9

234 31 10
                                        

Nabila berlari, matanya menatap awas kebelakang, ia panik, 3 orang berbadan besar tiba tiba mengejarnya, bahkan ia hampir tertangkap jika saja kaki mungilnya tidak berlari dengan sangat kencang, ingin berteriak namun takut tiga orang yang mengejarnya tau dimana keberadaan nya saat ini, ia hampir putus asa, air mata hampir tumpah di pelupuk matanya, ia ketakutan.

"T-tolong". Lirih Nabila, ia tak bisa berteriak lebih kencang, ia hanya bisa meminta tolong dengan nada lirih, sembari kedua matanya melihat kearah belakang dan sekitar, khawatir tiga orang tadi berhasil menjangkaunya



****




"Geser geh Nggis, badan lu makan tempat!". gadis yang lebih kecil itu mendengus, ia menatap tajam sahabatnya yang hanya menatap polos dirinya.

"Kayaknya badan kamu deh yang kekecilan, Syar". dengan polos lawan si gadis berucap, wajahnya yang mengerjap beberapa kali seolah tak tau apapun itu sukses membuat orang yang di panggil Syar, atau kita panggil saja Syarla, kesal.

"Ini bangku luas, geseran, gue mau selfi sendiri". Syarla menggeletukan giginya kesal, salah apa ia bisa berteman dengan makhluk seperti Anggis.

Mendengar itu Anggis mengangguk, ia menggeser beberapa senti, memperhatikan Syarla yang kini tengah memajukan ponselnya untuk berselfi ria, kepala Anggis menoleh lebih dekat, membuatnya tanpa sengaja ikut terfoto bersama Syarla.

"Anggissss!!!!!". kesal Syarla.


Merasa tak bersalah Anggis menggeleng, ia menjauh lebih jauh berpura pura tak mendengarkan grutuan Syarla yang masih kesal padanya.

"To-tolong". lirih, Anggis menoleh, ia tak memperhatikan lagi Syarla yang sibuk mengoceh disebelahnya, sebuah suara lirih tadi menganggu pendengarannya, ia mengedarkan pandangannya menatap kearah belakang, menghiraukan Syarla yang makin kesal karena tingkahnya.

"Anggis!, lu dengerin gue gak sih!". kesal Syarla, matanya sudah melotot emosi, ah, ia tau mengapa tubuhnya tak bisa jauh lebih tinggi dari Anggis, karena otak kecilnya selalu mendidih dan membuatnya terus menyusut hingga tak bertambah tinggi :).

Anggis menoleh, kali ini matanya berbinar serius, Syarla yang melihat itu mengkerutkan keningnya, ada apa dengan gadis itu, "Lu kenapa sih, jangan bikin parno, sepi nih".

"Lu kalo kerasukan bilang dulu, gue mau manggil pak ustad biar persiapan!". seru Syarla, matanya berbinar panik, takut sahabatnya itu benar benar akan kesurupan.



"Tolong".



Di tengah kepanikan, Syarla terdiam, matanya menatap Anggis yang mengangguk, "Ada yang minta tolong?". tanya Syarla.

Tiba tiba di tengah kerumunan rumput ilalang yang tinggi, seorang gadis berlari dengan panik, wajahnya berkeringat dingin, Anggis yang menyadari lebih dahulu dengan segera menahan gadis itu, membuat Syarla sadar dan ikut membantu Anggis.

"Lu kenapa?". gatal dengan mulutnya yang selalu penasaran, Syarla bertanya, ia memperhatikan gadis yang terlihat panik itu.

"Saya dikejar seseorang, ah gak tiga orang!, saya dikejar tiga orang, saya mau di culik, tolong saya". dengan bergetar Nabila memperhatikan kedua orang yang menahannya, ia sesekali matanya melirik kebelakang takut ketahuan.

Melihat gerak gerik Nabila yang sepertinya belum aman, Syarla berdiri, ia melepas blezer yang ia gunakan, "Nggis buka sepatu lu, tuker sama sandal punya dia!". Memberi perintah Syarla langsung saja menyuruh Anggis untuk menukar sepatu miliknya dengan gadis itu, mereka sedang terkejar waktu saat ini.

"Nama lu siapa?". tanya Syarla matanya masih menilik memperhatikan Anggis yang berusaha membuka sepatunya untuk di tukar dengan sendal milik gadis itu.

Raksa Frasa.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang