"Mampus!".
Syarla membekap mulutnya sendiri refleks kala melihat dua lelaki yang menghampiri Nabila saat ini, ia tak kenal dengan dua orang itu, namun seingatnya salah satu dari mereka adalah polisi yang tempo hari lalu menilang motor pink milik Anggis, gadis itu refleks menendang kaki Anggis, membuat Anggis sama terkejutnya kala melihat Polisi muda yang pernah menilang si Pinky miliknya.
"Dia se circle sama Nabila, aduh, mana si Pinky masih di tahan lagi gara gara si Mia". lirih Anggis, jantungnya berdebar, berharap saja orang yang ia dan Syarla lihat hanya sekedar mirip dengan Polisi yang menilangnya.
Merasakan keanehan dari dua teman barunya Nabila menoleh, sebelumnya ia melambaikan tangannya pada Rony dan Paul yang kini sudah berada disana, gadis itu kemudian memusatkan perhatiannya kala melihat tingkah grasak grusuk Anggis dan Syarla yang saling dorong dan menyembunyikan tubuh saru sama lain.
"Kalian kenapa?". tanya Nabila heran.
"Lu kenal sama bule jangkung itu?". Nabila mengangguk kala jari telunjuk milik Anggis menunjuk Paul yang berjalan kerahnya, "Dia polisi?". tanya Anggis kembali, lagi lagi anggukan di berikan Nabila, membuat kedua gadis itu menjadi lebih pucat dan pasi saat ini, "Mampus beneran ini mah Syar!". Nabila meringis mendengar nada lirih penuh kepasrahan itu, ada apa dengan keduannya.
"Emang kenapa?". tanya Nabila penasaran, ia heran melihat dua gadis yang tadi berteman dan menolongnya itu malah berujar pasrah dan terlihat penuh keputus asaan saat ini, "Dia yang kemarin tugas di laka lantas, kita berdua di tilang sama dia gara gara cenglu di lampu merah". jelas Anggis, tubuhnya pasrah, Syarla kali ini lebih banyak diam, tenaganta sudah terserap sedari tadi.
"Cenglu?". heran Nabila.
"Ya bonceng tilu, kalo bahasa indonesia yang baik dan benarnya gonceng tiga!". jelas Anggis.
"Ha". memasang wajah tak percaya, Nabila menatap kedua gadis itu, "Terus motornya kemana?". kepo Nabila.
"Udah di balikin, tapi di tahan lagi gara gara si Mia balap liar pake si Pinky punya Anggis". ucap Syarla, kali ini ia menghela nafas berat, sedikit merileksan tubuhnya.
"Mia temen kita yang bawa motor waktu kita cenglu di lampu merah, tapi udah pindah circle gara gara balapan kemarin bawa si Pinky sampe di tahan sampe sekarang". Anggis menghela nafas sedih, ia merindukan motor Pinky miliknya.
Nabila mengangguk saja, agak tidak mengerti kemana arah pemikiran mereka berdua, namun garis besar yang ia tangkap, si Pinky di tahan karena penghianatan si Mia teman mereka yang membawa motor Pink milik Anggis itu hingga tertahan di polsek terdekat.
"Nab".
Mendengar suara yang ia kenali Nabila kembali mengalihkan pandangannya pada dua lelaki yang kini berada di hadapannya, "Kamu ga papa?". tanya Rony, matanya menelisik gadis itu memastikan bahwa ia aman aman saja.
Nabila mengangguk, ia tersenyum tipis, melihat wajah khawatir dari Paul dan Rony yang kini berada di hadapannya, "Saya khawatir liat tetangga sebelah bilang kamu gak ada, dia bilang pagi pagi waktu mau minjem setrikaan kostan kamu udah kosong, kamu gak papa?". tanya Paul kalem, ia juga terlihat khawatir sama seperti Rony yang kini sibuk membolak balikan tubuhnya.
Syarla menendang kecil kaki Anggis, lalu menunjuk Paul dengan dagunya sembari berbisik, "Idih kaku banget". bisiknya.
"Nab baik baik baik aja, tadi pagi Nab di culik di pangkalan ojek persimpangan jalan, Nab gak inget apapun, tau tau ada di mobil sama tiga pria gede gede, untungnya Nab pas lampu merah jalan gue bisa lepasin diri sampe nyasar dan terus di kejar sampe sini".
