, tapi tetap nggak bangun. “Terserah kamu mas.” Goda Chika.

Vian akhirnya membopong Chika, sementara gua dan Gita hanya bisa senyum-senyum melihat tingkah mereka.

Sambil meelepas sepatu, gua melihat yang lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Ollan dan Onel yang sedang membereskan makanan yang masih tersisa, Zean meluruskan kakinya di lantai sambil menguap layaknya kuda nil, sementara Marsha, Indira, dan Christy sudah duduk melingkar di karpet, mulai bercerita ringan soal perjalanan tadi.

••••

Kami semua akhirnya berkumpul di lantai satu. Sebagian sudah ber selonjoran di lantai, sebagian lagi bersandar di sofa. Malam ini memang panjang, tapi gak ada satupun yang mau langsung tidur.

“Eh, inget gak tadi di rest area? Pas ada bapak-bapak yang ketiduran di meja terus kita kira dia...,” Ollan tertawa sebelum selesai dengan ucapannya.

Cinta Di Balik Kost-an Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang